Sentot Sudiharto

Nama :
Arcadius Sentot Sudiharto
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
3 Januari 1945
 
Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1965-1968)
 
Profesi :
PNS Departemen Pendidikan Nasional,
Pengajar tari Institut Kesenian Jakarta,
Pengelola paguyuban tari Padnecwara
 
Pencapaian :
Gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro oleh Paku Buwono XII atas pengabdiannya di bidang seni tari
 
Filmografi :
Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966),
Api di Bukit Menoreh (1971),
Matinja Seorang Bidadari (1971),
Mutiara Dalam Lumpur (1972),
Si Doel Anak Betawi (1973),
Laila Majnun (1975),
Gersang Tapi Damai (1977),
Binalnya Anak Muda (1978),
November 1828 (1978),
Bila Si Kernbar Bercinta (1978),
Anak-anak Buangan (1979),
Perempuan Dalam Pasungan (1980),
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)

Koreografer Tari
Sentot Sudiharto
 
 
 
Bernama lahir Arcadius Sentot Sudiharto. Lahir di Solo, Jawa Tengah, 3 Januari 1945. Setelah lulus sekolah menengah atas, ia melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1965-1968). Koreografer tari yang pernah menjadi penari terbaik serta kerap mengikuti misi kesenian Indonesia ke Afrika, Taiwan, Bangkok, Osaka, Italia dan Denmark ini mulai belajar tari Jawa sejak umur 6 tahun.
 

kebolehannya menari ini menarik perhatian Sutradara Misbach Jusa Biran untuk menampilkannya di layar putih lewat film ‘Dibalik Tjahaja Gemerlapan’ (1966). Selanjutnya bermain sebagai pemain walau hanya peran pembantu dalam film ‘Api di Bukit Menoreh’ (1971), ‘Mutiara Dalam Lumpur’ (1972), ‘Bila Si Kembar Bercinta’ (1978) dll. Ia juga kerap di minta menjadi penata tari seperti dalam film ‘Matinja Seorang Bidadari’ (1971), ‘Si Doel Anak Betawi’ (1973), serta ‘Laila Majnun’ (1975). Sedangkan peran utama baru di dapatnya dalam film ‘Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari’ (1981).
 
Kini selain bergabung dalam kegiatan tari Jawa dan Indonesia lainnya, Pegawai Dit. Pembinaan Kesenian Departemen Pendidikan Nasional dan pengajar di Institut Kesenian Jakarta ini juga menekuni bidang teknik pertunjukan sehingga banyak menangani pertunjukan kolosal. Atas pengabdiannya di bidang seni tari, ia diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro oleh Paku Buwono XII.

 
Menikah dengan maestro tari jawa klasik Retno Maruti, dan di karuniai dua orang anak Genoveva Noiruri Nostalgia yang juga berprofesi sebagai penari dan Setyowati Retno Yahnawi. Bersama istrinya, ia mengelola paguyuban tari Padnecwara.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *