Catharina Wiriadinata Leimena

Nama :
Catharina Wiriadinata Leimena
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
12 September 1936
 
Pendidikan :
SMA PSKD,
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
Accademia di Santa Cecilia
Conservatorio di musica Giuseppe Verdi, Milan, Italia (1960-1965)
 
Aktifitas Seni :
Mendirikan Sanggar Susvara (1969),
Pengajar vokal di Institut Kesenian Jakarta, jurusan seni pertunjukan
Kepala sekolah Gita Svara
Pendiri dan Direktur Susvara Opera Company
 
Penghargaan :
Juara pertama untuk kategori Seriosa Barat dalam Pekan Kesenian Mahasiswa di Yogyakarta
Meraih Beasiswa untuk belajar seni vokal di Italia
Penghargaan dari Ïnstituto Antonio Pigafetta atas keberhasilannya memberi apresiasi untuk seni (1981),
Anugerah Yayasan Pendidikan Musik (2012)
 
 
 


Sopranis
Catharina W. Leimena
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 12 September 1936. Salah satu dari 8 orang anak dari keluarga Rd. Tjitjih Wijarsih Prawiradilaga dan Dr. Johannes Leimena, seorang menteri  pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Menjadi penyanyi opera merupakan impiannya sejak kecil, sejak ia menonton film-film musikal. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, bakat menyanyinya telah terlihat. Di SMP, ia sering tampil sebagai solois pada pergelaran paduan suara. Bakat ini terus dikembangkannya dengan bergabung di berbagai paduan suara, hingga akhirnya ia mendapatkan kesempatan belajar vokal pada seorang guru berkebangsaan Jerman, Madame Botterweg Schmieden.
 
Impiannya untuk menjadi penyanyi opera mulai menjelma ketika ia membaca peluang beasiswa belajar musik di Italia dari iklan harian Indonesia Raya pada tahun 1959. Ia kemudian memberanikan diri mendaftar untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Waktu itu banyak penyanyi seriosa yang dikirim pemerintah Bung Karno studi ke Italia. Begitu tahu ia  penyanyi seriosa, Bung Karno langsung menawarkannya bersekolah di Italia.
 
Tiga bulan setelah mendaftar, ia yang waktu itu baru kuliah di Fakultas Ekonomi UI mendapatkan kabar bahwa ia diterima dan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Italia. Ayahnya kemudian menanyakan padanya apakah ia mau terus di Fakultas Ekonomi atau siap hidup sebagai penyanyi. Peraih Juara pertama untuk kategori Seriosa Barat dalam Pekan Kesenian Mahasiswa di Yogyakata ini memilih musik dan berangkat ke Roma dengan kapal laut Tristino Oceania selama 18 hari.
 
Di Roma, Italia, ia tinggal dekat dengan kedutaan besar Indonesia. Kemudian Seorang konsul kehormatan Italia di Jakarta menolongnya pindah ke Milan, dekat dengan La Scala, tempat pertunjukan opera yang sangat terkenal. Selama satu tahun ia belajar di bawah bimbingan Profesor Anzelotti Zurlo, dosen di Accademia di Santa Cecilia. Selepas itu, ia melanjutkan studinya di Conservatorio di musica Giuseppe Verdi, Milan, Italia pada tahun 1960, untuk belajar seni vokal dan opera dengan bimbingan Profesor Carla Castelanni. Iapun mendapatkan berbagai kesempatan untuk tampil dalam pertunjukan-pertunjukan kelas dunia. Tahun 1965, ia  berhasil lulus sebagai lulusan canto (vocal) dengan Diploma peril Canto Artistigo dan berhak ikut dalam pergelaran karya-karya Claudio Monteverdi bersama dirigen Riccardo Mutti di hadapan Paus Paulus VI di Vatikan dan Teater Lugano di Swiss.
 
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1965 sampai awal tahun 1970-an, bersama pianis Iravati Sudiarso, ia mengadakan konser keliling rutin di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, sampai Surabaya. Iravati yang merupakan salah satu pengurus PKJ-Taman Ismail Marzuki, kemudian menawarkannya untuk memulai panggung opera di TIM. Tawaran itu ia sambut dengan mendirikan Sanggar Susvara yang berbasis di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan langsung berhasil menyemarakkan opera pada waktu itu. Bersama ke empat muridnya kuartet Iswargia D Soedarno, Avip Priyatna, Binu D. Sukaman dan Aning Katamsi, ia berhasil menciptakan pola pertunjukan opera berkala selama belasan tahun di tanah air. Kegiatan itu baru berhenti pada tahun 1982 ketika Dr Anton Wiriadinata, suaminya, seorang spesialis paru-paru meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Namun, setahun kemudian semangat bermusik ibu lima anak, satu putra dan empat putri ini muncul kembali, tetapi kali ini dengan oratorium, dengan dunia paduan suara.
 
Peraih penghargaan dari Ïnstituto Antonio Pigafetta atas keberhasilannya memberi apresiasi untuk seni pada tahun 1981 yang juga pernah ikut serta dalam International Choral Symposium di Rotterdam (Belanda), menjadi pengamat pada Choir Olympic I di Linz (Austria) dan ikut serta dalam International Choral Symposium for East-Asia di Singapura ini pernah menjadi dosen vokal di Institut Kesenian Jakarta, jurusan seni pertunjukan, sampai dengan tahun 2004. Ia juga menjadi Kepala sekolah Gita Svara, sebuah sekolah musik vokal di Jakarta selain sebagai Direktur Susvara Opera Company, yang didirikannya. Selain itu, saat ini ia  masih aktif menjadi juri, pengajar vokal, memberi masterclass dan workshop vokal dan paduan suara, serta masih kerap mengikuti simposium musik paduan suara di tingkat nasional maupun internasional.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply