Lan Fang

Nama :
Lan Fang
 
Lahir :
Banjarmasin,
Kalimantan Selatan,
5 Mei 1970
 
Wafat :
Singapura, 25 Desember 2011
 
Pendidikan :
SMA di Banjarmasin (1998),
Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA)
 
Aktifitas Lain :
Karyawan Bank Swasta Nasional di Surabaya,
Karyawan Perusahaan Asuransi Swasta
 
Karya Tulis :
Reinkarnasi (2003),
Pai Yin (2004),
Kembang Gunung Purei (2005),
Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006),
Perempuan Kembang Jepun (2006),
Kota Tanpa Kelamin (2007),  Lelakon (2007),
Kisah-Kisah Si Kembar Tiga (2009)
Ciuman Di Bawah Hujan (2010),
 
Pencapaian :
Cerber ‘Reinkarnasi’ menjadi Juara Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina (1997),
Cerpen’ Bicara Tentang Cinta, Sri…’ menjadi Juara II Lomba Cerpen Tabloid Nyata (1997),
Cerber ‘Pai Yin’ menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina (1998),
Cerpen ‘Bayang-Bayang’ menjadi Pemenang II Lomba Mengarang Cerpen Femina (1998),
Cerpen ‘Ambilkan Bulan, Bu…’ menjadi karya layak muat untuk Femina
Novel ‘Kembang Gunung Purei’ menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina (2003),
Cerpen-cerpennya masuk dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009


Penulis
Lan Fang
 
 
 
Sulung dari dua bersaudara ini, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Mei 1970, anak dari pasangan Johnny Gautama dan Yang Mei Ing. Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, ia sudah suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar. Di sekolah, pelajaran Bahasa Indonesia terutama mengarang menjadi kesukaannya. Bahkan buku-buku karangan Enid Blyton, Laura Ingals Wilder, atau sekadar majalah anak-anak, seperti Bobo dan Donald Bebek, telah sangat di akrabinya kala itu. Pendidikan SMA-nya ia tamatkan di Banjarmasin (1988) dan meneruskan studinya ke Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA).
 
Keinginannya untuk menulis cerpen sebetulnya sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Namun niatnya tersebut baru terlaksana saat sepeninggal ibunya yang wafat karena kanker otak, saat ia berusia 13 tahun. Awalnya ketika muncul cinta pertamanya pada seorang pemuda di usia 15 tahun, yang kemudian memberinya banyak inspirasi.
 
Sekadar iseng, ia kemudian mengirim cerita pendek pertamanya yang berjudul ‘Catatan Yang Tertinggal’ itu ke majalah Anita Cemerlang pada tahun 1986. Ternyata cerpen tersebut langsung dimuat sebagai cerita utama di halaman depan. Setelah itu, ia menjadi semakin ketagihan menulis. Ketika menulis, ia menemukan dimensi baru tanpa ruang dan waktu, tempat ia bisa merasa bebas melompat-lompat dari dunia satu ke dunia lain. Ia merasa bebas mengungkapkan apa yang ia pikirkan, rasakan, bayangkan, pertanyakan, tanpa adanya benturan dengan batasan-batasan. Pada periode 1986-1988, ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang bertebaran di majalah-majalah remaja seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Kebanyakan cerpen yang ia tulis bernapaskan cinta dengan banyak pengaruh tulisan Kahlil Gibran.
 
Selain itu dari tangannya juga terlahir sejumlah karya tulis yang telah berhasil ia terbitkan, yakni, ‘Reinkarnasi’ (2003), ‘Pai Yin’ (2004), ‘Kembang Gunung Purei’ (2005), ‘Laki-laki yang Salah’ (2006), ‘Yang Liu’ (2006), ‘Perempuan Kembang Jepun’ (2006), ‘Kota Tanpa Kelamin’ (2007), dan ‘Lelakon’ (2007). Cerita bersambung buah tangannya, berjudul ‘Ciuman Di Bawah Hujan’, yang pernah dimuat di harian Kompas tahun 2009, dan oleh Gramedia Pustaka Utama diterbitkan juga sebagai novel dengan judul yang sama pada Maret 2010. Tahun 2009 ia juga menerbitkan buku cerita anak, ‘Kisah-Kisah Si Kembar Tiga’.
 
Sejak tahun 1997, ia berulang kali memenangkan berbagai lomba penulisan. Cerita bersambungnya ‘Reinkarnasi’ menjadi Juara Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina dan cerpennya ‘Bicara Tentang Cinta, Sri…’ menjadi Juara II Lomba Cerpen Tabloid Nyata. Tahun 1998, karyanya yang berjudul ‘Pai Yin’ menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina. Di tahun yang sama cerpennya ‘Bayang-Bayang’ pun menjadi Pemenang II Lomba Mengarang Cerpen Femina dan cerpen ‘Ambilkan Bulan, Bu…’ menjadi karya layak muat untuk Femina. Karyanya yang berjudul ‘Kembang Gunung Purei’ menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina 2003. Ia juga menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award 2008 untuk novelnya, ’Lelakon’. Cerpen-cerpennya juga masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.
 
Sebagai penulis, Ia juga aktif membimbing para pelajar dalam sejumlah penulisan kreatif. Secara rutin, ia menularkan kemampuan menulis fiksi kepada pelajar di sejumlah sekolah di Surabaya. Ibu dari kembar tiga Vajra Yeshie Kusala, Vajra Virya Kusala, dan Vajra Vidya Kusala ini sempat vakum selama lima tahun dari dunia tulis-menulis, karena sibuk berkonsentrasi dalam merintis karier di sebuah bank nasional swasta di Surabaya sampai tahun 2000. Ia juga sempat bergabung di sebuah perusahaan asuransi jiwa asing di kantor cabangnya di Surabaya.
 
Penulis produktif ini wafat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada 25 Desember 2011 akibat penyakit kanker.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...