Hidajat LpD

Nama :
Hidajat LpD
 
Lahir :
Jakarta, 3 Mei 1943
 
Pendidikan :
SD, SMP, SMA di Bandung,
Sekolah camat,
Fakultas Hukum Ekstension Universitas Padjajaran
 
Pencapaian :
Pemenang pertama pada kompetisi yang diselenggrakan saat mengikuti pameran di Muenchen, Jerman
 
 
 

Pelukis
Hidajat LpD
 
 
 
Putra ketiga dari tujuh bersaudara ini, lahir di Jakarta, 3 Mei 1943. Ketika berusia satu tahun ia dibawa kedua orang tuanya pindah ke Garut, Jawa Barat, karena orang tuanya di pindah-tugaskan di sana. Ia melewati masa kecil di kota dodol itu sebelum akhirnya pindah kembali ke Bandung, Jawa Barat. Sekolahnya mulai dari Sekolah Rakyat (Sekarang SD), SMP, dan SMA semuanya di jalaninya di Bandung. selepas SMA ia masuk sekolah Camat, dan kemudian diangkat menjadi Camat di Karang Ampel, Indramayu, Jawa Barat. Tapi hanya bertahan tiga bulan dan terpaksa ‘kabur’ ke Bandung karena waktu itu dikejar oleh PKI.
 
Di Bandung ia lantas masuk Fakultas Hukum Ekstension Universitas Padjajaran. Ketika menjadi mahasiswa ia aktif sebagai aktivis, dengan bergabung menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam dan menjabat sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI), yang berada di bawah HMI. Ketika menjadi aktivis, ia sempat pula terjun ke dunia jurnalistik. Karya tulisnya berupa artikel, novel, maupun cerita pendek tersebar di sejumlah media massa seperti Kompas, Suara Karya, mingguan Mahasiswa Indonesia dan majalah Ekspres.
 


Gamelan, 90 cm x 150 cm, cat minyak diatas kanvas, 2011

Ia juga sempat bergiat di seni teater dengan mendirikan sebuah kelompok bernama Teater Bebad di Bandung, di mana ia tampil menjadi sutradaranya bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar (Alm). Dunia film pun pernah ia lakoni. Ia tercatat pernah membuat film baik cerita maupun dokumenter. Dalam bidang kesenian ia belajar banyak dari gurunya Elan Surawisastra, seorang dalang di Bandung. Karena pada awalnya ia sebenarnya bercita-cita menjadi dalang. Meski pernah bergelut dengan berbagai macam bidang kesenian, namun ia  lebih memilih dunia seni lukis sebagai profesinya hingga kini. Ia menekuni dunia seni lukis saat ia tinggal di Bandung. Pernah belajar melukis pada pelukis legendaris Hendra Gunawan di Bandung pada usia sekitar 16 tahun. Sejak saat itu boleh dibilang dunia seni lukis tak pernah lekang dari dirinya. Meski tak pernah mengecam pendidikan formal seni lukis, ia giat belajar ke mana saja, sehingga pada akhir tahun 1950-an sudah mengajar melukis mahasiswa ITB di Studi Lukis Burangrang, Bandung.

 
Pameran pertamanya adalah pameran bersama di Sydney, Australia, bersama para pelukis Sanggar Bambu yang diselenggarakan bersamaan dengan peresmian Sydney Opera House, ia pun pernah mengikuti pameran di Muenchen, Jerman, bahkan karyanya terpilih sebagai pemenang pertama pada kompetisi yang diselenggarakan disana. Setelah itu, ia lebih banyak berpameran di dalam negeri. Selain Jakarta, ia pernah berpameran di Bandung, Surabaya, Ambon, Yogyakarta, Bali, dan di sejumlah kota besar lainnya di Indonesia.
 
Keterampilannya sebagai pelukis terlihat jelas dari cara ia memainkan aturan komposisi umum. Dalam melukis seringkali ia tidak mengindahkan pendidikan akademis. Namun ia mahir memainkan teknik pisau palet yang fasih. Kadangkala di atas bidang kanvas memunculkan warna-warna kontras. Garis patah-patah dan secara keseluhan sejumlah karyanya memancarkan daya pesona.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply