Isbaedy Stiawan ZS

Nama :
Isbaedy Stiawan ZS
 
Lahir :
Tanjungkarang,
Bandar Lampung, Lampung,
5 Juni 1958
 
Pendidikan :
STM
 
Pencapaian :
Anugerah Sanggar Minum Kopi Bali-10 Puisi Terbaik (1997),
Margana Award-10 Puisi Terbaik, Yayasan Selakunda-Bali (1998),
Juara ke-2 Lomba Cipta Cerpen Teater Peron UNS Solo (2002),
Juara I Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia Mahasiswa di Padang (2002),
Juara III Lomba Cipta Puisi Lingkungan Hidup kerja sama Majalah Trubus-Menteri KLH (2002),
Rakyat Lampung Award
(2005-2006),
 5 Besar karya Cerpen-Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (2006),
Kumpulan puisi Kota Cahaya mendapat penghargaan dari DPD KNPI Bandarlampung (2005)
Life Time Achievement Award di acara KNPI Award (2005)
 
Karya  Antologi Puisi :
Darah (1982),
Badai (1984),
Akhir (1986),
Khalwat (1988),
Membaca Bahasa Sunyi (1990),
Lukisan Ombak (1992),
Kembali Ziarah (1996),
Daun-Daun Tadarus (1997),
Roman Siti dan Aku Selalu Mengabarkan (LSM Perempuan Damar, Bandar Lampung, Juli 2001),
Aku Tandai Tahi Lalatmu (Gama Media, Januari 2003),
Menampar Angin (Bentang Budaya, Oktober 2003),
Kota Cahaya (Grasindo, Oktober 2005),
Salamku pada Malam (Bukupop, April 2006),
Laut Akhir(Bukupop, Januari 2007),
Lelaki yang Membawa Matahari (Hikayat Publishing, Juli 2007),
Setiap Baris Hujan (Bukupop, Juni 2008),
 
Kumpulan Cerpen :
Ziarah Ayah
 (Syaamil, Mei 2003),
Bulan Rebah di Meja Diggers (Beranda, Agustus 2004)
Dawai Kembali Berdenting (Logung Pustaka, November 2004),
Perempuan Sunyi (Gama Media, Desember 2004),
Dongeng Sebelum Tidur (Beranda, September 2004)
Selembut Angin Setajam Ranting (LP Publishing House, April 2005),
Seandainya Kau Jadi Ikan (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2005),
Hanya untuk Satu Nama
(C Publising Bentang Pustaka, Oktober 2005),
 
Antologi Bersama :
Dari Negeri Poci
Resonansi Indonesia, Angkatan 2000,
Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi, Hijau Kelon dan Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002),
Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, Juli 2003),
20 Tahun Cinta (Senayan Abadi, Juli 2003),
Wajah di Balik Jendela (Lazuardi, Agustus 2003)

Penyair
Isbaedy Stiawan ZS
                                     
 
 
Putra keempat dari delapan bersaudara ini, lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, Lampung, 5 Juni 1958. Ayahnya, Zakirin Senet yang berasal dari Bengkulu bekerja sebagai PNS, sedangkan ibunya, Ratminah yang berasal dari Winduaji Sindanglaut, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, adalah seorang ibu rumah tangga.
 
Mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemarinya. Sebelum terjun sebagai penulis, pemegang sabuk hitam beladiri karate ini, tekun berteater bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqornain dalam Sanggar Ragom Budaya. Sanggar Ragam Budaya adalah tempatnya mengekspresikan jiwa seni. Ia juga sering tampil dalam pementasan teater di luar Tanjungkarang. Jika ada waktu luang saat ia berlatih teater, ia kerap berdiskusi seputar persoalan sastra dengan Syaiful Irba Tanpaka.
 
Beranjak ke bangku STM, ia perlahan-lahan mulai menggeluti dunia sastra dan meninggalkan dunia teater. Ketika itu, ia mencoba menulis puisi dan cerpen. Ia kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Saat membacakan sajak-sajaknya, ia selalu memukau penontonnya. Ia tidak hanya mahir menyulam kata, tetapi juga piawai ‘menyihir’ penonton. Ia kemudian memberanikan diri mengirimkan karya-karyanya yang berupa puisi ke berbagai media massa, termasuk media massa yang terbit di Jakarta. Meski tidak sedikit pula puisinya yang ditolak oleh media, namun ia tidak patah semangat.
 
Karya pertamanya yang dimuat di media massa adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi, tahun 1980. Kemudian, sekitar tahun 1984, banyak cerpennya yang dimuat di berbagai media massa, antara lain Shimponi, Merdeka, Pelita, dan Singgalang. Di tahun itu pula, untuk pertama kali puisinya dimuat di Berita Buana, yang saat itu diasuh oleh Abdul Hadi W.M. Sejak saat itulah, puisi-puisinya mulai bermunculan di media massa lainnya seperti, Suara Karya, Budaya Pelita, Jayakarta, Terbit,dan Prioritas.
 
Selain itu ia juga dipercaya untuk mengasuh rublik ‘EsKa Kecil’, sebuah rubrik sastra bagi anak-anak di harian umum Suara Karya. ‘Surat dari Kak Isbedy’ adalah nama yang dipakai untuk rublik itu. Selain media massa cetak, ia juga mempublikasikan karya-karyanya melalui media massa elektronik. Saat itu, Radio Republik Indonesia Lampung sering mengundangnya untuk membacakan karya-karyanya.
 
Umumnya, proses kreatif puisinya lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolahnya menjadi puisi. Terkadang, ia juga mendapatkan puisi yang sudah jadi di benaknya. Ide kreatifnya bisa muncul kapan saja, saat bepergian, merenung di waktu malam, atau langsung di depan komputer. Dalam menulis puisi, ia tidak pernah membatasi diri tentang tema tertentu karena menulis pusi menurutnya tidak bisa dipaksa, mengalir menurut apa yang ada di dalam imajinasi, rasa, emosional, dan intelektual.
 
Beberapa karya puisi yang telah di terbitkannya antara lain ‘Darah’ (1982), ‘Badai’ (1984), ‘Akhir’ (1986), ‘Khalwat’ (1988), ‘Membaca Bahasa Sunyi’ (1990), ‘Lukisan Ombak’ (1992), ‘Kembali Ziarah’ (1996), ‘Daun-Daun Tadarus’ (1997), ‘Aku Tandai Tahi Lalatmu’ (2003), ‘Kota Cahaya’ (2005), ‘Salamku pada Malam’ (2006), dan lain-lain.
 
Belakangan, ia kembali menulis cerpen. Dalam menulis cerpen, ia banyak belajar dari mengamati berbagai karakter atau tokoh orang yang ada di sekitarnya. Ia dapat lebih memasuki setiap karakter tokoh, latar, atau alur cerita. Ia bisa bebas memainkan bahasa karena sesungguhnya bahasa berperan penting bagi karya sastra ketika menulis cerpen. Cerpen-cerpen karyanya dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Horison, Suara Merdeka, dan Kedaulatan Rakyat.
 
Sejumlah karya cerpen yang pernah diterbitkannya tersebut antara lain ‘Ziarah Ayah’ (kumpulan cerpen, 2003), ‘Bulan Rebah di Meja Diggers’ (kumpulan cerpen, 2004), ‘Dawai Kembali Berdenting’ (kumpulan cerpen, 2004), ‘Perempuan Sunyi’ (kumpulan cerpen, 2004), ‘Selembut Angin Setajam Ranting’ (kumpulan cerpen, 2005), ‘Seandainya Kau Jadi Ikan’ (kumpulan cerpen, 2005), ‘Hanya untuk Satu Nama’ (kumpulan cerpen, 2005), dan lain-lain.
 
Karya-karyanya tidak hanya terangkum dalam antologi tunggalnya saja, tetapi juga terangkum dalam antologi bersama penyair lainnya, diantaranya ‘Angkatan 2000’ (antologi bersama, 2000), ‘Puisi Tak Pernah Pergi’ (antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2003), ‘Tahun Cinta’ (antologi cerpen bersama, 2003), ‘Wajah di Balik Jendela’ (antologi cerpen bersama, 2003), ‘Anak Sepasang Bintang’ (antologi cerpen bersama, 2003), dan lain-lain. Ia juga dikenal sebagai sastrawan fenomenal di Lampung yang tiada henti menghidupkan keberlangsungan sastra di Lampung hingga kini. Kedekatannya kepada kalangan sastrawan muda Lampung, menyebabkan ia didudukkan sebagai ‘pengayom’ sastra.
 
Sebagai penulis, ia pernah diundang mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai kota di tanah air dan di luar negeri, diantaranya, pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta membaca puisi di TIM pada Forum Puisi Indonesia 1987, Pembacaan Sajak Tiga Penyair Lampung (1989), Festival November (2001). Diundang pada Pertemuan Sastrawan Nusantara/PSN di Kayu Tanam (1997). Tahun 1999, ia menjadi salah satu sastrawan Indonesia yang diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor, Malaysia. Dalam tahun yang sama, ia terbang ke Thailand, mengikuti Dialog Utara VIII. Ia pun kerap menghadiri undangan pertemuan sastra diberbagai kota dan daerah di tanah air, antara lain, di Pekanbaru, Padang, Yogyakarta, Bali, Banjarmasin, Bengkulu, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, dan Bengkalis.
 
Pria yang aktif di Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung ini, pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, yakni, Anugerah Sanggar Minum Kopi Bali-10 Puisi Terbaik (1997); Margana Award-10 Puisi Terbaik, Yayasan Selakunda-Bali (1998); Juara ke-2 Lomba Cipta Cerpen Teater Peron UNS Solo, Juara I Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia Mahasiswa di Padang, Juara III Lomba Cipta Puisi Lingkungan Hidup kerja sama Majalah Trubus-Menteri KLH (2002); Rakyat Lampung Award 2005-2006-Tokoh Seniman, Nominator-5 Besar karya Cerpen-Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (2006); 10 Besar Nominator Katulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi Kota Cahaya (2006). Kumpulan puisi Kota Cahaya mendapat penghargaan dari DPD KNPI Bandarlampung pada 28 Oktober 2005, Life Time Achievement pada acara KNPI Awarad 2005.
 
Presiden penyair, Soetardji Calzoum Bachri memberikan pujian kepadanya yang dibuktikannya dengan memuat puisinya dari antologi Forum Puisi Indonesia ’87 di majalah sastra Horison, menurut Seutardji, puisi Isbaedy sangat sederhana, metafor-metafor yang ditampilkan tidak terlalu mengejutkan, tetapi dengan pengaluran yang lembut, saling menopang, serta diperhitungkan dengan penuh kecermatan. Soetardji juga menambahan di media Kompas, 4 Mei 2001 di halaman 36, ungkapan-ungkapan yang segar dalam sajak Isbedy ditampilkan dalam susunan saling bersambung, mendukung secara halus, lembut, dan tersamar suatu gagasan pikiran. Tahun 1989, H.B. Jassin dalam catatan kebudayaan majalah Horison juga memberikan predikat kepada Isbaedy sebagai Paus Sastra Lampung karena dedikasinya dalam berkarya dan memajukan sastra di Lampung.
 
Tahun 1982, ia menikah dengan Adibah Jalili, seorang wanita Minang. Dikaruniai lima orang anak yaitu: Mardiah Novriza, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah. Bersama keluarga ia menetap di Perumahan Beringin Raya, Bandar Lampung, Lampung
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply