Taufiq Ismail

Nama :
Taufiq Ismail
 
Lahir :
Bukittinggi, Sumatera Barat,
25 Juni 1935
 
Pendidikan :
Sekolah Rakyat (Solo, Semarang, Salatiga & Yogyakarta)
SMP di Bukittinggi,
SMA di Bogor,
Whitefish Bay High School, Milwaukee, Michigan, Amerika Serikat,
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia / IPB (1963),
International Writing Program, University of Iowa, Iowa,  Amerika Serikat
(1971-1972 & 1991-1992),
Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir (1993)
 
Karier :
Pengajar di Fakultas Peternakan IPB (1962-1965),
Pendiri majalah sastra Horison (1966),
Pengajar di Fakultas Psikologi UI (1967),
Sekretaris DPH-DKJ
(1970-1971),
Wakil General Manager
 PKJ-TIM (1973),
Ketua LPKJ (1973-1977),
Redaktur Puisi Majalah Horison (1966),
Kolumnis (1966-1971),
Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia.
 
Karya :
Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966),
 Benteng, Litera (1966),
 Buku Tamu Musium Perjuangan, DKJakarta (buklet baca puisi 1972),
 Sajak Ladang Jagung (1974),
 Kenalkan, Saya Hewan
(sajak anak-anak 1976),
 Puisi-puisi Langit (1990),
Tirani dan Benteng (1993),
Prahara Budaya (1995),
Ketika Kata Ketika (1995),
 Seulawah Antologi Sastra Aceh (1995)
 Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998),
Dari Fansuri ke (2001),
Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi,,
Kitab Cerita Pendek,
 Kitab Nukilan Novel,
Kitab Drama (2002),
Mengakar Ke Bumi Menggapai Ke Langit (2008)
 
Pencapaian :
Beasiswa American Field Service International School untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat,
 (angkatan pertama dari Indonesia 1956-1957),

Penghargaan :
Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970),
 Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977),
South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994),
 Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994),
Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999),
Doctor Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003),
Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia (2009),
Anugerah Akademi Jakarta (2010),
Penghargaan Bidang Kebudayaan dar UNESCO (2015)

Sastrawan
Taufiq Ismail
 
 
 
Kadang-kadang orang lupa, bahwa penyair yang menyenandungkan amarah angkatan muda pada penghujung 1965/1966 adalah seorang dokter hewan. Maka di awal 1980, ia membacakan puisi di teater tertutup TIM, Jakarta, ditemani oleh Trio Bimbo ia pun muncul dengan sajak-sajak yang bercerita tentang manusia dan hewan. Sementara banyak tingkah laku manusia ditiru hewan, menurut Taufiq tak sedikit pula perangai hewan yang diambil alih manusia. Suatu kumpulan puisi yang ditulisnya untuk anak-anak, berjudul ‘Saya Ini Hewan’, akhirnya ditetapkan sebagai bacaan Inpres. Lahir di Bukittinggi, besar di Pekalongan, penyair yang banyak menulis lirik untuk lagu-lagu Bimbo ini.
 
Lulus dari fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, Bogor (sekarang IPB) tahun 1963, ia kemudian mengajar disana dan di fakultas Psikologi UI, sejak tahun 1967. Namanya terkenal kemasyarakat luas setelah ia menerbitkan puisinya yang merekam dan menyuarakan suara protes kesedihan dan harapan para mahasiswa yang berdemontrasi melawan pemerintahan Soekarno di tahun 1966. Kumpulan sajaknya, ‘Tirani’, disusul dengan ‘Benteng’. Larisnya bukan main waktu itu, walaupun dicetak dalam bentuk sederhana. Semasa menerbitkannya pertama kali, ia menggunakan nama samaran. Maklum, sebagai penanda tangan Manifes Kebudayaan yang dilarang Bung Karno ia tak boleh menulis.
 
Pada Tahun-tahun yang sibuk itu juga lahir kumpulan sajaknya ‘Tirani’. Ia adalah penyair yang produktif. Selagi memangku jabatan Ketua LPKJ (periode 1973-1977) ia tak pernah absent menulis dan membacakan sajak. Puisinya penuh dengan imaji-imaji yang teliti, menunjukan ia seorang pengamat yang peka. Dalam perkembangan puisinya kemudian, ia memasukan humor dan kecerahan.
 
“Saya merasa lebih dekat dengan Allah bila bersajak”, ujarnya. Keakraban dengan Allah ini juga kiranya yang menapasi lirik yang ditulisnya untuk lagu-lagu Bimbo, yang kemudian direkam dalam satu kaset produksi Remaco Qasidah 78. Di kaset itu ia berkisah tentang para nabi satu persatu.  Menikah pada tahun 1971 dengan Esijati Jatim yang ketika itu mahasiswi IAIN Jakarta jurusan Pendidikan Pada pernikahannya, Buya Hamka yang membacakan doa sedangkan Moh. Natsir berkhotbah.
 
Selain menulis puisi agama, ia juga menulis untuk banyak hal dan publik. Puisinya berjudul ‘Rasa Santun yang Tertidur’ disiarkan berbagai koran di Jakarta dalam rangka Hari Kemanusiaan sedunia 1978. Sajak itu menggambarkan masyarakat yang terlupa memikirkan nasib mereka yang mendekam di tahanan. Masyarakat yang rasa santunnya tertidur. “Saya menulis puisi itu karena rasa malu” katanya. “Malu pada diri sendiri. Karena saya merasa selama ini tidak pernah berbuat apa-apa untuk mereka yang ditahan”, tambahnya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *