Fajar Suharno

Nama :
Fajar Suharno

Lahir :
Bantul, DI Yogyakarta,
10 Agustus 1947

Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada (1967)

Aktifitas Teater :
Anggota Bengkel Teater Rendra (1967),
Pendiri Teater Dinasti (1977),
Anggota Teater Perdikan

Karya :
Dinasti Mataram (1977),
Palagan Palagan (1977), Jendral Mas Galak
(di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1978),
Raden Gendrek Sapu Jagat (di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1979),
Geger wong Ngoyak Macan (di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1979),
Gambar (di pentaskan Teater Gandrik – 1983),
Kesandung (1984),
Sosok Diam Di Kandung Bobrok (di pentaskan Teater Gandrik – 1984),
Patung Kekasih (di tulis bersama Emha Ainun Nadjib & Simon HT – 1985),
Kidung Bawono Balik
(di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1996)

Pencapaian :
Penghargaan Seni Pemda TK I DIY (1987),
Penghargaan Seni Pemda Tingkat II Kabupaten Bantul (1989)


Seniman Teater
Fajar Suharno

Lahir di Bantul, DI Yogyakarta, 10 Agustus 1947. Ayahnya bernama Martosudarmo alias Sapan dan ibunya bernama Rukinah.  Sempat berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada (1967).  Sejak kecil sudah aktif di dunia kesenian sebagai penari, dan juga menekuni berbagai karya sastra.

Pergulatannya didunia teater di mulai sejak tahun 1967 di bawah bimbingan C. Bakdi Sumanto. Pada tahun 1970, ia ikut bergabung sebagai anggota Bengkel Teater Rendra. Tahun 1977, ia mendirikan Teater Dinasti singkatan dari Dana Informasi Nasional Teruna Indonesia bersama beberapa alumnus Bengkel Teater, seperti Azwar AN, Moortri Purnomo, dan Gajah Abiyoso. Sejumlah seniman pun pernah bergabung dalam kelompok ini, diantaranya Emha Ainun Nadjib, Butet Kertaradjasa, Angger Jati Wijaya, Halim HD, Novi Budianto, Jemek Supardi, dan Jujuk Prabowo.

Sejak awal didirikan, Teater Dinasti dikenal dengan pementasan bertema sosial. Yang unik dari kelompok ini adalah proses kerjanya yang kolektif, di mana semua proses dalam berteater, seperti pendiskusian ide, penyusunan naskah, penyutradaraan, dan pengaturan artisitik dilakukan secara bersama-sama. Ia sendiri kerap menjadi pelatih, penulis naskah maupun sutradaranya.

Pada saat represi Orde Baru menguat, Teater Dinasti memilih posisi sebagai kelompok teater kritis atau teater yang terlibat dengan berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya. Lakon-lakon yang dipilihnya pun acapkali membuat merah ‘telinga penguasa’. Dua repertoar mereka pun berujung pada pelarangan, yakni Patung Kekasih dan Sepatu Nomor Satu. Setelah Bengkel Teater Rendra off dari panggung karena dicekal penguasa, Teater Dinasti hadir sebagai pilihan publik yang gelisah akibat tekanan politik pembangunan Orde Baru. Peran sebagai budaya tanding ini dijalani Teater Dinasti hingga menjelang 1990-an.

Dalam mempersiapkan pentas, ia biasanya menulis naskah sendiri atau memilih naskah orang lain. Namun, jarang sekali Teater Dinasti pentas dengan naskah tulisan orang lain. Dalam menulis dan memilih naskah, ia selalu mempertimbangkan hal-hal seperti naskah tersebut harus aktual, naskah tersebut mampu dipentaskan oleh kelompoknya, baik menyangkut materi pemainnya, maupun persoalan non artistik lainnya.

Sebagai seniman teater, ia lebih terfokus dalam penciptaan karya penulisan naskah drama dan karya penyutradaraan. Adapun karya naskah dramanya meliputi: ‘Dinasti Mataram’ (1977), ‘Palagan Palagan’ (1977), ‘Jendral Mas Galak’ (ditulis bersama Gajah Abiyoso – 1978), ‘Raden Gendrek Sapu Jagat’ (di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1979), ‘Geger wong Ngoyak Macan’ (di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1979), ‘Gambar’ (1983), ‘Kesandung’ (di pentaskan Teater Gandrik – 1984), ‘Sosok Diam Di Kandung Bobrok’ (di pentaskan Teater Gandrik – 1984), ‘Patung Kekasih’ (di tulis bersama Emha Ainun Nadjib dan Simon HT – 1985), ‘Kidung Bawono Balik’ (di tulis bersama Gajah Abiyoso – 1996).

Sedangkan karya penyutradaraaan yang pernah di hasilkannya antara lain: Pengembara Dari Sorga, bersama Lingkaran Sastra & Budaya Mahasiswa Fakultas sastra UGM (1969); Dinasti Mataram, dipentaskan Teater Dinasti (1977); Palagan Palagan, dipentaskan Teater Dinasti (1977); Jendral Mas Galak, dipentaskan Teater Dinasti (1978); Raden Gendrik Sapu Jagad, dipentaskan Teater Dinasti (1980); Sosok Diam Di Kandung Macan, dipentaskan Teater Dinasti (1984); Patung Kekasih, dipentaskan HIMATEATER ISI Yogyakarta (1985); Griya Prabesh, dipentaskan Kelompok Keseratus (1990); Kota Kita, dipentaskan Kelompok Keseratus (1992); Kidung Bawono Balik, dipentaskan Lingkaran Teaterawan Yogya (1996); serta Masa Baru atau Duta Masa Depan, dipentaskan Gelar Budaya Rakyat (1996).

Tahun 2012, ia tampil bersama Teater Perdikan dalam Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat. Teater Perdikan sendiri adalah kelompok teater baru tapi dengan wajah-wajah lama. Para pendiri Teater Perdikan adalah sejumlah seniman teater kawakan asal Yogyakarta, seperti, Eko Winardi, Bambang Susiawan, dan Kumbo. Kebanyakan dari mereka ini adalah orang-orang yang dulu pernah bergabung dengan Teater Dinasti di Yogyakarta.

Dari aktifitasnya sebagai pekerja teater, beberapa penghargaan seni pernah diterimanya, antara lain, Penghargaan Seni Pemda TK I DIY (1987) dan Penghargaan Seni Pemda Tingkat II Kabupaten Bantul (1989). Kini ia berdomisili di dusun Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul bersama istri dan keempat anaknya.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...