Dadi P Danasubrata

Nama :
Dadi P Danasubrata

Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
15 Oktober 1950

Pendidikan :
Sekolah Rakyat Cisitu Bandung  (lulus 1963),
SMP Kartika Chandra Kirana Bandung (lulus 1965),
SMAN 7 Bandung (lulus 1968),
Universitas Islam Nusantara
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung
 
Aktifitas Lain :
Ketua Teater Sunda Kiwari (TSK)

Penghargaan :
Seniman Penggarap Seni Teater dari Gubernur Jawa Barat (2003),
Pengembang Seni Teater dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (2003),
Dedikasi Memelihara Bahasa Sunda dari Dinas Pariwisata dan kebudayaan Jawa Barat (2005),
Insan Budaya Pariwisata dari Gubernur Jawa Barat (2005),
Anugerah Budaya Kota Bandung (2008),
Hadiah Sastra Sunda Rancage (2008)
Bersama Teater Sunda Kiwari menerima Rekor MURI sebagai Penyelenggara Festival Drama Bahasa Sunda Terlama (2008)

Penggiat Teater
Dadi P. Danasubrata

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 15 Oktober 1950. Ia merupakan salah seorang pendiri Teater Sunda Kiwari (TSK), kelompok teater modern yang menggunakan bahasa Sunda di Bandung sebagai bahasa pengantarnya. Didirikan pada 1 Januari 1975. Kiwari itu berarti ’saat ini’. Di TSK, ia di percaya menjadi ketuanya. Perkenalannya dengan seni Sunda dimulai saat ia aktif dalam kelompok gending karesmen Madrasah Ibtidaiyah Cisitu Baru, Bandung, Jawa Barat. Gending karesmen adalah perpaduan seni sastra berupa naskah cerita dalam bentuk prosa liris. Ia belajar banyak tentang dialog para pemain gending karesmen yang kerap disampaikan lewat nyanyian.

Meski awalnya TSK yang dipimpinnya sempat mendapat cibiran dari beberapa kalangan, namun ia tetap memperjuangkan agar TSK dapat terus berpentas. Teater berbahasa Sunda saat itu sangat minim. Kendala utamanya, karena tidak banyak tersedia naskah berbahasa Sunda. Beruntung, ia dikelilingi sejumlah penulis naskah Sunda yang produktif dan berbakat. Semisal Hidayat Suryalaga. Sesama pendiri TSK ini dikenal sebagai salah satu penulis naskah utama. Dari Abah Surya, panggilan Hidayat Suryalaga, ia juga belajar banyak tentang penyutradaraan. Abah Surya produktif menghasilkan naskah Sunda berkualitas yang selalu aktual, di antaranya naskah Tambang Tambang Tambang yang bercerita tentang pasang surut kehidupan dan keuletan manusia dalam menjalani kehidupan dan naskah Punden Punden nu Rarempag yang bercerita tentang nilai asah dan asih dalam keluarga dan masyarakat yang mulai luntur. Penulis lain yang memiliki peran besar di TSK, antara lain, Wahyu Wibisana, Saini KM, dan Yoseph Iskandar.

Awalnya personil TSK adalah anggota Karang Taruna Cisitu Bandung yang awam dunia teater. Latihan rutin dari panggung ke panggung menambah kemampuan mereka. Meski sempat ditolak pentas di Rumentang Siang pada tahun 1978. Namun mereka tak putus asa dan tetap berlatih. Kemauan anggota teater untuk terus belajar jugalah yang mendukungnya untuk tetap semangat bertahan di jalur ini. Setahun kemudian, TSK diizinkan tampil bersanding dengan Teater Koma, Remy Sylado, sampai Studiklub Teater Bandung.

Beberapa kali tampil bersama TSK membuatnya mulai dikenal para penikmat teater. Pada tahun 1980, ia diminta membentuk dan mendampingi Kelompok Teater Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti di Sumedang, Jawa Barat, Syufianti. Hasilnya mengejutkan, tak sampai setahun, Teater Syufianti berhasil merebut juara Pasanggiri Teater Tradisional Universitas Padjadjaran tiga tahun berturut-turut. Bukan hanya menjadi juara, yang paling membanggakan baginya adalah alumni Teater Syufianti menjadi penggerak kesenian Sunda di daerahnya masing-masing.

Menebar benih seni Sunda dalam masyarakat menjadi cita-cita utamanya. Sehingga di TSK ia juga menggagas sejumlah program kreatif, di antaranya dengan parade membaca puisi hingga penulisan cerita pendek berbahasa Sunda. Serta yang paling membanggakan adalah terwujudnya penyelenggaraan Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) yang di gelar pertama kali di tahun 1988, dengan jumlah peserta sebanyak 17 kelompok. Hal itu menimbulkan rasa hormat dari beberapa kelompok sastra dan seni Sunda terhadap TSK.

Dalam perjalanannya, peserta Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) melonjak menjadi 76 kelompok pada tahun 2013. Tingginya minat masyarakat itu sampai membuat waktu pelaksanaan terpaksa diubah dari awalnya dua tahun sekali menjadi setahun sekali. Bahkan beberapa kelompok sastra dan seni Sunda mengusulkan TSK menerima penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia kategori Festival Drama Bahasa Sunda Terlama pada tahun 2008. Di mana selama 20 hari FDBS menampilkan 70 kelompok teater.

Berkat ketekunannya dalam mengeluti kesenian Sunda, ia mendapat sejumlah penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Ia juga mensosialisasikan teater Sunda ke beberapa sekolah. Hasilnya, banyak teater sekolah yang ikut berlaga pada FDBS tingkat pelajar. Pertama digelar FDBS tingkat pelajar tahun 2011 pesertanya 45 kelompok. Pada 2013 pesertanya meningkat menjadi 54 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 25-30 orang.

Sukses di panggung tak membuatnya langsung berpuas diri. Bapak tiga orang anak, Citra Katresna, Cipta Kersana dan Candra Karsana hasil buah pernikahannya dengan Lin Karlina ini masih mempunyai mimpi yang belum terlaksana yakni membawa seni teater Sunda menjadi salah satu bahan ajar di setiap sekolah di Jawa Barat.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply