George Kamarullah

Nama :
George Kamarullah
 
Lahir:
Ternate, Maluku Utara,
30 Juli 1949
 
Pendidikan :
Jurusan konstruksi dan administrasi (tidak selesai)
 
Aktifitas Berteater :
Anggota Teater Populer
 
Profesi :
Editor dan Kameramen
 
Karier :
Karyawan Metro TV,
Karyawan TVOne
 
Pencapaian :
Piala Citra sebagai penata artistik terbaik lewat film Ranjang Pengantin (1974) pada FFI 1975,
Piala Citra sebagai penyuntingan Terbaik lewat film  Usia 18 (1980)
pada FFI 1981,
Piala Citra sebagai penyuntingan terbaik lewat film Di Balik Kelambu (1982),
Piala Citra sebagai penyunting terbaik lewat film Ponirah Terpidana (1983) pada FFI 1984,
Piala Citra sebagai Fotografi Terbaik lewatfilm  Doea Tanda Mata (1984) pada FFI 1985,
Piala Citra sebagai Fotografi Terbaik lewat film Ibunda (1986) pada FFI 1986,
Piala Citra sebagai Fotografi Terbaik lewat film Tjoet Nja Dhien (1986) pada FFI 1988,
Film Doea Tanda Mata(1984) meraih Fotografi terbaik pada Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan pada 1986,
Film Tjoet Nja Dhien (1986) meraih Fotografi Terpuji pada Festival Film Bandung 1989
 
Filmografi :
Ranjang Pengantin
(Aktor, 1975),
Badai Pasti Berlalu
(Aktor, 1977),
Usia 18 (Editor, 1980),
Tali Merah Perkawinan
(Editor, 1981)
Amalia SH (Sinematografer,1981),
Seputih Hatinya,
 Semerah Bibirnya
 (Sinematografer, 1982),
Dibalik Kelambu (Editor, 1983),
Ponirah Terpidana
(Editor, 1984),
Cinta Di Balik Noda (Sinematografer, 1984),
Secangkir Kopi Pahit
(Editor, 1985),
Doea Tanda Mata (Sinematografer, 1985),
Ibunda
(Sinematografer, 1986),
Yang Perkasa (Sinematografer, 1986),
Selamat Tinggal Jeanette (Sinematografer, 1987),
Tjoet Nja’ Dhien (Sinematografer, 1988),
Taksi (Sinematografer, 1990),
Taksi 2 (Sinematografer, 1991)

Seniman Teater
George Kamarullah
 
 
           
Lahir di Ternate, Maluku Utara, 30 Juli 1949. Pernah kuliah di jurusan konstruksi dan administrasi, tapi tak selesai. Dikenal sebagai salah satu anggota kelompok Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Kerap ikut berpentas bersama Teater Populer di berbagai tempat. Sebagai aktor ia juga kerap di ajak bermain film oleh Teguh Karya. Ia pernah menjadi asisten art and still photography dalam Cinta Pertama’ (1973), yang merupakan film pertamanya.
 
Pernah bekerja dengan sutradara Slamet Rahardjo, yang menggantikan posisi sebagai pimpinan sanggar Teater Populer sepeninggalan Teguh Karya. Suatu ketika Slamet Rahardjo sempat murka padanya lantaran permainannya yang buruk dalam sebuah latihan sandiwara yang disutradarainya. Pria yang pernah menjabat sebagai Pengurus Harian pada sanggar Teater Populer ini, kemudian memilih mundur sebagai aktor, dan beralih profesi menjadi seorang editor yang kemudian menjadi seorang kameramen.
 
Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai juru kamera, namun dengan tekun ia terus mempelajari teknik pengambilan dan penyuntingan gambar, yang mulai serius ditekuninya mulai tahun 1976.  Selama lima tahun, dia menjadi asisten sinematografer dan editor Tantra Suryadi. Ia bertugas memanggul kamera atau mengumpulkan gulungan film yang sudah tidak terpakai lagi. Sebagai seorang juru kamera, ia memiliki prinsip keras, tidak mau terlibat dalam produksi bila skenarionya jelek dan bintang filmnya tidak disiplin. Aktor dan aktris film juga mesti tunduk dan tetap duduk di lokasi syuting sewaktu ia sedang mengatur pencahayaan.
 
Pria yang kerap tampil sederhana dan banyak berkiblat pada film-film Perancis ini, juga dikenal sebagai juru kamera yang edan di zamannya. Ia orang pertama yang memakai teknik pencahayaan bounching dan kertas kalkir. Walther van den Ende, sinematografer asal Belgia, pernah memuji karya-karya George. “Dengan peralatan yang sederhana, dia bisa membikin gambar-gambar yang bagus,” ujarnya.
 
Dipercaya menjadi editor dalam film Usia 18’ pada tahun 1980. Baru pertama kalinya ia menyunting, ia langsung menyabet penghargaan Piala Citra pada FFI 1981, setelah sebelumnya sempat meraih Piala Citra sebagai Penata Artistik terbaik lewat Ranjang Pengantin’ pada FFI 1975. Pada FFI 1983, ia kembali menyabet Piala Citra sebagai Penyuntingan Terbaik lewat film Di Balik Kelambu’ (1982). Kemudian pada FFI 1984, ia kembali menyabet Piala Citra sebagai Penyuntingan Terbaik lewat film Ponirah Terpidana’ (1983).
 
Selain itu, ia juga kembali memperoleh penghargaan 3 Piala Citra untuk kategori Fotografi Terbaik lewat film Doea Tanda Mata’ (1984) pada FFI 1985, Ibunda’ (1986) pada FFI 1986 dan Tjoet Nja Dhien’ (1986) pada FFI 1988. Kiprahnya dalam film Doea Tanda Mata’ (1984) juga kembali membuahkan penghargaan sebagai Fotografi Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan pada 1986. Penghargaan lainnya yang pernah ia peroleh yakni terpilih sebagai Fotografi Terpuji pada Festival Film Bandung (1989) juga lewat Tjoet Nja Dhien’ (1986). Namanya juga masuk dalam nominasi fotografi terbaik pada FFI 1988 lewat Selamat Tinggal Jeanette’ (1987) dan Taksi’ (1990) pada FFI 1990.
 
Adapun film lainnya yang ia gawangi pengambilan gambarnya yakni Seputih Hatinya, Semerah Bibirnya’ (1980), yang dibintangi oleh Christine Hakim, kemudian Amalia SH’ (1981), lalu Cinta di Balik Noda’ (1984), Yang Perkasa’ (1986), Taksi Juga’ (1991), dll. Tahun 1986, Karyawan film dan televisi melarang untuk menekuni dua profesi sekaligus, maka ia pun memilih juru kamera sebagai profesinya.
 
Selain sebagai juru kamera, ia juga sering kali tampil sebagai juri sinetron cerita, ia menjadi juri pada FSI 1994 hingga FSI 1997. Ditahun 2004 dan 2005, pernah menjadi Panitia Pemilihan Komite Seleksi Festival Film Indonesia. Tahun 2009, ia kembali menjadi Dewan Juri Anugerah Adiwarta Sampoerna. Dewan Juri Televisi, bersama dengan Arswendo Atmowiloto, Bambang Harimurti, Marselli Sumarno dan Fetty Fajriati.
 
Menikahi seorang gadis asal Jawa bernama Atika yang telah wafat beberapa tahun lalu dan memiliki dua orang anak laki-laki. pernah bekerja di Metro TV dan sekarang ia masih aktif di TvOne. Karakater Bang One di salah satu segmen TvOne, tak lepas dari andilnya
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 

You may also like...