Hanna Fransisca

Nama :
Hanna Fransisca
 
Lahir :
Singkawang, Kalimantan Barat,
30 Mei 1979
 
Aktifitas Lain :
Anggota Dewan Kesenian Jakarta Komite sastra
 (2013-2015/dinon-aktifkan),
Anggota organisasi sosial Lions Club Jakarta Kalimantan Barat Prima,
Wisraswastawan otomotif
 
Pencapaian :
Cerpen Darahku Tumpah di Kelenteng, terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008,
Buku kumpulan puisi Konde Penyair Han mendapat penghargaan sebagai kumpulan puisi terbaik versi Majalah Tempo 2010,
Tokoh sastra versi majalah Tempo 2011
 
Karya (Antara Lain) :
Konde Penyair Han
(Kumpulan Puisi, 2010),
Antologi Kolecer dan Hari Raya Hantu
(Kumpulan Cerpen, 2010),
Benih Kayu Dewa Dapur (2012),
Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina (Kumpulan Cerpen, 2012),
Kawan Tidur
 (Naskah Drama, 2012)

Penulis
Hanna Fransisca
 
 
 
Lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, 30 Mei 1979. Menempuh pendidikan hingga lulus SMP. Menjelang dewasa, ia sempat bekerja bersama orang-orang Dayak, berdagang karet mentah dan menjadi pelayan toko ini kemudian merantau ke Jakarta. Ia kemudian mulai belajar menulis secara otodiak, lewat dunia maya dan bacaan. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa antara lain: Harian Kompas, Suara Merdeka, Koran Tempo, Malang Pos, Pikiran Rakyat, majalah sastra Pusat, Horison, Jurnal Sajak, dan sejumlah majalah sosial. Ia juga aktif menulis di dunia maya, dengan menulis sejumlah esai dan tulisan-tulisan motivasinya yang kemudian dipublikasikan di andaluarbiasa.com.
 
Dalam sejumlah karya tulisnya, ia kerap mewarnai ceritanya dengan hal-hal yang paling dekat dengan dirinya. Budaya dan pernak-pernik kehidupan sosial warga Tionghoa, rutinitas kehidupan pasar yang mungkin sering ia amati, penggusuran lahan atas nama pembangunan yang kerap memicu percik kerusuhan, konflik etnik para pedagang kaki lima. Hingga empatinya terhadap nasib orang gila. Dan persoalan khas negeri Indonesia lainnya. Cerita pendek pertamanya, ‘Darahku Tumpah di Kelenteng’, terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008.
 
Pada tahun 2010, ia menerbitkan buku kumpulan puisinya ‘Konde Penyair Han’ di Goethe Haus, Jakarta. Buku kumpulan puisi ‘Konde Penyair Han’ yang banyak bercerita tentang masa lalunya yang getir tersebut, kemudian mendapat penghargaan sebagai kumpulan puisi terbaik versi majalah Tempo 2010 dan mengantarkannya masuk sebagai 5 besar nominator penerima penghargaan bergengsi sastra Indonesia, Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010, untuk kategori puisi. Selain itu ia juga terpilih sebagai tokoh sastra versi majalah Tempo 2011.
 
Setelah sukses pada karya pertamanya, pada bulan juni 2010, ia kembali menerbitkan kumpulan cerpen karyanya dalam antologi ‘Kolecer & Hari Raya Hantu’. Pada tahun 2012, ia kembali meluncurkan 3 buah buku sekaligus yakni ‘Benih Kayu Dewa Dapur’, kumpulan cerpen ‘Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina’ dan sebuah buku naskah drama bertajuk ‘Kawan Tidur’. Naskah ‘Kawan Tidur’ sendiri pernah dibacakan oleh Saturday Acting Club dan Teater Tetas dalam Indonesia Dramatic Reading Festival 2010.
 
Selain berkecimpung sebagai penulis, perempuan yang hingga kini tetap menetap di Jakarta ini juga aktif di organisasi sosial Lions Club Jakarta Kalimantan Barat Prima. Di samping profesinya sebagai seorang pengusaha yang mengelola bisnis di bidang otomotif. Dikarenakan tersandung kasus perjudian di penghujung tahun 2014, keanggotaannya sebagai Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dinon-aktifkan.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...