Sosok Punjangga Ronggowarsito

Nama :
Bagus Burham
 
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah,
15 Maret 1802

Wafat :
Surakarta, Jawa Tengah,
24 Desember 1873

Karya :
Jayengbaya,
Bambang Dwihastha : cariyos Ringgit Purwa,
Bausastra Kawi atau
Kamus Kawi – Jawa
(bersama C.F. Winter sr),
Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut, Mahabharata
(bersama C.F. Winter sr)
Sapta dharma,
Serat Aji Pamasa,
Serat Candrarini,
Serat Cemporet,
Serat Jaka Lodang,
Serat Kalatidha,
Serat Panitisastra,
Serat Pandji Jayeng Tilam,
Serat Paramasastra,
Serat Paramayoga,
Serat Pawarsakan,
Serat Pustaka Raja,
Suluk Saloka Jiwa,
Serat Wedaraga,
Serat Witaradya,
Sri Kresna Barata,
Wirid Hidayat Jati,
Wirid Ma’lumat Jati,
Serat Sabda Jati

Penghargaan :
Bintang Maha Putra Adipradana dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (2010)


Pujangga
Ronggowarsito
 

Bernama asli Bagus Burham. Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Maret 1802. Keturunan bangsawan dan pujangga terkenal. Ayahnya RM. Ng. Pajangswara merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya Nyai Ageng Pajangswara merupakan keturunan dari Kesultanan Demak. Selain itu, ia juga cucu dari Yasadipura II (R.T. Sastranegara), seorang pujangga besar Kasunanan Surakarta. Ia juga memiliki seorang pengasuh setia sekaligus guru mistiknya, Ki Tanujoyo.

Sewaktu muda terkenal nakal dan gemar berjudi. Ia kemudian dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari, Ponorogo, Jawa Tengah. Setelah usai menempuh pendidikan, ia kembali ke Surakarta, dan dididik berbagai ilmu pengetahuan oleh Raden Tumenggung Sastranegara.

Setelah dikhitan, pada 21 Mei 1815, ia diserahkan kepada Gusti Panemebahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-Kawijayan (kepandaian untuk menolak perbuatan jahat atau membuat diri seseorang memiliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdasan dan kemampuan Jiwani. Setelah tamat, ia dipanggil oleh Sultan Pakubuwono IV dan dianugerahi gelar Restu Pada 28 Oktober 1819, ia diangkat dengan jabatan Carik Kliwon (juru tulis) di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau yang lazim disebut dengan Rangga Panjanganom. Kemudian ia diangkat menjadi Abdi Dalem Carik Kepatihan dan diberi sebutan Mas sebagai gelar keturunan bangsawan. Diangkat lagi menjadi Mantri Carik Kadipaten Anom dengan nama Mas Ngabehi Sarataka.

Pada 9 November 1821, menikah dengan Raden Ayu Gombak, puteri Bupati Kediri, Adipati Cakradiningrat. Setelah memutuskan tinggal beberapa saat dengan mertuanya di Kediri, ia kemudian berkelana mencari pengalaman hidup dan menimba ilmu dengan beberapa orang guru kenamaan dengan di temani oleh Ki Tanujoyo sampai ke pulau Bali. Beberapa gurunya, antara lain, Pangeran Wijil dari Kadilangu (Demak), Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih (Kediri), Ki Ajar Wirakantha di Ragajampi (Banyuwangi), dan Ki Ajar Sidalaku di Tabanan (Bali). Dari Ki Ajar Sidalaku, ia berhasil membawa catatan peringatan perjalanan serta kumpulan naskah-naskah Jawa Kuno yang tertulis di atas kertas kayu, diantaranya, naskah Ramadewa, Bimasuci, Bratayuda, Darmasarana, dan naskah Ajipamasa juga keprak-keprak kuno.

Beberapa tahun kemudian, pangkatnya dinaikkan menjadi Abdi Dalem Panewu Sedasa dan gelar kebangsawanannya menjadi Raden. Ketika terjadi perang Diponegoro, ia menerima tugas untuk mempertahankan daerah Nusupan. Diusia 30 tahun, ia diangkat menjadi Panewu Carik Kadipaten Anom dengan nama Raden Ngabehi Ranggawarsita, menggantikan ayahnya yang wafat di penjara Belanda tahun 1830. Setelah Yasadipura II wafat, pada 21 April 1844, ia diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada 14 September 1845.

Pada masa inilah ia melahirkan banyak karya sastra. Sebagai seorang sasterawan, dalam menuliskan ideanya, di samping ditulis dalam bentuk sekar macapat (puisi), ia juga banyak menyusun karya-karya yang berbentuk jarwa (prosa), seperti Paramayoga, Pustaka Raja, dan sebagainya. Karya-karyanya itu semua dalam bentuk aksara carik (tulisan tangan). Sebagai seorang pujangga istana maka kebanyakan karyanya dipersembahkan untuk raja.

Kurang lebih 60 buku yang meliputi berbagai hal telah ia terbitkan. Antara lain dongeng, cerita, lakon wayang, babad salasilah, sastera, bahasa, kesusilaan, adat-istiadat, kebatinan, ilmu kasampurnan, falsafah, primbon, dan sampai ramalan. Di luar itu masih banyak lagi hasil-hasil karyanya yang belum diterbitkan, mengingat tugas utamanya adalah sebagai pujangga istana yang memang memfokuskan diri untuk mengarang dan menyusun berbagai ide sastera dan keilmuan lainnya.

Ia juga bergaul dengan beberapa pegawai Belanda, antaranya J.F.C. Gericke, C.F. Winter, dan Dr. Falmer Van Den Broug. Bahkan mereka menganggapnya sebagai guru. Dari pergaulan inilah, ia banyak mendapat pengetahuan luas tentang kesusasteraan barat, bahkan ia juga pernah menduduki jabatan redaktur majalah Bramartani. Pernah ditawari untuk menjadi guru bahasa Jawa di Belanda dengan gaji f 1.000 dan hak pencen f 500 sebulan namun ia menolak dan lebih memilih mengabdi kepada kesultanan Surakarta.

Karya-karyanya yang terkenal hingga sekarang antara lain Serat Jayengbaya (buku yang pertama kali ditulisnya pada saat ia masih bernama M. Ng. Sarata), Pustaka Raja, Serat Kalatidha, Jaka Lodhang, Sabdatama, Serat Cemporet, Wirid Hidayat Jati, Suluk Saloka Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, Serat Paramayoga, Suluk Supanala dan Serat Sabdajati (buku karangannya yang terakhir sebelum kematiannya, yang berisi ramalan tentang kewafatannya sendiri secara detail). Karya-karyanya tersebut kini banyak disimpan di Museum Radya Pustaka, Solo serta sebagian tersebar di tangan para pecinta kepustakaan Jawa.

Setelah istrinya, Raden Ajeng Gombak wafat, ia menikah lagi dan sampai akhir hidupnya di dampingi oleh dua orang isterinya, Mas Ajeng Puja Dewata dan Mas Ajeng Maradewata. Ranggawarsita wafat di Surakarta, Jawa Tengah, 24 Desember tahun 1873, dalam usia 71 tahun dan dimakamkan di Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.

Tahun 2010, Raden Ngabehi Ranggawarsita (alm) mendapat anugerah Bintang Maha Putra Adipradana dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono atas jasa-jasanya, ia dinilai berjasa menulis berbagai serat dan karya sastra lain, yang berisi pesan moral yang di nilai tak lekang di makan zaman.
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *