Sapto Hoedojo

Nama :
Saptohoedojo
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah
6 Februari 1925
 
Pendidikan :
Academy of Art, London, Inggris (1950),
Slade School of Art, London, Inggris (1952-1953),
Massachusetts School of Art, Boston, Amerika Serikat (1956-1957)
 
Profesi :
Seniman Seni Rupa
 
Prestasi :
Hadiah Pertama pada Commercial Art (1938),
Hadiah Pertama pada Lomba Lukis Antar Sekolah di Solo (1943),
Hadiah Pertama pada M.A.H.A Exhibition di Kuala Lumpur (1947),
Penghargaan Seni Tertinggi Dalam Seni Dari Malaysia Agri Holticultural Association (1950),
Mendapat Beasiswa dari pemerintah RI untuk belajar di Slade School of Art, London (1952),
Mendapat Beasiswa dari C.I.A Foundation on Researches di Massachusetts School of Art, Boston (1955),
Penghargaan dari Academi Diplomatique De La Plaix PAX Mundi untuk seni dan budaya (1982),
Academician of Merit (1987)
Penghargaan UPAKARTI dari pemerintah RI (1988)
 


Sapto Hoedojo
 
 
 
 
Dr. Hc. R.M. Saptohoedojo, FRSA adalah seorang seniman serba bisa yang unik dan sarat pula dengan pengalaman serta perhatian. Dilahirkan di Solo pada 6 Februari 1925. Meski dilahirkan dari kalangan ningrat, namun masa mudanya dilalui dengan pengalaman yang pahit, ngeri menjengkelkan tetapi kadang-kadang mempesona. Berbagai pengalaman yang dikunyahnya di Singapura-lah yang membuatnya menjadi sangat kreatif, sangat peduli kepada kemanusiaan, tanggap kepada lingkungan serta tanggap terhadap segala cabang seni rupa.
 

Ia mulai menjejakkan kakinya dengan mantap di bidang seni rupa. Ketika berada di Singapura dari seorang pemuda memelas yang tidur dikolong langit, mendadak berubah menjadi seorang pemuda yang bergelimang dengan uang. Lebih-lebih setelah ia berhasil menggelar karya-karya lukisannya di Malaysia pada tahun 1948.  Walaupun telah sukses, ia masih ingin meningkatkan pengetahuannya dalam bidang seni lukis, seni patung dan desain. Beberapa saat ia menimba pengetahuan seni di Amsterdam dan kemudian, pada awal tahun 1950, ia tekun belajar di Academy of Art di London, Inggris. Setelah merasa cukup, ia pulang ke tanah air dan menjadi dosen di ASRI Yogyakarta.
 
Namun, profesi sebagai dosen dirasanya sangat menghambat gelora bathinnya yang selalu ingin berkreasi. Maka ia memutuskan menjadi seniman bebas. Kebebasan memberi peluang baginya untuk lebih memantapkan prestasinya di bidang seni rupa. Seni lukis, patung, desain, kolase, batik, kriya seni semua dijelajahinya dan semua menghasilkan karya yang luar biasa. Bahkan barang-barang bekas seperti rel kereta api, daun kelapa kering, rongsokan kursi, roda gerobak setelah disentuh dengan tangan-tangannya bisa menjadi benda-benda seni yang elok.

 

Potret Yani I
Lukisan Diatas Kanvas 75 X 60 cm

 
Bersama dengan istrinya, ia berhasil membina tidak kurang dari 700 pengrajin batik yang tersebar di Yogya, Sragen, Solo, Delanggu, Kartosuro dan Pekalongan. Juga pengrajin gerabah di Kasongan, Yogyakarta banyak yang mendapat sentuhan tangannya. Maka tak mengherankan pada tahun 1988, ia menerima Upakarti dari Presiden Soeharto. Salah satu penghargaan dari mancanegara yang bergengsi adalah penganugerahan sebagai Academician of Merit pada tahun 1987.
 
 
(Katalog Pameran Lukisan Saptohoedojo)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *