Ine Febriyanti

Nama :
Sha Ine Febriyanti

Lahir :
Semarang, Jawa Tengah,
18 Februari 1976

Pendidikan :
SD 004 Balikpapan,
Kalimantan Timur (1988),
SMPN 1 Balikpapan,
Kalimantan Timur
SMPN 5 Semarang,
Jawa Tengah (1991)
SMAN 54 Jakarta (1994) Akademi Akuntansi YAI Jakarta

Pencapaian :
Runner Up Covel Girl Majalah Mode (1992),
Beasiswa lokakarya penyutradaraan di Asia Film Academy Busan (2012)

Filmografi :
Siluet 1996 (Pemain, 1996),
Darah Biru series
(Pemain, 1996),
Marinka (Pemain, 1998),
Dewi Selebriti series
(Pemain, 1997),
Sampek Engtay series
(Pemain, 2000),
Beth 2000 (Pemain, 2000)
Cinderella (Sutradara 2002), Tuhan Pada Jam 10 Malam (2010),
Selamat Siang, Risa! dalam film Omnibus Kita Vs Korupsi (Sutradara, 2012)

 

Penggiat Teater
Sha Ine Febriyanti

Anak pasangan Mohammad Soleh Arwoko dan Inge Hidayat ini, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 18 Februari 1976. Pendidikannya di tempuh di SD 004 Balikpapan – Kalimantan Timur (1988), SMPN 1 Balikpapan – Kalimantan Timur, SMPN 5 Semarang – Jawa Tengah (1991), SMAN 54 Jakarta (1994) dan kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Akuntansi YAI Jakarta.

Kariernya diawali dari dunia model saat dia menjadi Runner-Up Cover Girl Majalah Mode ditahun 1992. Setelah itu, iat erjun ke dunia seni peran dengan membintangi sinetron ‘Darah Biru’. Saat itu ia harus beradu peran dengan aktor senior Sophan Sophiaan (alm). Setelah itu, ia pun digaet sutradara muda Aria Kusumadewa untuk main dalam telesinema ‘Siluet’. Tertarik dengan kemampuan aktingnya, Aria kembali mengajaknya dalam sinetron ‘Dewi Selebriti’ (1998). Tidak hanya di sinetron, Aria kembali mengajaknya untuk berperan di film independent garapannya, ‘Beth’ (2002). Dalam film yang menggunakan pita seluloid 35 milimeter ini, ia dipercaya menjadi peran utama berpasangan dengan Bucek Depp.

Keinginannya untuk mempelajari seni peran secara mendalam juga membawanyae berkenalan dengan dunia teater melalui Teater Luwes IKJ di tahun 1999. Dalam berteater, ia pernah terlibat dalam penggarapan lakon drama ‘Miss Julie’ karya dramawan Swedia, Johan August Strindberg, yang dimainkan bersama Teater Lembaga Institut Kesenian Jakarta pada September 1999. Saat itulah ia tersadar telah mencintai teater dan perjalanannya dalam dunia teater pun di mulai.

Ketika Teater Koma mementaskan lakon ‘Opera Primadona’ pada tahun 2000, di Teater Tanah Airku – Taman Mini Indonesia Indah, Sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno, menggaetnya untuk memerankan karakter Miss Kedjora. Penampilannya yang menawan sebagai Miss Kedjora memikat seorang pejabat Japan Foundation yang akhirnya mengajaknya beserta tujuh rekan sejawatnya yang berasal dari berbagai kelompok teater di Indonesia, untuk terlibat dalam sebuah pementasan kolaborasi teater di Jepang berjudul, ‘The Whale on The South Sea’, yang berlangsung 27 kali, 23 kali di Tokyo dan empat di Okinawa.

Tidak hanya itu, pada Februari 2003, bersama dengan Jakarta Shakespeare Theater Company, ia terlibat dalam pementasan teater bertajuk ‘Extremities’ di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berkisah tentang seorang wanita yang menghukum pemerkosanya dengan cara yang sadis, ia berperan sebagai Margi, perempuan yang diperkosa.

Setelah menikah dengan Yudi Datau, seorang sinematografer, pada 1 Desember 2003, ia sempat jeda dari kegiatan teater. Namun di tahun 2006, ia kembali ke panggung untuk berlakon dalam teater berjudul ‘Kentut’ di Gede Institut serta ikut berpentas teater ‘Nyai Ontosoroh’ yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer di tahun 2007.


                                   Meniti 77, Teater Kecil – TIM, 16-17 Januari 2015

Ia baru benar-benar kembali ke panggung teater pada November 2010 lewat perannya sebagai Surti dalam lakon ‘Surti dan Tiga Sawunggaling’, sebuah monolog yang naskahnya ditulis oleh Goenawan Mohamad dan disutradarai oleh Sitok Srengenge. Setelah 13 tahun, sosok Miss Julie kembali dibawakannya dalam pementasan di Teater Salihara pada Juni 2012. Kemudian ia menjelma sebagai sosok Dewi Durga dalam lakon ‘Repertoar Gandamayu, Persembahan bagi Perempuan, Ibu Sejati Langit dan Bumi’ yang diadaptasi dari novel Gandamayu karya Putu Fajar Arcana, yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan tersebut menjadi kerjasama pertamanya bersama Teater Garasi, teater eksperimental asal Yogyakarta.

Kecintaannya pada teater, membuatnya selalu berusaha mendalami secara sungguh-sungguh setiap peran yang akan dimainkan. Bahkan ia memiliki ritual sendiri sebelum pentas, dengan menjadi vegetarian selama dua minggu sebelum pentas. Kesungguhannya dalam membawakan peran kadang juga sampai membuatnya terbawa karakter yang dia mainkan. Biasanya hal itu berlangsung sampai enam bulan lamanya.

Meski kiprahnya di dunia teater sudah tidak di ragukan lagi, namun ia merasa tidak puas hanya menjadi pemain teater. Ia mempunyai ambisi yang lebih besar, ingin menyutradarai film. Untuk hal itu, ia mewujudkannya boleh dibilang dengan modal nekat. Ia tidak pernah mempelajari teknik-teknik pembuatan film di lembaga studi perfilman berusaha menyelami dunia penyutradaraan secara otodidak. Perempuan yang pernah menjadi pembawa acara pada peluncuran Jugun Ianfu Indonesia, ‘Korban Perbudakan Seks Zaman Penjajahan Jepang’, pada 10 November 2006 ini, mulai membuat film dokumenter.

Saat ini perempuan yang pernah menjadi anggota pencinta alam Heksapala ini, tercatat sudah membuat beberapa film seperti ‘Cinderella’ (2002), ‘Tuhan Pada Jam 10 Malam’ (2010) dan ‘Selamat Siang, Risa!’ dalam film Omnibus, ‘Kita Vs Korupsi’ (2012). Keinginannya untuk terus menekuni dunia film antara lain ia wujudkan dengan mencoba mengajukan beasiswa lokakarya penyutradaraan di Asia Film Academy Busan – Korea Selatan (2012). Dimana kemudian dirinya terpilih menjadi penerima beasiswa yang akan belajar perfilman selama tiga minggu di Busan, Korea Selatan.

Tahun 2013, ia menambahkan namanya didepan menjadi Sha Ine Febriyanti. Menurutnya, penambahan nama ‘Sha’ telah diberikan kedua orang tuanya sejak kecil dan telah tercantum di dalam akte kelahirannya. Meski lebih banyak aktif di film, namun dunia teater tidak sepenuhnya di tinggalkan, pada Juni 2013, ibu dari tiga orang anak (Fa Aisha Nurra Datau, Zeyn Abdullah Datau dan Amanina Aliyya Datau) ini bersama kelompok teater Prancis mementaskan lakon Rictus Warm di Teater Salihara, Jakarta.

Bersama keluarga, kini ia berdomisili di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...