Gendon Humardani

Seniman Tari
Gendon Humardani
 
 
 
Anak bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Humardani Djojosoedarmo dan Soenarti ini, lahir di Solo, Jawa Tengah, 30 Juni 1923. Bernama asli Sedyono Djojokartika, namun ketika masih kecil terkenal dengan nama Gendon. Ayahnya merupakan salah satu dari pengusaha kaya di kota Solo dan ibunya termasuk anak keturunan dari abdi dalam Keraton Kasunan Surakarta.
 
Ia tidak lama diasuh oleh bapak ibunya, karena kedua orang tuanya kemudian bercerai setelah bapaknya menikah lagi. Ketika itu ia baru berumur 7 tahun. Awalnya ia ikut bapaknya namun kemudian ia memilih untuk tinggal bersama ibunya. Ketika ia berusia 15 tahun, ibunya meninggal dunia, ia sudah berumur 15 tahun. Kemudian ia memilih tinggal bersama adik bapaknya, Mangkukartika.
 
Tahun 1943, ia pindah ke Yogyakarta, dan masuk sekolah yang sudah disediakan oleh pemerintah penjajah Jepang ketika itu.  Setelah satu tahun di Yogyakarta, ia pindah kembali ke Jakarta dan bersekolah di sekolah dokter Ika Dai Gaku. Pada Desember 1948, ia kembali tinggal di rumah Mangkukartika.
 
Tahun 1952, ia menikah dengan Berta. Dan ia juga berhasil menyelesaikan sekolahnya di Neutrale HIS Mangkubumen Solo (lulus tahun 1937), MULO Surakarta (selama dua tahun). Dan dilanjutkan di MULO Bandung pada tahun 1940. Selanjutnya kelas IV dan V dijalaninya di LYCEUM Bandung (lulus tahun 1942).
 
Setelah itu ia pindah sekolah di Yogyakarta, yaitu di SMT (lulus tahun 1943). Lulus dari SMT, ia masuk ke sekolah kedokteran Ika Daigaku di Jakarta, bersekolah di sana sampai tahun 1944/1945, ketika sekolah itu kemudian ditutup. Sekolah dokternya dilanjutkan setelah perang kemerdekaan kedua yaitu di UGM Yogyakarta dan berhasil meraih gelar doctorandus medicus tahun 1959.
 
Tahun 1960/1961 ia mendapatkan kesempatan belajar anatomi di Inggris. Namun tidak sampai selesai. Ketika itulah timbul keinginan untuk mencoba mendalami dunia kesenian. Ia kemudian belajar tari di Amerika Serikat pada 1961/1962. Dunia kesenian itu sendiri sebenarnya sudah tidak asing lagi baginya. Karena ketika ia berumur 11 tahun, ia sudah belajar menari. Bahkan ketika masih sekolah di Jakarta, ia pernah ikut dalam perhimpunan persatuan tari Kridha Beksa Wirama. Di tahun 1952, bersama teman-temannya ia juga pernah mendirikan Himpunan Siswa Budaya (HSB).
 
Tahun 1970/1971, ia mendapatkan kepercayaan memimpin Proyek Pengembangan Kesenian Jawa Tengah (PKJT) dan di tahun 1975 ditetapkan menjadi Ketua Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo. Di PKJIT dan ASKI ia selalu menghasilkan pemikiran buat mengembangkan seni tradisi. Bagi para muridnya ia merupakan guru yang sangat disiplin. Namun benar-benar serius ketika mengajar. Meskipun begitu tetapi beliau juga di kenal senang bercanda.
 
Pria yang kerap tampil sederhana ini, wafat pada 7 Agustus 1983, dan dimakamkan di Pemakaman Astana Janti.
 
Untuk mengenang jasanyaPada 15 Juli 2014, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Djoko Santoso meresmikan Patung Gendon Humardani di halaman Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selain itu Pada Agustus 2013, Institut Seni Indonesia/ISI Surakarta juga mengadakan kegiatan pementasan karya-karya seni pertunjukan untuk memperingati 30 tahun wafatnya
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Sedyono Djojokartika
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
30 Juni 1923
 
Wafat :
7 Agustus 1983
 
Pendidikan :
SMT (lulus tahun 1943),
Gelar Doctorandus Medicus dari Universitas Gajah Mada (1959)
Belajar tari di Amerika Serikat (1961/1962)
 
Aktifitas Lain :
Pengajar,
Ketua Akademi Seni Karawitan Indonesia/ASKI Solo
 

You may also like...

Leave a Reply