Seno Gumira Ajidarma


Nama :
Seno Gumira AjidarmaLahir :
Boston, Amerika Serikat,
19 Juni 1958Pendidikan :
IKJ jurusan Sinematografi
(1980-1994),
Pascasarjana Filsafat Universitas IndonesiaProfesi :
Wartawan,
Fotografer,
Penulis,
Pemred Majalah
Jakarta-Jakarta,
Pengajar  Institut Kesenian JakartaPenghargaan :
Cerpen Pelajaran Mengarang terpilih menjadi Cerpen Terbaik Kompas 1993,
SEA Write Award (1997),
Cerpen Saksi Mata Mendapat Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997),
Cerpen Cinta Di atas Perahu Cadik terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas 2007
Achmad Bakrie Award bidang kesusatraan (2012, ditolak)
 
Karya :
Saksi Mata (1987),
Pelajaran Mengarang (1993),
Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994),
 Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995),
Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996),
Iblis Tidak Pernah Mati (1999),
Kalathida (novel, 2007),
Linguage
(kumpulan cerpen, 2007),
Sukab vs Ninja Burik
(comic strip di majalah Sequen bersama Asnar Zacky, 2007),
Nagabumi
 (cerita silat di harian Suara Merdeka Semarang, 2007 s/d sekarang)
Saksi Mata
(kumpulan cerpen),
Kitab Omong Kosong (kumpulan cerpen)


Seno Gumira Ajidarma
 
Sastrawan yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,” ujar Seno.
 
Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib koor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,”kenang Seno. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman.
 
Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah. Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong,” Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.” Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut Teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,”kata Seno.
 
Tertarik puisi-puisi Mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison dan tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,”kata Seno bangga. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,”ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya.
 
Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,”ujar Seno disusul tawa terkekeh. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000).
 
Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni ketika dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir, si sopir disuruhnya tidur.
 
Terpilih untuk mendapatkan Achmad Bakrie Award 2012 bidang kesusastraan oleh Freedom Institute, namun ia tolak.
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *