Dindon W.S

SenimanTeater
Dindon W.S

Lahir di Jakarta, 10 Agustus 1960. Nama aslinya Wahyudin. Kemudian di belakangnya namanya ditambahi nama ayah, Sukarja. Dan karena sejak kecil sering dipanggil dengan sapaan Dindon, maka jadilah dia menyandang nama lengkap, Dindon Wahyudin Sukarja, atau lebih dikenal dengan singkatan, Dindon W. S. Sukarja, ayahnya, dikenal sebagai penggembira kesenian. Sejak kecil ia suka diajak menonton berbagai macam pertunjukan. Setiap Minggu misalnya, ia sering menonton pentas kesenian yang biasanya digelar di dekat Musium dan RRI, seperti wayang orang, dan seni rakyat lainnya.

Dari kedekatannya dengan dunia seni pertunjukan inilah, pelan-pelan kemudian tumbuh khayal kreatifnya untuk tampil di panggung. Melihat itu, Nafsiah, Sang Ibunda, memasukkannya ke sanggar tari, padahal ketika itu usianya baru 5 tahun. Selain itu, kegiatan menari pada saat itu juga belum terlalu lazim untuk seorang laki-laki. Namun karena keinginannya yang mendalam, ia pun dengan senang hati mengikuti kursus tari itu.

Dunia seni pertunjukan semakin menyeretnya kian dalam saat ia mulai masuk sekolah. Setiap libur, ia suka mudik ke kampung halaman ayahnya di Sumedang. Di kampung itu sering digelar topeng banjet. Ia kerap mencuri-curi masuk untuk menonton. Namun, kenakalan justru semakin mendekatkannya dengan grup topeng banjet. meski, tak jarang ia dimarahi keluarga akibat lupa waktu.

Di masa remaja, ia mulai berkeliling ke banyak tempat untuk belajar teater. Dia berkenalan dengan Teater SAE, Teater Populer, Teater Kecil, dan Teater Adinda. Setamat SMA, ia belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, ia lebih sering mendahulukan kegiatan berteaternya sehingga sering terjadi benturan waktu dengan kegiatan perkuliahan. Akibatnya, kuliah pun dia tinggalkan.

Prihatin melihat pergaulan di lingkungan tempat tinggalnya yang ketika itu di penuhi orang mabuk, dengan berbekal pengetahuan teater yang dipelajari dari berbagai tempat, ia kemudian tergerak untuk mengajak teman-teman sekampungnya itu menyalurkan kegiatannya ke dalam wadah yang lebih berarti, yaitu teater. Awalnya, mereka membuat sebuah pertunjukan bertajuk “Sandiwara Dalam Sandiwara,” yang ditampilkan untuk meramaikan peringatan 17 Agustus di kampung mereka di daerah Kober Kecil, di bilangan Jatinegara, Jakarta, pada tahun 1982. Ia membuat naskah untuk pertunjukan tersebut, dan teman-temannya yang mengimprovisasikannya.

Dari sana, mereka pun terdorong untuk mengembangkan kegiatan ini menjadi lebih serius. Bahkan, teman-temannya menantangnya untuk melibatkan mereka mengikuti festival teater. Ia kemudian balik menantang mereka dengan memberikan persyaratan yang lebih ketat, seperti berlatih setiap hari, dengan maksud agar di saat mengikuti festival pun mereka tidak sekedar berpartisipasi, tetapi juga bisa menjadi juara. Teman-temannya menyetujuinya. Dari keseriusan inilah selanjutnya terbentuk Teater Kubur pada tahun 1983.

Alasan ia memilih ‘kubur’ untuk nama kelompoknya, Ia mengungkapkan, “Nama Teater Kubur, secara letak, memang ada di dekat kuburan. Sedang makna kuburan sendiri bisa diartikan, bahwa, kita bisa belajar dari yang sudah mati, untuk memaknai hidup kita agar lebih baik lagi. Jadi, kematian itu justru untuk kehidupan. Kita bisa belajar dari kegagalan dan kesuksesannya semasa hidup. Namun, meski filosofisnya begitu, nama Teater Kubur muncul secara spontan”.

Keseriusan itu pun terasah dengan turut berpartisipasinya Teater Kubur di dalam berbagai festival teater. Meskipun tidak pernah tampil sebagai juara, namun dari keikutsertaan itulah kematangan Teater Kubur mulai terbangun. Sampai mereka pun mulai menyadari bahwa ternyata tidak cukup bila hanya membawakan naskah-naskah karya orang lain. Berangkat dari keinginan tersebut, Teater Kubur pun mulai menyiapkan pementasan dengan naskah karyanya sendiri, dimana ia pun berperan sebagai sutradaranya. Pada tahun 1987, Teater Kubur untuk pertama kalinya tampil dengan naskah garapannya sendiri, yang berjudul “Sirkus Anjing”. Penampilannya tersebut membawa berbagai komentar yang beragam di kalangan pengamat kesenian. Bahkan banyak juga yang menjadikannya sebagai referensi teater hingga sekarang.

Setelah sukses dengan Sirkus Anjing, Teater Kubur kembali tampil di Jakarta dengan “Tombol 13” pada tahun 1993. Pada tahun 1998, Teater Kubur kembali membawakan “Sandiwara Doll”. Selanjutnya di tahun 2000, Teater Kubur kembali membawakan pertunjukan berjudul “Danga-Dongo” yang dibagi menjadi dua sekuel. Kedermawanan Teater Kubur pun terlihat di dalam pertunjukan ini. Kedua sekuel tersebut, “Danga-Dongo 1” dan “Danga-Dongo 2” khusus ditampilkan di kalangan penyandang cacat tuna netra di Jakarta. Setelah itu, di tahun 2004, ia kembali mempersembahkan “Jas Dalam Toilet,” yang dipentaskan di Jakarta dan Surabaya. Teater Kubur juga ikut memeriahkan Festival Art Summit pada tahun 2004 di Jakarta. Pada festival tersebut, aa kembali membawakan “Sirkus Anjing” dalam versi yang sudah diperbaharui. Lalu pada tahun 2007-2008 Teater Kubur tampil dengan “On/Off,” yang dibawakan di Tokyo, Jepang.

Dalam melakukan proses kreatif, Teater Kubur menerapkan falsafah teater bukan sekedar produk panggung melainkan sebentuk refleksi terhadap hidup. Ia selalu menekankan eksplorasi, ia tak pernah membuat target pementasan jika eksplorasi belum menunjukkan hasil.

Banyak hal yang mendorongnya untuk lebih mencintai teater lebih dalam. Tak heran jika dia kemudian memutuskan, teater adalah hidupnya. Pekerjaan lain yang iia kerjakan pun tetap tak jauh dari teater. Ia sering tampil sebagai pelatih seni peran, pemandu workshop, pembicara di berbagai forum dan seminar. Ia beberapa kali menjadi juri pada perhelatan Festival Teater Jakarta. Pada tahun 2000, ia menjadi pembicara di Forum Temu Teater Indonesia. Pada forum yang sama, hadir nama-nama besar seperti Putu Wijaya, Nano Riantiarno, dan sebagainya.

Sebelumnya pada 1993, ia sempat mengunjungi Monash University dalam upaya membuat karya dan belajar bersama. Pada 1989-1990, ia juga pernah berpartisipasi dalam sebuah kegiatan di Adelaide, Australia, berupa Forum Teater Anak Muda, yang berisi seminar dan sebagainya. Ia juga pernah berpentas keliling, berkolaborasi dengan aktor-aktor Belanda dan Indonesia di Amsterdam, Belanda. Selain itu ia juga pernah meraih grant dari ANA, Art Network Asia, untuk studi banding Budaya India. Di India, ia tidak hanya latihan teater, tetapi juga belajar tentang India, termasuk belajar tentang yaksagana, yang berupa kesenian ritual khas India.

Pada bulan Februari 2012, pria yang pernah menjadi Anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2006-2009 ini, menggarap sebuah drama musikal bertajuk “Extra Ordinary – Mereka Juga Anak Indonesia” di Gedung Kesenian Jakarta, untuk menggalang dana fasilitas pendidikan bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

menikahi Nadzeela, atau akrab dipanggil Sheila, dan dianugerahi tiga anak; Teatra Aulia Zahra, Camila Dara, dan Raula. Rumahnya yang terletak di JL. Jatinegara Timur IV Gg. Kober Kecil Rt.003/08 No. 08, Rawa Bunga, Jakarta Timur, selain sebagai tempat tinggalnya bersama keluarga, juga sering dipakai sebagai tempat berkumpul Teater Kubur. Dan tempat berlatih mereka, memang dekat kuburan.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Wahyudin

Lahir :
Jakarta, 10 Agustus 1960

Pendidikan :
Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (tidak selesai)

Karya Naskah Teater :
Sirkus Anjing (1987),
Tombol 13 (1993),
Sandiwara Doll (1998)
Danga-Dongo 1 – Dikhususkan untuk penderita tuna netra (2000),
Danga-Dongo 2 (2000),
Jas Dalam Toilet (2004),
On/Off ( 2007-2008)

Pencapaian :
Meraih grant dari ANA, Art Network Asia, untuk studi banding Budaya India

You may also like...