Syeh Lah Geunta

Maestro Tari Seudati
Syeh Lah Geunta
 
 
 
Maestro Tari Seudati ini dilahirkan di Gampong Geulanggang Teungoh, Bireuen, NAD, 10 Agustus 1946. Seudati sendiri adalah nama tarian yang berasal dari provinsi NAD. Seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi/bersaksi/pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah. Seudati awalnya dipakai sebagai media untuk mengembangkan ajaran agama Islam dengan syair-syair yang Islami dan mengajak berbuat kebajikan. Tarian ini juga termasuk kategori Tribal War Dance atau Tari Perang, yang mana syairnya selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajahan. Oleh sebab itu tarian ini sempat dilarang pada zaman penjajahan Belanda, tetapi sekarang tarian ini diperbolehkan kembali dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.
 
Lelaki yang kerap berpenampilan sederhana ini, bernama asli Abdullah Abdurrahman. Nama Syeh Lah Geunta sendiri merupakan pemberian Gubernur Aceh pada waktu itu (1963), Ali Hasymi, ketika akan meresmikan SMAN 1 Kota Bireun. Melihat penampilan Kelompok Syeh lah Aneukmit yang pada masa itu berpentas di Hotel Murni, Hasymi langsung terpesona. Sampai-sampai sang Gubernur meminta Abdullah bersama kawan-kawannya untuk tampil kembali. Setelah pertunjukan ulang tersebut, akhirnya Sang Gubernur menawarkan dua gelar, Syeh Lah Keumala dan Syeh Lah Geunta. Saya lebih memilih gelar yang kedua. Geunta atau Genta dalam bahasa Indonesianya bisa berarti lonceng atau bisa juga diartikan dengan gaung.
 
Sejak kecil ia telah menyenangi tari seudati. Dulu bersama kawan-kawan sekampungnya, ia kerap berlatih dan belajar seudati secara otodidak. Mereka berlatih di lahan kosong di antara pohon kelapa yang memang banyak tumbuh di kampungnya. Semasa duduk dibangku kelas tiga sekolah rakyat alias sekolah dasar, minatnya terhadap tarian seudati semakin menjadi-jadi. Demi untuk menyaksikan pentas tari tradisional Aceh itu, ia rela menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki dari kampungnya demi untuk menonton tari seudati. Saking fanatiknya, saat menonton tari seudati, ia selalu berada dan berdiri di tempat paling depan panggung untuk menyaksikan para penari beraksi.
 
Pengorbanannya untuk menggeluti dan mendalami tari seudati tidak berhenti sampai di situ, ia rela pula meninggalkan sekolah serta memilih tarian ini sebagai jalan hidupnya. Hasilnya, ia telah berulang kali mengelilinggi jagat dengan seudati. Koordinator Seni Tradisi Aceh ini telah mempertontonkan serta menunjukan kebolehannya tari sudatinya keberbagai pentas internasional, seperti Jepang, Belanda, Malaysia, Australia, Hongkong, Spanyol dan Amerika Serikat.
 
Bahkan penampilannya dan anggota kelompoknya dalam mempertontonkan gerakan tari seudati di seluruh negara bagian Amerika Serikat yang dilakukannya selama 45 hari pada tahun 1991, berhasil membuat penonton terpukau kagum pada setiap penampilannya. Tercatat tak kurang sudah lebih dari 10 negara sudah ia datangi untuk mempertontonkan keindahan gerak tari tradisional Aceh Sudati tersebut.
 
Dari sana ia dan anggotanya mampu meraih beberapa penghargaan yakni The Bessies Award New York Dance And Performance (1991) di Amerikat Serikat dan Appreciation Award (1992) di Sevilla, Spanyol serta masih banyak berbagai penghargaan internasional dan nasional lain yang diperolehnya. Di usianya yang tidak muda lagi, ayah kandung dari koreografer tari Aceh Asnawi Abdullah ini, kini menetap di Gampong Seunebok Rambong, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur ini, masih tetap terus mengeluti tari seudati dan tak bisa dipisahkan dengan Seudati.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Abdullah Abdurrahman
 
Lahir :
Gampong Geulanggang Teungoh, Bireuen, NAD,
10 Agustus 1946
 
Aktifitas Lain :
Koordinator Seni Tradisi Aceh
 
Pencapaiann :
The Bessies Award New York Dance And Performance, Amerikat Serikat (1991),
Appreciation Award, Sevilla, Spanyol (1992)
 
 

You may also like...

Leave a Reply