Leo Fioole

Juru Kamera & Suara
Leo Fioole

Bernama asli Leonardus Fioole. Lahir di Lhok Seumawe, Nangroe Aceh Darussalam, 16 Mei 1927. Pendidikannya di tempuh selama 2 tahun di, Kursus Markonis, Sekolah Elektronik PDK, kursus film, foto/Film/Teater di Belanda. Awalnya ia bekerja di bidang administrasi pada masa pendudukan Jepang, kemudian menjadi juru suara di RRI, lalu pindah bekerja ke studio rekaman Remaco lalu ke Irama.

Pada tahun 1954, ia beralih menjadi juru suara film di studio film Bintang Surabaya, ketika itu ia turut terlibat menggarap film ‘Sebatang Kara’. Kemudian pindah kembali ke studio Perfini, di mana ia antara lain turut serta menggarap ‘Delapan Penjuru Angin’ (1957), besutan sutradara Usmar Ismail. Kiprahnya sebagai Juru Suara juga telah menghasilkan antara lain film ‘Tiga Dara’ (1956), ‘Tiga Buronan’ (1957), ‘Pedjuang’ (1960), dan lain-lain.

Selanjutnya ia beralih mendalami bidang kamera, karena pada waktu itu, ia juga menggeluti seni fotografi. Karirnya sebagai juru kamera di mulai untuk pembuatan film non cerita. Khusus untuk pembuatan film cerita sendiri di mulai ketika pembuatan film ‘KK 17’ (1964), kemudian menyusul film ‘Membina Dunia Baru’ (1964), ‘Mutiara Hitam’ (1967), ‘Senja Di Jakarta’ (1967), dan lain-lain.

Sampai tahun 1981, ia telah menangani sekitar 57 film, dan berhasil mendapatkan dua penghargaan, juru kamera terbaik II pada FFI 1976 lewat film ‘Semalam Di Malaysia’, dan Sinematografi Terbaik lewat film ‘Kabut Sutra Ungu’ (1979) pada FFI 1980. Uniknya, ia sempat mendapat “Catatan Istimewa” pada perhelatan FFI 1955 untuk film ‘Debu Revolusi’.

Kegemarannya akan membaca juga membawa hikmah sendiri baginya. Ia menjadi tempat bertanya tentang masalah teknis sinematografi baik bagi rekan perfilman maupun wartawan. Meski memiliki keahlian lebih, namun ia di kenal sebagai pribadi yang tidak pernah pelit akan pengetahuan yang dikuasainya, sehingga ilmunya pun selalu diberikan pada anak didiknya, yang diajarnya secara magang.

Menikah dengan Ismania, yang dinikahinya pada 26 November 1979. Di karuniai 3 putri dan satu putra, masing-masing Yayuk Suseno (pemain film), Imam Santoso, Fitri Tris Mulyati, dan Dewi Christianti. Oom Pie, begitu ia biasa disapa, menggganti namanya menjadi Lufthi Nusirwan, sejak ia memeluk agama Islam). Wafat di Jakarta, 5 April 1987. Dimakamkan di TPU Karet Bivak.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Leonardus Fioole/
Lufthi Nusirwan

Lahir :
Lhok Seumawe,
Nangroe Aceh Darussalam,
16 Mei 1927

Wafat :
Jakarta, 5 April 1987

Pendidikan :
HBS (2 tahun),
Kursus Markonis,
Sekolah Elektronik PDK,
Kursus film, foto/Film/Teater di Belanda

Pencapaian :
Terpilih sebagai juru kamera terbaik II melalui  film Semalam Di Malaysia pada FFI 1976,
Sinematografi Terbaik lewat filn Kabut Sutra Ungu (1979) pada FFI 1980,
Mendapat Catatan Istimewa pada perhelatan FFI 1955 untuk film Debu Revolusi

Filmografi :
Sebatang Kara,
Debu Revolusi (1954),
Tiga Dara (1956),
Delapan Penjuru Angin (1957),
Tiga Buronan (1957),
Pedjuang (1960),
KK 17 (1964),
Membina Dunia Baru (1964), Mutiara Hitam (1967),
Senja Di Jakarta (1967),
Samiun dan Dasima (1970),
Jang Djatuh Di Kaki Lelaki (1971),
Akhir Cinta Di Atas Bukit (1972),
Anjing-anjing Geladak (1972)
Lingkaran Setan (1972),
Mutiara Dalam Lumpur (1972),
Bing Slamet Dukun Palsu (1973),
Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974),
Bandung Lautan Api (1974),
Raja Jin Penjaga Pintu Kereta Api (1974),
Kemasukan Setan /Dukun (1974),
Pinangan (1976),
Akibat Pergaulan Bebas (1977),
Yang Muda Yang Bercinta (1977),
Romantika Remaja (1979),
Kabut Sutera Ungu (1979),
Aladin dan Lampu Wasiat (1980),
Untukmu Indonesiaku (1980),
Anak-anak Tak Beribu (1980),
Manusia Berilmu Gaib (1981)

You may also like...