Indrodjojo Kusumonegoro

Nama :
Indrodjojo Kusumonegoro
 
Lahir :
Jakarta, 8 Mei 1958
 
Pendidikan :
Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila
 
Aktifitas lain :
Penggiat Stand Up Comedy Indonesia,
Ketua Umum PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia),
Sekretaris Jendral Cum pendiri pertama Harley Davidson club Indonesia (HDCI)
 
Filmografi :
Mana Tahan (1979),
Gengsi Dong (1980),
Ge-Er (Gede Rasa) (1980),
Pintar-pintar Bodoh (1980), Manusia Enam Juta Dolar (1981),
IQ Jongkok (1981),
Setan Kredit (1982),
Dongkrak Antik (1982),
Maju Kena Mundur Kena (1983),
Pokoknya Beres (1983),
Tahu Diri Dong (1984),
Itu Bisa Diatur (1984),
Gantian Dong (1985),
Kesempatan Dalam Kesempitan (1985),
Atas Boleh Bawah Boleh (1986),
Depan Bisa Belakang Bisa (1987),
Aku Suka Kamu Punya (1987),
Jodoh Boleh Diatur (1988),
Malu-Malu Mau (1988),
Godain Kita Dong (1989),
Sabar Dulu Dong (1989),
Antri Dong (1990),
Lupa Aturan Main (1990),
Bisa Naik Bisa Turun (1991),
Sudah Pasti Tahan (1991),
Masuk Kena Keluar Kena (1992),
Salah Masuk (1992),
Bagi-bagi Dong (1993),
Bebas Aturan Main (1993),
Saya Dulu Dong (1994),
Pencet Sana Pencet Sini (1994),
Crush (2014),
 Comic 8 : Casini King (2015),
Komedi Modern Gokil (2015)
 
Sinetron :
Raja Sulap,
Warkop DKI (1995-1997)
NETO (Naik Enak Turun Ogah) Awas Ada Sule 2
Warkop DKI (1995-1997)
 

Aktor Film
Indro
 
 
 
Bernama asli Indrojoyo Kusumonegoro. Ia merupakan salah satu anggota grup lawak legendaris papan atas Warkop DKI, bersama Dono dan Kasino. Pria kelahiran Jakarta, 8 Mei 1958 ini, merupakan putra tunggal pasangan Jendral Polisi Moehammad Oemargatab dan Soeselia Kartanegara. Ketika ia berusia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Ia kemudian tinggal bersama ibu, bibi dan sepupunya di daerah kawasan menteng, Jakarta Pusat. 
 
Ketika remaja ia aktif di kegiatan Pramuka, menjadi anggota Gugus Depan (Gudep) Pringgodani, yang dijadikan proyek pramuka contoh oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bapak Kepanduan Indonesia dan pernah membawa Gudep ini ke Jepang dan ke Jambore internasional di Filipina (1974). Ia memiliki 22 Tanda Kecakapan Khusus disingkat TKC (karena kata Khusus saat itu dieja Chusus) diperolehnya, antara lain menembak, baris-berbaris, api unggun, terompet sangkakala, pemusik, masak, sandi dan tali-temali.
 
Saat bersekolah di SMA, para guru menjadikannya Ketua OSIS agar ia tidak ugal-ugalan. Saat SMA itu pulalah, ia mulai memperlihatkan bakat membanyolnya. Ketika itu ia mulai ikut bergabung mengisi acara Warung Kopi di Radio Prambors. Ketika itu, ia masuk mengantikan Rudi Badil yang mengundurkan diri dari Warkop Prambors. Jadilah ia anggota termuda di Warkop Prambors yang awalnya digawangi oleh Nanu, Rudi Badil, Kasino, dan Dono, karena saat anggota Warkop Prambors yang lain sudah menduduki bangku kuliah, ia masih berstatus pelajar SMA. Sejak itulah, namanya mulai meroket.
 
Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan SMA IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Baru setelah muncul lewat acara TVRI Terminal Anak Muda, grup Warkop Prambors benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Berhubung di radio Prambors sudah ada grup lawak baru ketika itu, Sersan (Serius Tapi Santai) Prambors, bersama kawan-kawannya ia di minta mengganti nama grup lawak mereka, kemudian dipilihlah nama Warkop DKI, yang notabene merupakan plesetan Daerah Khusus Ibukota menjadi Dono-Kasino-Indro dan setelah mengganti nama, kelompok Warkop DKI semakin melejit
 


Indonesia Kita KADAL NGUNTAL NEGORO, 2011

Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat Indonesia. Puncaknya setiap tahun mereka membintangi minimal 2 judul film pada dekade 80-an sampai dekade 90-an yang pada masa itu selalu diputar sebagai film menyambut Tahun Baru Masehi dan menyambut Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia. Pertama kali Warkop DKI tampil di film, lewat film ‘Mana Tahan’ (1979), ketika itu Nanu Mulyono masih bergabung bersama mereka. Namun pada film-film Warkop DKI selanjutnya, hanya di awaki oleh Dono, Kasino, dan Indro.
 
 

 
Sejumlah judul film yang pernah ia bintangi bersama Warkop DKI antara lain, ‘Gengsi Dong’ (1980), ‘Ge-Er’/Gede Rasa (1980), ‘Pintar-Pintar Bodoh’ (1980), ‘Manusia Enam Juta Dolar’ (1981), ‘IQ Jongkok’ (1981), ‘Setan Kredit’ (1982), ‘Dongkrak Antik’ (1982), ‘Maju Kena Mundur Kena’ (1983), ‘Pokoknya Beres’ (1983), ‘Tahu Diri Dong’ (1984), ‘Itu Bisa Diatur’ (1984), dll. Tahun 1993, tepatnya bulan Juli, Warkop mendapat penghargaan dari GPBSI karena film-film mereka selama 5 tahun selalu laris (1989-1993). Formula mereka dalam film-film layar lebarnya ialah lawakan yang menjurus slapstick ditambah dengan kehadiran sejumlah aktris seksi.
 
Disaat produksi film menurun karena televisi sedang tenar, mereka tetap mampu mengikuti jaman dengan membuat serial televisi sendiri, dengan membuat sinetron serial ‘Warkop DKI’ (1995). Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia di tahun 1997. Setelah empat tahun berselang, Indro kembali kehilangan personil Warkop DKI yang tersisa, Dono, yang wafat pada tahun 2001.
 
Walaupun telah ditinggal kedua temannya, sarjana ekonomi lulusan Universitas Pancasila, Jakarta ini, tetap menjadi legenda lawak di Indonesia. Ia pernah tampil dalam acara televisi yang disiarkan sejumlah televisi swasta, diantaranya dalam Raja Sulap, NETO (Naik Enak Turun Ogah) dan Awas Ada Sule 2, di samping menjadi menjadi juri Stand Up Comedy Indonesia. Karya-karya Warkop DKI juga selalu dikenang rakyat indonesia bahkan diberi award pada OVJ Award 2012 lalu. Salah satu jargon warkop yang sering dikatakan Kasino kepada Indro “gile lu ndro” kini menjadi kata-kata populer di kalangan anak muda Indonesia.
 
Di luar dunia film, pria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) ini, menggandrungi Harley Davidson. Berbagai aksesoris motor besar buatan Amerika itupun menjadi penghias di ruang tamunya. Mengendarai motor Harley Davidson, merupakan hobi yang telah mendarah daging dari keluarganya. Di komunitas Harley Davidson, ia menjabat sebagai Sekretaris Jendral Cum pendiri pertama Harley Davidson club Indonesia (HDCI).
 
Menikah dengan Nita Octobijanthy, di karuniai tiga orang anak, Handika Indrajanthy Putri, Satya Paramita Hada Dwinita, Harleyano Triandro. Berdomisili di Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Timur.
 
           (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply