Hasnan Singodimayan

Nama :
Hasnan Singodimayan
 
Lahir :
Banyuwangi, Jawa Timur,
 17 Oktober 1931
 
Pendidikan :
Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (lulus pada 1955)
 
Pencapaian :
Juara III cerpen Dewan Kesenian Surabaya, lewat cerpen Lailtul Qadar (1973),
Juara II penulisan puisi Radio BBC London (1980),
Juara III penulisan kisah kepahlawanan kemerdekaan dari Dewan Angkatan 45 Pusat lewat Perempuan Itu Bingkai Pesawat
Penghargaan dari Gubernur Jawa Timur dalam bidang Budaya (2003)
 
Karier  :
Petugas Teknik Perikanan Dinas Perikanan Banyuwangi
 
Aktifitas Lain :
Aktifis Seni Budaya Islam (1960-1965),
Seksi Sastra dan Seni Islam Dewan Kesenian Blambangan (1980-1995)
Penasehat
 Dewan Kesenian Blambangan
 (1995 hingga sekarang),
Koordinator Badan Koordinasi Kesenian dan Kepariwisataan Blambangan,
Anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara sebagai wakil masyarakat adat Using,
Pendiri Hasnan Sigidimayan Centre
 
Karya Tulis, diantaranya :
Kerudung Santet Gandrung (novel, 2003),
Posisi Budaya Using Dalam Aneka Kebudayaan Jawa Timur (makalah),
Lailatul Qadar (cerpen)

Penulis
Hasnan Singodimayan
 
 
 
 
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 17 Oktober 1931. Pensiunan Petugas Teknik Perikanan Dinas Perikanan Banyuwangi ini juga di kenal sebagai tokoh yang gigih dalam mempertahankan dan melestarikan kebudayaan Using di Banyuwangi. Budaya Using itu adalah subkultur masyarakat Jawa Timur sebagaimana subkultur Arek, Pendalungan, Mataraman, Tengger, dan Madura. Masyarakat Using adalah mayoritas penduduk daerah semenanjung Timur Jawa Timur, Kabupaten Banyuwangi.
 
Dirinya praktis menjadi tokoh tua yang kerap menjadi referensi hidup soal budaya Using setelah Hasan Ali, ayah aktris Emilia Contessa, yang telah meninggal dunia. Kedua tokoh ini bisa dibilang seperti sepasang sandal, termasuk saat memimpin Dewan Kesenian Blambangan, Jawa Timur, mulai sekitar 1980. Ia layak dianggap ‘sumur tanpa dasar’ untuk masalah sosial-budaya Using.
 
Dalam berbagai pertemuan penting, ia seringkali diposisikan sebagai pemangku kebudayaan Using yang representatif. Mulai dari seminar kebudayaan di Jawa Timur oleh Universitas Jember dan Dewan Kesenian Jawa Timur, seminar yang diselenggarakan Direktorat Nilai Budaya, Seni dan Film, juga Kajian Perempuan Desantara, serta beberapa pertemuan yang diselenggarakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
 
Alumnus Pondok Gontor ini (1955) pernah aktif dalam Himpunan Seni Budaya Islam (1960-1965), Seksi Sastra dan Seni Islam Dewan Kesenian Blambangan, Jawa Timur (1980-1995), Penasehat Dewan Kesenian Blambangan, Jawa Timur (1995 hingga sekarang), Koordinator Badan Koordinasi Kesenian dan Kepariwisataan Blambangan (BK3) serta anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara sebagai wakil masyarakat adat Using.
 
Sebagai penulis, ia mulai aktif menulis selepas dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, tahun 1960-an dan pernah bergabung dengan koran Terompet Masyarakat, Surabaya ini, telah menulis sedikitnya tujuh buku yang berkaitan dengan sosial-budaya Using. Misalnya novel ‘Kerudung Santet Gandrung’, yang ditulisnya pada 2003.
 
Selain itu ada pula ratusan makalah, esai, cerita pendek, dan cerita bersambung yang ia tulis sejak 1950-an sampai kini. Di antaranya cerbung ‘Kerudung Baju Selubung’ yang ia tulis di koran Bali Post, yang kemudian diangkat sebagai naskah sinetron di salah satu televisi swasta dengan judul ‘Jejak Sinden’ di tahun 1994, dimana ia turut pula bermain sebagai salah satu aktor didalam sinetron tersebut. Lalu ia juga membukukan makalah yang ia tulis yang masih berkaitan dengan budaya Using yaitu ‘Posisi Budaya Using dalam Aneka Kebudayaan Jawa Timur’ yang diterbitkan PT Tiara Wacana Yogyakarta untuk Yayasan Muhammad Hatta dan menulis sandiwara radio berbahasa Using (bahasa lokal Banyuwangi). Ia juga rajin mengirimkan sejumlah karyanya berupa esai, dan cerbung ke berbagai majalah dan Koran.
 
Beberapa karya tulisnya tercatat pernah mendapat penghargaan, diantaranya cerpennya ‘Lailtul Qadar’ menjadi juara tiga cerpen Dewan Kesenian Surabaya (1973). Puisinya menjadi juara II penulisan puisi Radio BBC London (1980). Serta Ia juga menjadi juara tiga penulisan kisah kepahlawanan kemerdekaan dari Dewan Angkatan 45 Pusat lewat Perempuan Itu Bingkai Pesawat. Pada tahun 2003, ia juga mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur dalam bidang Budaya.
 
Guna menjaga kesinambungan dinamika budaya Using dari generasi ke generasi, ia mendirikan Hasnan Singidimayan Centre, lembaga non proft yang bergerak di bidang penelitian, pengkajian, dan pengembangan sosial-budaya Using Banyuwangi. Menikah dengan Sayu Masunah, dikaruniai lima orang anak.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...