Dewi Lestari

Nama :
Dewi Lestari Simangunsong

Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
20 Januari 1976

Pendidikan
SMAN 2 Bandung, Jawa Barat,
Universitas Parahyangan, jurusan Hubungan Internasional – Bandung,
Jawa Barat

Karya Tulis  :
Sikat Gigi (Cerpen),
Ekspresi (Esai, 1993),
Rico the Coro (Cerita Bersambung, 1996),
Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Novel, 2001),
Supernova: Akar (Novel, 2002),
Filosofi Kopi (Kumpulan Prosa dan Puisi 2003),
Supernova: Petir (Novel 2005),
Rectoverso
(Kumpulan Cerita, 2008),
Perahu Kertas (Novel, 2009),
Madre (Kumpulan Cerita, 2011),
Supernova: Partikel
(Novel, 2012),
Gelombang (Novel,2014)

Album Musik  :
Rida, Sita, Dewi: Antara Kita (1995),
Rida, Sita, Dewi: Bertiga (1997),
Rida, Sita, Dewi: Satu (1999),
Rida, Sita, Dewi: The Best of RSD (2002),
Out of Shell (2006),
Rectoverso (2008),
 
Pencapaian :
Tulisannya yang berjudul Ekspresi menjadi juara pertama lomba menulis dari majalah remaja Gadis (1993),
A Playful Mind Award (2003),
Generasi Biang Extra Joss (2004)

Penulis
Dewi Lestari

Novelis perempuan Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee, lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976. Anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan br Siagian (alm) ini awalnya dikenal sebagai penyanyi yang tergabung anggota trio vokal Rida Sita Dewi (RSD).

Sejak kecil ia telah akrab dengan musik. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Sebelum bergabung dengan RSD, ia pernah menjadi penyanyi latar untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye (alm). Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti, ia  bergabung membentuk trio Rida Sita Dewi (RSD) atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian. Trio RSD pernah meluncurkan 4 buah album, Antara Kita (1995), Bertiga (1997), Satu (1999), dan The Best of Rida Sita Dewi (2002), serta 1 single (Indo Hits, Kusadari). Namun setelah sembilan tahun bersama berkiprah di blantika musik Tanah Air, akhirnya Grup Rida Sita Dewi (RSD) memutuskan bubar di pertengahan November 2003.

Ia sendiri pernah meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul ‘Out Of Shell’ (2006) dan album ‘RectoVerso’ (2008), dimana dalam album tersebut ia mengandeng Arina Ephipania, vokalis dari group musik Mocca, yang juga merupakan adik kandungnya. Alumnus SMA Negeri 2 Bandung dan lulusan Universitas Parahyangan, jurusan Hubungan Internasional ini dikenal luas sebagai novelis setelah pada tahun 2001 menerbitkan Novel pertamanya yang sensasional, ‘Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang’. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar. Pada bulan Maret 2002, ia meluncurkan ‘Supernova Satu’ edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling, ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Sebelum novel ‘Supernova’ keluar, tak banyak orang yang tahu jika ia telah sering menulis. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul ‘Sikat Gigi’ pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang mandiri dan berskala kecil untuk kalangan tertentu.

Pada 1993, ia juga pernah mengirim tulisan berjudul ‘Ekspresi’ ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul ‘Rico the Coro’ yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMA 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Novel ‘Supernova’ pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA). Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri lewat karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

Sukses dengan novel pertamanya, ia kembali meluncurkan novel keduanya, ‘Supernova Dua : Akar’, pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang Omkara/Aum yang merupakan aksara suci Brahmana, Tuhan yang Maha Esa dalam Hindu sebagai sampul dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Pada Januari 2005, ia merilis novel ketiganya, ‘Supernova tiga : Petir’. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut. Setelah itu di tahun 2006, ia kembali menggebrak lewat buku kumpulan cerita, ‘Filosofi Kopi’.

Setelah lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, ia merilis novel ‘Rectoverso’ yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah ‘Sentuh Hati dari Dua Sisi’. RectoVerso merupakan pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Novel ini terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah ‘Dengar Fiksinya, Baca Musiknya’.

Pada 2009, ia menerbitkan novel ‘Perahu Kertas’, dan disusul dengan novel ‘Madre’ pada 2011. Tahun 2012, ia kembali merilis seri ‘Supernova : Partikel’. Empat bulan kemudian, pada pertengahan Agustus 2012 film ‘Perahu Kertas’ yang diadaptasi dari novelnya mulai tayang di bioskop di seluruh Indonesia. Film arahan Hanung Brahmantyo ini dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken. Ia pun ikut muncul sebagai pemeran pembantu.

Selain ‘Perahu Kertas’, karya lainnya yang diangkat ke layar lebar adalah ‘Rectoverso’ dan ‘Madre’. ‘Rectoverso’ merupakan film omnibus yang digarap oleh lima sutradara berbeda, Cathy Sharon, Olga Lidya, Marcella Zalianty, Rachel Maryam dan Happy Salma. Lima sutradara tersebut masing-masing akan menggarap film dari cerpen dalam buku ‘Rectoverso’ yang berjudul ‘Cicak di Dinding’, ‘Curhat Buat Sahabat’, ‘Malaikat Juga Tahu’, ‘Firasat’ dan ‘Hanya Isyarat’.

Wanita yang pernah dianugerahi A Playful Mind Award (2003) dan Generasi Bintang Extra Joss ini (2004) ini, menikah dengan penyanyi, Marcell Siahaan pada 12 September 2003. Dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana, yang lahir pada 5 Agustus 2004. Namun, Pernikahan ini berakhir setelah ia menggugat cerai Marcell Siahaan di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Jawa Barat, pada 27 Juni 2008. Ia kemudian menikahi seorang pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan, pada 11 November 2008 di Sydney, Australia. Dari pernikahan keduanya ini, ia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Atisha Prajna Tiara, yang lahir pada 23 Oktober 2009.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...