Sri Hadhy

Seniman Lukis
Sri Hadhy
 
 
 
Sebelum memutuskan menjadi pelukis, cita-citanya dulu kepingin jadi guru. Tetapi nasib membawanya ke arah lain. Mungkin karena bakat seni yang secara tidak disengaja terasah dengan kesukaannya semasa kecil mencorat-coret dinding. Memang, semasa kecil senang melukis burung, kapal laut, pepohonan, dan pemandangan alam lainnya. Akhirnya ia merasa tergiring menjadi pelukis.
 
Sri Hadhy, kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah. Setamat SMA, ia belajar melukis pada Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI Yogyakarta, dan di Vrije Academie voor Beeldedde Kunsten di Den Haag, Belanda. Studi formal yang mengantarkannya menjadi seniman lukis ini menjadi berkembang. “Tak ada pilihan lain dalam hidup ini kecuali menjadi pelukis profesional,” ujarnya. Lahan seni khususnya seni rupa diharapkan banyak memberi kemungkinan untuk masa depan. Untuk mengembangkan profesinya ia tinggalkan kota Yogyakarta dan hijrah ke Jakarta. Di kota besar ini ia bergabung dengan teman-teman seprofesi untuk menggarap apa saja yang berhubungan dengan dunia seni.
 


Alpen, 122 cm X 120 cm (1986)

Dari kerja kontrak membuat relief di Tugu Monas Jakarta sampai dengan pameran lukisan di Balai Budaya dan komunitas seni lainnya. Tetapi ia menganggap Jakarta belum memberi apa-apa. Jadi bukan putus asa atau tidak suka Jakarta, tetapi didorong oleh semangat dan kemauannya yang keras, bersama istrinya yang baru dinikahi terbang ke negeri Jiran, Malaysia. Selang beberapa waktu terbang jauh dari Malaysia ke Eropa. Tujuannya negeri kincir angin, Belanda. Lebih dari 20 tahun lamanya bermukim di Den Haag.
 
Dapat dibayangkan betapa sulit mempertahankan hidup hanya mengandalkan lukisan. Tetapi di dasari tekad yang bulat dan semangat baja ia mampu bertahan di negeri bersalju. Ia terlanjur cinta lukisan dan keinginan mengembangkan bakat dan profesinya sebagai seniman lukis terus bertahan. Alam Eropa menjadi batu ujian karena harus bersaing dengan para pelukis di negeri empat musim, panas, dingin bersalju, musim gugur dan musim semi. Semuanya dilalui dengan percaya diri bahwa suatu ketika akan meraih sukses besar.
 

Kerjanya hanya melukis dan pameran. Kendati pun ia harus menghadapi pesaingnya yakni para pelukis Eropa yang sungguh mampu. Tidak hanya menggelar lukisan di Belanda, tetapi juga di daratan Eropa lainnya seperti Jerman, Inggris, Perancis, Belgia, Swiss, Spanyol, Venesia, Italia, Finlandia, hingga Mesir, bahkan hingga ke daratan Afrika. Beruntung karyanya cukup diminati kolektor Eropa dan negara dunia lainnya.
 
Sesekali balik ke Indonesia sekadar urusan pameran di Jakarta. Lantas kembali ke pangkalannya, negeri Belanda. Gara-gara lama bermukim di negeri Belanda, ia terpengaruh oleh Karel Appel, pelukis ekspresionis terkemuka Belanda. Kekagumannya itu karena melihat kecepatan Karel Appel yang melukis dengan tempo sangat cepat. Hasilnya pun sungguh luar biasa. Karel Appel salah satu anggota kelompok ‘Cobra’ (Copenhagen, Belgia, Amsterdam) beraliran  ekspresionistis. Dan kerjanya yang sangat cepat Pelukis Belanda beraliran ekspresionis ini memiliki kecepatan melukis luar biasa. Sungguh gila, cepat tapi menghasilkan karya yang hebat sehingga pelukis tersebut menjadi termasyhur di seluruh dunia.
 
Ia tercengang melihat cara kerja Karl Appel yang begitu dahsyat. Hal itu menjadikan dirinya terpengaruh melukis dengan cepat. Dalam tempo tiga jam menghasilkan 2 buah lukisan ekspresionis.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Sri Hadhy
 
Lahir :
Purwodadi, Jawa Tengah,
18 Desember 1943
 
Pendidikan :
Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta(1962),
Vrije Academie voor Beeldedde Kunsten
 (Den Haag, Belanda)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *