Boudewijn Maulana

Nama :
Boudewijn Maulana
 
Lahir :
Jakarta, 15 Januari 1938
 
Wafat :
Tangerang, Banten, 6 Juni 2015
 
Grup Musik :
The Young Boys,
Eka Sapta Band,
Kiboud Maulana Combo,
The Jakarta All Stars
 
Album :
Guitar Bossa
(bersama Ireng Maulana)
 
Filmografi :
Kembang Semusim (Komposer, 1981),
Tiada Waktu Bicara (1974)

Gitaris
Kiboud Maulana
 
 
 
Bernama asli Boudewijn Maulana. Lahir di Jakarta, 15 Januari 1938. Putra pasangan Max Maulana dan Sientje. Di besarkan dalam lingkungan keluarga pecinta musik. Ayahnya adalah seorang gitaris yang juga pandai bermain piano, sedangkan sang ibu berprofesi sebagai penyanyi. Adiknya, Ireng Maulana, juga menyukai musik yang kemudian dikenal sebagai gitaris yang disegani di kalangan seniman musik jazz. Darah seni yang mengalir deras dalam dirinya kemudian membawanya untuk ikut bergabung dengan Orkes Studio Jakarta. Saat itulah ia mulai mempelajari berbagai instrumen musik. Mulanya ia belajar memainkan biola klasik, kemudian beralih mempelajari teknik bermain gitar.
 
Pertama terjun ke dunia musik ia menekuni genre musik rock and roll. Ia kemudian membentuk grup band sendiri dengan nama The Young Boys. Grup band bentukannya ini sering ikut dalam berbagai ajang perlombaan band. Di bawah komandonya, grup bandnya tersebut berhasil mencetak prestasi membanggakan karena hampir selalu keluar sebagai pemenang. Pernah bergabung dengan Eka Sapta Band, yang beranggotakan para musisi terkenal seperti Bing Slamet, Idris Sardi, Enteng Tanamal, Jopie Item, Benny Mustafa, Eddy Tulis, dan sang adik, Ireng Maulana. Pada masa itu, popularitas band ini terus melambung dan tawaran untuk menjadi band pengiring datang silih berganti. Album rekaman mereka dalam bentuk piringan hitam bahkan laku terjual hingga ribuan copy. Sejumlah hits berhasil dicetak, salah satunya lagu berjudul Kelip-Kelip. Dalam lagu ini, aransemen musiknya diisi olehnya yang memainkan melodi dengan suara gitar khas West Montgomery. Ia mengaku Montgomery banyak menginspirasi gaya permainannya. Eka Sapta Band juga banyak merilis album bernuansa instrumental.
 
Puas menjelajah ranah musik rock’n roll, ia kemudian terjun sebagai gitaris jazz. Pengalamannya memainkan musik instrumental sewaktu masih bergabung dengan Eka Sapta Band menjadi modal utama baginya saat menjejakkan kaki di dunia jazz yang menuntut keterampilan memainkan musik secara instrumental. Tak tanggung-tanggung, meski masih tergolong sebagai pendatang baru, ia sudah berkolaborasi dengan musisi jazz ternama di masa itu, seperti Jack Lesmana, Mus Mualim, Bubi Chen, Maryono hingga Benny Mustafa. Bersama rekan-rekannya itu, ia ikut berpartisipasi dalam ajang jazz tingkat internasional, Berlin Jazz Festival di Jerman pada 1967.
 
Sejak saat itu, permainan gitarnya cenderung lebih berpijak pada jazz. Lama kelamaan pengalamannya di dunia jazz semakin bertambah. Hingga akhirnya, ia membentuk kelompok jazznya sendiri yang diberi nama Kiboud Maulana Combo. Di grup tersebut, ia menggandeng Juhari (piano), Taufik (drums), Perry Pattiselanno (bass), dan Wiharto (saksophone). Bersama kelompoknya ia sering mendapat tawaran untuk bermain di sejumlah hotel berbintang di Jakarta seperti Hyatt Ambassador, Sahid Jaya Hotel, serta Sari Pan Pacific Hotel. Mereka juga kerap menjadi band pengiring penyanyi Margie Segers, Ermy Kulit dan Nunung Wardiman.
 
Tahun 1983, ia pernah berkolaborasi dengan adiknya, Ireng Maulana, dalam sebuah album rekaman berjudul Guitar Bossa. Album tersebut memuat sejumlah tembang hits Indonesia, seperti Surat Undangan karya Jules Fiole. Ada pula lagu lawas berjudul Embun karya Cok Sinsoe dan Usmar Ismail, serta salah satu hits milik Bimbo yang populer di tahun 1979, Citra ciptaan Samsudin Hardjakusumah.
 
Selanjutnya bersama Idang Rasjidi, Cendi Luntungan, Embong Rahardjo, Jeffrey Tahalele, dan Adji Rao, membentuk The Jakarta All Stars. Bersama The Jakarta All Stars, ia tampil di berbagai festival bergengsi di berbagai belahan dunia seperti North Sea Jazz Festival, di Den Hag, Belanda. Dalam kurun waktu 1985 hingga 1996, bersama The Jakarta All Stars, ia pernah tampil sebanyak tujuh kali. Pada tahun 1997, ia juga pernah mendapat undangan untuk tampil di pertunjukan musisi jazz kaliber dunia, Miles Davis, dalam festival musik jazz tertua di Eropa, Montreux Jazz Festival.
 
Gitaris yang pernah tampil dalam pementasan Jak Jazz’91 di Ancol (1991) ini, pernah terlibat dalam pembuatan film ‘Kembang Semusim’ sebagai komposer. Bahkan keterlibatannya dalam film ‘Kembang Semusim’ tersebut, mengantarkannya masuk nominasi sebagai Tata Musik Terbaik pada Festival Film Indonesia 1981, di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu ia juga pernah bermain dalam film ‘Tiada Waktu Bicara’ (1974), bersama Idris Sardi, Sarimah Yusof dan Rachmat Hidayat.
 
Pada Sabtu pagi, 6 Juni 2015, musisi senior ini menutup lembaran hidupnya di usia 77 tahun akibat komplikasi di RS Karang Tengah Medika, Tangerang, Banten. Dimakamkan di TPU Kandang Ciganjur, Jakarta Selatan keesokan harinya.
 
(Dari Berbaagi Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply