Fikar W. Eda

Nama :
Fikar W. Eda

Lahir :
Takengon,
Nangroe Aceh Darussalam,
8 Mei 1966

Pendidikan :
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,
Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Aktifitas Lain :
Jurnalis Harian serambi Indonesia,
Anggota Dewan Kesenian Aceh (1995-2000),
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Jurnalis Indonesia,
Sekretaris Jenderal Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia,
Anggota Dewan Kesenian Jakarta Komite Sastra
(2013-2015)

Karya Tulis :
Takengon 29 ribu kaki,
Rencong,
Salam Damai,
Seperti Belanda,
Nyala Aceh,
Biarkan Kami,
Rumah,
Bunga dan Peluru,
Kemana,
Cahaya Suci matahari,
Jerit Bukit,
Dari Balik Kaca Sebuah Menara,
Akulah Syair Itu,
Aceh Satu (Lady’s Night),
Mari,
Kabut Tipis Kaca Jendela,
Rindu Emak,
Kutikam Aceh,
Aku Tak Bisa Berfikir,
Kita berdua,
Lalu Kita,
Syair Cendrawasih,
Rajah,
Ke Langit Tak Berbatas,
Nurlapan,
Asalku Dari Hulu,
Kopi Pagi,
Kopi Tubruk


Penulis
Fikar W. Eda

Lahir di Takengon, Nangroe Aceh Darussalam, 8 Mei 1966. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta ini, berasal dari keluarga petani. Orangtuanya merupakan petani kopi. Di dunia sastra kiprahnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia kerap tampil dan menghadiri sejumlah kegiatan sastra di sejumlah kota di Indonesia dan Malaysia, seperti Jakarta, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Kuala Lumpur (Pengucapan Puisi Dunia Ke-9 2002), Banda Aceh dan lain-lain. Ia juga pernah Menghadiri Forum Puisi Indonesia ’87 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Refleksi Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka di Solo, Pertemuan Penyair Sumatera di Lampung, Medan, Batam dan sebagainya.

Bersama grup musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari, Fikar tercatat menggelar acara Tour Salam Damai di sejumlah kota terpenting Indonesia dalam rangka Kampanye Hak Asasi Manusia Aceh. Sebagai penulis ia pernah menerbitkan beberapa buku, baik yang dibuat bersama penulis lain maupun yang ia buat sendiri, diantaranya menyusun antologi sastra Aceh Mendesah Dalam Nafasku bersama Lian Sahar dan Abdul Wachid BS (Kasuha, 1999), dan buku Aceh Menggugat (Pustaka Sinar Harapan, 1999) bersama S. Sastya Dharma. Menulis buku FORBES dan Jejak Lahirnya Undang Undang Pemerintahan Aceh (Forbes, 2008), SABANG, dan Menyusur Jejak Pelabuhan Bebas (BPKS, 2008) bersama Reza Idria.

Selain menulis buku, ia juga aktif menulis puisi. Karya-karya puisinya terhimpun dalam Antologi Ranub (1985), Puisi Penyair Aceh (1986),  Antologi Forum Puisi Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Sastra Aceh Seulawah (1995), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996), Aceh Mendesah Dalam Nafasku (Kasuha,1999), Antologi Puisi Indonesia Jilid I (KSI, 1997), Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005), Syair Tsunami (PN Balai Pustaka, 2005), Lagu Kelu (Asa-JapanNet, 2005), Ziarah Ombak (Institute for Culture and Sociaty, 2005), Antologia de Poeticas (Gramedia, 2008), Sound of Asia, Korea-ASEAN Poets Literature Festival Anthology II 2011 (Yayasan Sagang, 2011), What’s Poetry, Forum Penyair Internasional Indonesia 2012 (Henk Publica) dan lain-lain.

Salah satu buku kumpulan puisinya yang terkenal yakni RENCONG yang diterbitkan pada tahun 2003 dan 2005, ditulis kembali dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia dan diterbitkan dalam edisi khusus pada bulan November 2008. Buku ini pernah ‘dibedah’ secara khusus oleh dua sastrawan Malaysia, Prof Siti Zainon Ismail dan DR Ahmad Kamal Abdullah atau Kemala, penyair dan pengamat sastra Oyos Saroso HN, Gola Gong dari Komunitas Rumah Dunia, DR Tommy Christomi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, dan penyair ternama Indonesia, Rendra. Bahkan, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar ketika itu, turut membubuhkan catatannya pada halaman pembuka buku tersebut.

Selain sebagai penulis, ia juga aktif pada sejumlah organisasi, antara lain sejak tahun 1989 Fikar bekerja sebagai jurnalis pada harian Serambi Indonesia, ia menjadi anggota Dewan Kesenian Aceh (1995-2000), Sekjen Perhimpunan Jurnalis Indonesia atau PJI dan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Penggagas didong massal yang berhasil memecahkan rekor MURI ini, pada tahun 2013, terpilih sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (2013-2015).

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...