Farid Hardja

Nama :
F. Hari Mulyatno
 
Lahir :
Malang, Jawa Timur,
4 Juni 1959
 
Pendidikan :
S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (1997)
 
Karier :
Pengajar Tari di ISI Surakarta
 
 


Seniman Tari
F. Hari Mulyatno
 
 
 
Maestro tari Topeng Mangkunegaran yang biasa disapa dengan sebutan Gendhuk ini, lahir di Malang, Jawa Timur, 4 Juni 1959. Mulai belajar menari tahun 1976 di SMKI Surakarta. Pentas pertamanya dilakoninya pada tahun 1976 di Surakarta.
 
Meski awalnya di kenal sebagai penari gaya Keraton Kasunanan Surakarta, namun kemudian ia terdorong untuk ikut melestarikan tarian topeng khas Pura Mangkunegaran. Ia baru mengetahui keistimewaan Mangkunegaran, setelah mengantarkan kawannya penelitian skripsi di Wonogiri pada tahun 1983. Di sana ia berjumpa dengan seorang pejabat Dinas Penerangan kala itu, yang bercerita mengenai seluk beluk Kadipaten Pura Mangkunegaran
 
Dari situlah, hampir lebih dari setahun ia merasa penasaran untuk belajar tarian Mangkunegaran. Padahal saat itu, dirinya sudah berstatus sebagai pengajar tari klasik gaya Surakarta di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang sekarang berubah menjadi ISI Surakarta. Namun karena merasa sudah jatuh hati kepada Mangkunegaran, pada tahun 1985 secara resmi ia melayangkan surat lamaran kepada pejabat Pura Mangkunegaran untuk bisa belajar menari di Mangkunegaran.
 
Dari GPH Herwasto Kusumo, atau kerap disapa Gusti Heru, surat lamarannya kemudian diberikan kepada Rono Suripto, guru tari Mangkunegaran. Pertama kali bertemu dengan Rono Suripto atau biasa disapa Kanjeng Ripto, ia langsung mendapat gempuran pertanyaan mengenai motivasinya belajar tari Mangkunegaran. Tanpa menjawab iya atau tidak, mendengar jawabannya, Kanjeng Ripto hanya memintanya untuk belajar kuda-kuda dasar tari Mangkunegaran selama setahun.
 
Di luar bayangan, ternyata ia tidak diajari selayaknya orang belajar kuda-kuda tari, tapi malah diminta Kanjeng Ripto mengelilingi Pendapa Mangkunegaran dengan laku ndhodhok atau jalan jongkok setiap kali datang latihan. Tak hanya itu, didampingi Mbah Parto, asisten Kanjeng Ripto, ia diminta untuk berlatih di pinggir pantai Selatan. Semangat belajarnya semakin membara, takala rekan sekaligus sahabatnya dari ASKI, Daryono Darmorejono, bersedia menemaninya belajar menari di Mangkunegaran. Bersama Daryono, ia merasakan pahit getir belajar menari di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran kala itu.
 
Belakangan, ia baru menyadari manfaat laku ndhodhok dan berjalan menempuh ombak di Pantai Selatan. Ternyata kuda-kuda atau tanjak tari Mangkunegaran posisinya cenderung menyamping dan ini jelas membutuhkan tumpuan kaki yang kuat dan kokoh. Beda dengan gaya Kasunanan, yang berdiri tepat di tengah. Namun masalah tidak berhenti di situ, ternyata ia dan Daryono diminta untuk belajar menari tarian Mangkunegaran yang sudah lama tidak dipentaskan, seperti tarian Palguna-Palgunadi dan Arjuna Sasrabahu-Sumantri. Karena sudah lama tidak dipentaskan, mereka terpaksa harus menafsir kembali gerak tarian tersebut dari naskah-naskah kuno di perpustakaan Mangkunegaran, yang sebagian besar naskah berbentuk tembang.
 
Namun dengan bantuan Kanjeng Ripto, Pak Salim dan istrinya, Pak Tarwo, Bu Umi dan Bu Seno yang semuanya merupakan pakar tari Mangkunegaran, ia bersama Daryono berhasil menghidupkan tarian Mangkunegaran, yang sudah lama mati suri. Termasuk dari sisi kostum, dan peralatan pentasnya, mereka pun sepakat untuk membuat baru tetapi memakai pedoman baku yang ada di naskah. Meraka berduapun berhasil mementaskan dua tarian tersebut, untuk upacara agung bertahtanya GPH Sujiwo Kusumo menjadi KGPAA Sri Mangkunagara IX, pada tahun 1988.
 
Lulusan S-2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (1997) ini, tercatat juga pernah tampil sebagai penari dalam Festival IKI III pada tahun 1982 di Bali dan tampil pada festival IKI IV tahun 1983 di Surakarta. Kini ia tinggal menetap di Dusun Blembem, Desa Bonoroto, Plesungan, Karanganyar.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply