Etti Rochaeti Soetisna

Nama :
Etti Rochaeti Soetisna

Lahir :
Ciamis, Jawa Barat,
30 Agustus 1958

Pendidikan :
Sekolah Pendidikan Guru,
Universitas Padjadjaran Fakultas Sastra jurusan bahasa Sunda

Aktifitas :
Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS)

Penghargaan :
Penghargaan Lebaga Bahasa dan Sastra Sunda
(1990 dan 2001),
Hadiah Sastra Rancage
(1995, 2009 dan 2012)

Karya :
Jamparing (buku, 1984), Gondewa (buku, 1987), Maung Bayangan
(buku, 1995),
Lagu Hujan Silantang
(buku, 2003)


Etti RS

Bernama asli Etti Rochaeti Soetisna. Lahir di Ciamis, Jawa Barat, 30 Agustus 1958.  Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan sastra dan seni Sunda. Ayahnya kerap menyanyikan ‘kawih’ sebagai pengantar tidur. Sedangkan ibunya gemar membacakan komik pewayangan Sunda. Setamat dari sekolah pendidikan guru (SPG), ia kemudian melanjutkan ke Universitas Padjadjaran, Bandung, Fakultas Sastra jurusan bahasa Sunda.

Perlahan kecintaannya terhadap bahasa Sunda bertambah besar setelah diterima sebagai mahasiswa Sastra Sunda Unpad. Bandung. Bahkan saat itu ia bercita-cita ingin menorehkan namanya dalam sejarah sastra Sunda sebagai sastrawan perempuan Sunda ternama. Ajakan sastrawan Sunda kawasan sekelas Ajip Rosidi dan Abdoellah Moestapa membawanya pada Paguyuban Pengarang Sastra Sunda yang kini berganti nama menjadi Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS), tempat kelompok sastrawan Sunda berkumpul, berkarya, dan diskusi pada tahun 1996. Selang tiga tahun kemudian, ia didaulat menjadi Ketua (Pupuhu) PPSS.

Sejak saat itu, ia rajin menggagas ide dan mendorong inisiatif berkarya anggota PPSS. Prinsipnya, meningkatkan minat belajar bahasa dengan cara menyenangkan. Menurutnya, banyak manfaat yang bisa diambil dari sastra Sunda, baik itu pengobatan, pendidikan, maupun sistem pemerintahan yang sayang bila dilupakan menurutnya. Bersama anggota PPSS, ia juga memperkenalkan kearifan lokal sastra Sunda, seperti kertas daluang, yakni media kertas penulisan dokumen Sunda kuno, tarucing cakra atau teka teki silang bahasa Sunda, hingga memperkenalkan aksara Sunda kuno yang mulai dilupakan. Namun dari sekian program yang di perkenalkan ada salah satu program yang paling disukai banyak kalangan yakni Saba Sastra. Program ini memperkenalkan banyak unsur sastra Sunda, mulai dari karya, temu sastrawan, hingga pengelola program studi bahasa Sunda. Pesertanya adalah guru dan siswa di sejumlah daerah seperti Kuningan, Garut, Purwakarta, Sukabumi, dan Ciamis.

Dari perjalanannya itu, ia kerap menemukan banyak masalah. Hampir di semua daerah pengenalan sastra Sunda sangat minim. Banyak sekolah di daerah terpencil kekurangan buku pengantar pelajaran bahasa Sunda. Akibatnya, guru dan murid juga mengalami kesulitan menemukan panduan yang tepat. Pernah ikut menyosialisasikan Hari Bahasa lbu lnternasional. Sejak tahun 2006, ia rutin menggelar lomba naskah drama dan novel berbahasa Sunda, serta menerbitkan antologi puisi, cerpen, dan surat cinta berbahasa Sunda bagi pengarang yang belum terkenal.

Atas segala kiprahnya tersebut, perempuan yang pernah membuat heboh dunia sastra Sunda saat ia melelang hadiah uang melalui pesan singkat, dimana hadiah uang itu akan diberikan bagi pemenang penulisan naskah Sunda tahun 2007 ini, beberapa kali meraih beberapa penghargaan, antara lain, penghargaan dari Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (1990 dan 2001). Dua sajaknya, ‘Maung Bayangan’ dan ‘Serat Panineunqan’, mendapat Hadiah Sastra Rancage (1995, 2009 dan 2012), salah satu penghargaan bergengsi di kalangan sastrawan Sunda.

Ia kerap menulis cerita pendek berbahasa Sunda di harian umum Pikiran Rakyat saat masih menempuh pendidikan di sekolah pendidikan guru. Ia telah menerbitkan beberapa buku di antaranya ‘Jamparing’ (1984), ‘Gondewa’ (1987), ‘Maung Bayangan’ (1995) dan ‘Lagu Hujan Silantang’ (2003).

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply