Soterdji Calzoum Bachri

Nama :
Sotardji Calzoum Bachri
 
Lahir :
Riau, 24 Juni 1941
 
Pendidikan :
FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara
 
Karya Tulis :
O (1973),
Amuk (1977),
Amuk (1979),
O Amuk Kapak (1981)
 
Penghargaan
Kumpulan sajak Amuk (1977), memenagkan hadiah puisi DKJ 1976/1977,
Hadiah Sastra ASEAN (1979),
Hadiah Seni (1993),
Anugerah Sastra Chairil Anwar dan dianggap sebagai pelopor angkatan 70-an (1998),
Anugerah Akademi Jakarta (2007),
Bakrie Award dalam bidang kesusastraan (2008)
 

 
Soetardji Calzoum Bachri
 
 
 
Pria kelahiran Riau, 24 Juni 1941 ini digelari Presiden Penyair Indonesia. Dalam karyanya yang berjudul Ayo tahun 1998, dia bertanya, “Adakah yang lebih taubat dibanding air mata, adakah yang lebih mengucap dibanding air mata, adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding air mata.” Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival Nopember 1999. Eforia reformasi ditangan penyair sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Kalaulah Soetardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena secara universal ketimbang sekedar sajak-sajak yang mereaksikan peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat.
 
Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Soetardji tetaplah Soetardji. Edan, namun bermakna dalam. “Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,” katanya. Gelar sebagai ‘Presiden’ penyair tampaknya memang begitu melekat pada sosok penyair modern Indonesia kelahiran Riau ini. Suka tidak suka, predikat yang diberikan kepada penyair Soetardji Calzoum Bachri ini sepertinya cukup signifikan atas segala upaya yang telah dilakukannya dalam dunia kepenyairannya di Indonesia. Ternyata gelar tersebut terus melembaga dan memang seperti tidak terbantahkan karena pencapaian Soetardji mengolah bahasa sebagai bahan pengucapan sajak-sajaknya.
 
Sajak-sajak Soetardji Caloum Bachri dianggap fenomenal karena ia menemukan bahasa pengucapannya sendiri dan sekaligus menciptakan konsep dan pengertian baru tentang bahasa sajak. Ia terus berpetualang dalam mengolah bahasa pengucapan sajaknya. Pada awal kepenyairannya, kira-kira akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, karya-karya Soetardji Calzoum Bachri tidak saja sekedar fenomenal, tetapi juga sekaligus kontroversial.
 
Karya-karya sajaknya menjadi perdebatan antara yang setuju dan yang menolak karya-karyanya. Meskipun secara keseluruhan pengabdian Soetardji di bidang kesusastraan lebih tampak pada persoalan kepenyairan, tetapi tidaklah berarti ia hanya semata-mata menulis sajak. Soterdji beberapa kali mempublikasikan cerita pendeknya. Sebagai penyair Soetardji hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri dan bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
 
(Dari Berbagai sumber)       

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.