Eka Kurniawan

Nama :
Eka Kurniawan

Lahir :
Tasikmalaya, Jawa Barat,
28 November 1975

Pendidikan :
SMPN 1 Pangandaran,
Jawa Barat,
SMAN 1 Tasikmalaya,
Jawa Barat (tidak selesai),
SMA PGRI, Pangandaran, Jawa Barat,
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (lulus pada tahun 1999),
Desain grafis di Visi Art & Graphic Design School, Yogyakarta

Aktifitas lain :
Anggota Dewan Kesenian Jakarta Komite Sastra
(2013-2015)
 
Karya :
Pramoedya Ananta Toer
dan Sastra Realisme Sosialis
(non fiksi, 1999),
Corat-coret di Toilet
(kumpulan cerpen, 2000),
Cinta Tak Ada Mati
dan Cerita-cerita Lainnya
(kumpulan cerpen, 2005),
Gelak Sedih
dan Cerita-cerita Lainnya (kumpulan cerpen, 2005)
Cantik itu Luka (Novel, 2002)
Lelaki Harimau (Novel, 2004),
Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas (2014)

Penulis
Eka Kurniawan

Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 1975. Pindah mengikuti orangtuanya tinggal di perkebunan karet di Cilacap, Jawa Tengah, sebelum mereka pindah lagi ke kota kecil di pesisir pantai Pangandaran, Jawa Barat. Di kota itulah, tepatnya ketika masuk SMPN 1 Pangandaran, keinginan untuk menulis pertama kali muncul. Hal itu didorong oleh perkenalannya dengan buku bacaan yang disewakan oleh taman bacaan yang berkeliling dengan sepeda. Ketika itu puisi pertamanya muncul di majalah anak-anak Sahabat. Ia juga menulis cerpen-cerpen lucu untuk dibaca teman-temannya.

Setelah lulus SMP, sekolahnya dilanjutkan ke SMAN 1 Tasikmalaya dan ia tinggal bersama bibinya. Di sana ia lebih banyak di perpustakaan sekolah, dan menulis di rumah. Namun, kemudian karena hobbynya berpetualang menjelajahi berbagai daerah, membuatnya berhenti dari sekolah di Tasikmalaya. Ia kemudian kembali ke Pangandaran dan kemudian melanjutkan sekolahnya yang terputus di SMA PGRI. Prestasi dalam pelajaran ia tunjukkan disekolahnya yang baru, selama empat semester ia berhasil mempertahankan ranking pertama tanpa kehilangan kegemarannya untuk menjelajahi daerah-daerah sekitar, seperti rawa-rawa Segara Anakan (tempat Nusa Kambangan berada), pelabuhan Cilacap, gua-gua peninggalan Jepang dan kemudian ia mulai mencoba menuliskan cerita tentang semua hal di tempat-tempat yang pernah ia singgahi tersebut.

Kegemaran menulisnya semakin meningkat saat ia kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (lulus tahun 1999). Ia juga mempelajari desain grafis di Visi Art & Graphic Design School, Yogyakarta, melakukan debutnya pertama kali di dunia sastra dengan menerbitkan karya non-fiksi, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999), yang diterbitkan pertama kali oleh Aksara Indonesia (1999), lalu diterbitkan kedua kali oleh Penerbit Jendela (2002) dan diterbitkan ketiga kali oleh Gramedia Pustaka Utama (2006).

Karya fiksi pertamanya, sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Corat-coret di Toilet di terbitkan oleh Aksara Indonesia, pada tahun 2000. Setelah itu ia kembali menerbitkan dua jilid kumpulan cerita pendek berjudul Cinta tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (Gramedia Pustaka Utama, 2005), dan Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya (Gramedia Pustaka Utama, 2005). Selain itu, beberapa cerita pendeknya juga ada yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan Swedia.

Sedangkan debut novel pertamanya, Cantik itu Luka (diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Jendela tahun 2002, diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2004) meraih banyak perhatian dari pembaca sastra Indonesia. Novelnya ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Ribeka Ota yang diterbitkan oleh Shinpu-sha pada 2006 dan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Malaysia oleh Huda Hadi yang diterbitkan oleh Marshall Cavendish Editions tahun 2011. Novel keduanya, Lelaki Harimau di terbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2004.

Ia juga pernah menterjemahkan sejumlah karya penulis luar negeri seperti Pemogokan (Hikayat dari Italia) karya Maxim Gorky, Cannery Row karya John Steinbeck, Catatan Harian Adam dan Hawa karya Mark Twain, dan Cinta dan Demit-Demit Lainnya karya Gabriel Garcia Marquez. Ia juga banyak menulis di media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, Majalah Tempo, Majalah Film F, Koran Tempo. Suami dari  penulis Ratih Kumala yang kini tinggal di Jakarta  ini, juga suka membuat komik.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...