Anna Kumari

Nama :
Anna Kumari
 
Lahir :
Palembang, Sumatera Selatan, 10 November 1945
 
Aktifitas Lain:
Pengelola Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu
 
Pencapaian :
Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1993),
Penghargaan Perkumpulan seni Singapura (1991),
Penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan (2001),
Panghargaan Kebudayaan Kategori Pelestari (2015)
 
Karya Tari :
Tepak Keraton (1966)
 
 
 

Seniman Tari
Anna Kumari
 
 
 
 
Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 10 November 1945. Dilahirkan dari keluarga yang memegang teguh tradisi, ia tumbuh sebagai anak yang secara alamiah mencintai kesenian. Saat kecil, ia kerap diajak orang tuanya menghadiri pesta pernikahan adat Palembang. Di sela-sela kunjungan itu, ia kadang menyelinap ke kamar pengantin untuk mengagumi riasan mempelai perempuan dan kain songket yang digunakan. Siapa sangka, tindakan jahil itu justru mendorongnya melestarikan seni dan kebudayaan Palembang.
 
Persentuhannya dengan seni secara profesional terjadi ketika dia tinggal di Jakarta bersama orangtuanya pada awal 1960-an. Uniknya, kesenian yang ditekuninya secara professional bukanlah kesenian khas Palembang. Tahun 1962, ia yang kala itu berusia 17 tahun mengikuti seleksi penari di Istana Kepresidenan. Setelah menjalani sejumlah tes, ia terpilih untuk membawakan tari Bali.
 
Digembleng oleh dua pelatih, Nyoman Suwarning dan I Wayan Linggih, kemampuan menarinya tumbuh dengan pesat. Putri pasangan AR Amantjik Rozak dan Masnatjik itu pernah tampil menari dalam sejumlah acara kenegaraan, seperti pembukaan pesta olahraga internasional Ganefo yang digagas Bung Karno pada 1963 di Jakarta. Saat kembali ke Palembang, ia tetap menekuni dunia tari dan akhirnya diminta menjadi pemimpin grup kesenian Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Sriwijaya yang beranggotakan sekitar 30 orang.
 
Pada tahun 1966, ia diminta menciptakan sebuah tarian untuk menyambut tamu oleh Kodam IV/Sriwijaya. Kala itu, tari Gending Sriwijaya yang merupakan tari penyambut tamu di Palembang dilarang dimainkan karena alasan politik. Oleh karena itu, ia diberi tugas membuat tarian baru untuk dipentaskan dalam upacara penyambutan Panglima Kodam IV/Sriwijaya yang baru. Tari karyanya itu dinamai tari ‘Tepak Keraton’. Jika Gending Sriwijaya menceritakan kegemilangan Kerajaan Sriwijaya, Tepak Keraton mengisahkan kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.
 
Kini tari ‘Tepak Keraton’ sama populernya dengan Gending Sriwijaya dan kerap dimainkan di berbagai acara penyambutan tamu agung. Setelah menciptakan tarian itu, ia terus membuat sejumlah tarian tradisional untuk berbagai keperluan. Sampai sekarang, ada sekitar 50 tarian yang ia buat, beberapa di antaranya dimainkan secara massal di berbagai acara.
 
Selain tari, ia juga pernah terlibat dalam berbagai bidang seni lain, seperti musik, drama, dan puisi. Kakak kandung aktor Anwar Fuadi ini, pernah menjadi penyanyi di sejumlah orkes Melayu. Setelah menikah dengan Hakki Alian pada tahun 1974, ia tetap aktif menyanyi dan menari. Atas peran aktifnya di bidang seni, ia pernah mendapatkan penghargaan di bidang seni dari Pemerintah Singapura pada tahun 1991, penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan pada tahun 2001.
 
Selain menggemari berbagai jenis kesenian, ia juga tergila-gila pada songket. Nenek dan ibunya mewariskan puluhan songket, beberapa diantaranya berusia 75-250 tahun. Dia juga memiliki songket bungo cino, jando beraes, nago besaung, bungo pacik, dan sebagainya.  Menurutnya, tiap motif songket itu berbeda-beda pemakaiannya. Motif jando beraes, misalnya dipakai oleh pengantin perempuan yang sudah pernah nikah sebelumnya. Untuk menghindari rayap, songket-songket tersebut disimpan didalam wadah plastik yang ditaburi merica. Kecintaan pada songket itu pula yang membuatnya mengumpulkan remaja perempuan putus sekolah untuk belajar membuat songket. Kegiatan yang bermula sejak 1978 itu membuatnya diberi penghargaan Upakarti oleh Presiden Soeharto pada 1993.
 
Kini mantan bintang Radio Republik Indonesia (RRI) ini, dikenal sebagai penari, koreografer, sekaligus pemimpin sanggar tari terkemuka di Palembang. Meski usianya tidak lagi muda, akan tetapi aktivitasnya tak pernah surut. Rumah sekaligus sanggar tarinya di Kelurahan 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, tak henti didatangi tamu.
 
Tahun 2013, ia mendapatkan bantuan dana dari Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementrian Pendidikan dan kebudayaan. Dengan bantuan itu, ia merenovasi rumah dan sanggar tarinya, dan mendirikan Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu. Rumah budaya itu menjadi semacam museum bagi aneka songket miliknya, juga tempat pelatihan membuat songket. Pada usianya yang beranjak senja, ia tampak tak lelah mencintai dan menghidupkan aneka kesenian dan tradisi Palembang.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply