Taralamsyah Saragih

Nama :
Taralamsyah Saragih Garingging
 
Lahir :
Pamatang Raya-Simalungun, Sumatera Utara,
18 Agustus 1918
 
Wafat :
Jambi, 1 Maret 1993
 
Pendidikan :
Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun
 
Karya Tari :
Sitalasari (1946),
 Pamuhunan (1952),
Simodak odak (1962),
 Haro-haro (1952),
 Sombah (1953),
Runten Tolo (1954),
 Nasiaran (1955),
 Makail (1957),
Manduda (1957),
Haroan Bolon (1959),
Uou (1960),
Tembakau (1964),
Panakboru Napitu (1966),
Oratorium Kelahiran Nabi Isa (1966),
 Sendratari Yasin (1967),
Erpangir (1968),
Sendratari Ramayana dalam gaya tari dan musik Melayu (1970)
 
Karya Musik Berupa Lagu:
Eta Mangalop Boru,
Parmaluan,
Hiranan,
Inggou Parlajang,
 Tarluda,
Parsonduk Dua,
Padan Na So Suhun,
Tading Maetek,
 Pamuhunan,
Paima Na So Saud,
 Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun,
Ririd Panonggor,
Marsalop Ari,
 Mungutni Namatua,
 Pindah-Pindah,
Inggou Mariah,
Uhur Marsirahutan,
Poldung Sirotap Padan,
Bujur Jehan Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih),
 
Karya Lagu yang di gubah kembali :
Parsirangan,
Doding Manduda (gubahan ilah tradisi dari Ilah I Losung),
Ilah Nasiholan, Marsigumbangi,
Na Majetter (gubah ilah tradisi dari Ilah Bolon)

Seniman Tari
Taralamsyah Saragih
 
 
 
 
Bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun ini lahir di lingkungan Rumah Bolon (Istana) di Pamatang Raya-Simalungun, Sumatera Utara, 18 Agustus 1918. Menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun.
 
Mulai mempelajari tari dan musik tradisi Simalungun pada tahun 1926. Antara tahun 1928-1935, ia mempelajari alat-alat musik barat seperti biola, gitar dan lain-lain. Aktivitasnya di dunia tari, antara lain pernah memimpin Badan Kesenian Simalungun di Medan dan membantu M. Sauti menyusun tari-tari Melayu seperti Kuala Deli, Mainang, Tanjung Katung, dan lain-lain (1952-1953). Setahun setelah mengikuti misi kesenian RI yang pertama keluar negeri pada tahun 1954, ia melatih tari Melayu dan tari-tari daerah Sumatera Utara di Medan. Tahun 1960-1965, ia mengadakan pertunjukan keliling tari dan musik dengan orkes ‘Na Laingan’. Melatih rombongan Sabang-Merauke untuk tari Haroan Bolon pada pembukaan Ganefo di Jakarta, dan menyusun tari ‘Tembakau’ untuk siswa bidan Rumah Sakit PPN Tembakau di Medan.
 
Dalam ranah tari Simalungun, tercatat telah banyak jenis tari lahir dari koreografinya diantaranya tari ‘Sitalasari’ (1946), ‘Pamuhunan’, ‘Simodak-odak’, ‘Haro-Haro’ (1952), ‘Sombah’ (penyelarasan tor tor Sombah, 1953), ‘Runten Tolo’ (1954), ‘Nasiaran’ (1955), ‘Makail’, ‘Manduda’ (1957), ‘Haroan Bolon’ (1959), ‘Uou’ (1960), ‘Tembakau’ (1964), ‘Panakboru Napitu’, ‘Oratorium Kelahiran Nabi Isa’ (1966), Sendratari ‘Yasin’ (1967), ‘Erpangir’ (1968), Sendratari Ramayana dalam gaya tari dan musik Melayu (1970), serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.
 
Sedangkan aktivitasnya di dunia seni suara antara lain menjadi pemimpin kelompok musik Siantar Hawaiian Band di Pemantang Siantar, Sumatera Utara. Pernah rekaman yang menghasilkan 6 piringan hitam (ODEON), berisikan lagu-lagu daerah Simalungun dan Karo dan memimpin orkes keroncong di Pematang Siantar (1936-1941). Menjadi pemimpin musik pada kelompok musik Siantar Geki (1942-1946). Membantu musik tentara di Kutaraja (1949-1951). Setelah mengadakan siaran berkala lagu-lagu daerah Simalungun di RRI Medan, pada tahun 1959 ia membentuk orkes Na Laingan untuk musik Simalungun dan merekam 2 piringan hitam Lokananta yang berisi lagu-lagu Simalungun dan Karo.
 
Sebagai pencipta lagu, tercatat ia telah banyak menciptakan lagu Simalungun, seperti: Lagu ‘Eta Mangalop Boru’, ‘Parmaluan’, ‘Hiranan’, ‘Inggou Parlajang’, ‘Tarluda’, ‘Parsonduk Dua’, ‘Padan Na So Suhun’, ‘Tading Maetek’, ‘Pamuhunan’, ‘Paima Na So Saud’, ‘Sihala Sitaromtom’, ‘Sanggulung Balunbalun’, ‘Ririd Panonggor’, ‘Marsalop Ari’, ‘Mungutni Namatua’, ‘Pindah-Pindah’, ‘Inggou Mariah’, ‘Uhur Marsirahutan’, ‘Poldung Sirotap Padan’, ‘Bujur Jehan’, ‘Simodak Odak’ (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya. Beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti ‘Parsirangan’, ‘Doding Manduda’ (ilah tradisi dari Ilah I Losung), ‘Ilah Nasiholan’, ‘Marsigumbangi’ dan ‘Na Majetter’ (ilah tradisi dari Ilah Bolon).
 
Selain aktif di dunia tari dan seni suara, ia juga kerap di perbantukan dalam pembinaan kesenian, diantaranya membantu pembinaan kesenian Simalungun di Lubuk Pakam dan Pematang Siantar. Membantu pembentukan Sekolah Musik Indonesia di Medan. Di perbantukan kepada pemerintah daerah Jambi oleh Pangkowilhan Sumatera Utara untuk membina kesenian setempat. Melatih dan membawa kesenian daerah Jambi untuk pembukaan Jakarta Fair (1972). Dua kali membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta, untuk Festival Kesenian Mahasiswa se-Indonesia dan untuk pameran Visuil Pembangunan Indonesia. (1973). Membawa rombongan kesenian Jambi ke Singapura (1974).  Membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta untuk pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (1975). Membawa koor ibu mengikuti Festival Koor Ibu se-Indonesia dan memimpin tim penelitian musik dan tari daerah Jambi, proyek P3KD Dep. P dan K (1977), dan lain-lain.
 
Menikah dengan dengan Siti Mayun br Regar pada tahun 1944, dikaruniai 3 orang putra dan 9 putri. Wafat pada 1 Maret 1993 di Jambi, saat sedang menyusun dan  ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an
 
(Dari Berbagai Sumber)   
    
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *