Mardi Luhung


Penyair
Mardi Luhung
 
 
 
Terlahir dari ayah berdarah Cina dan ibu dari Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Ketika duduk dibangku SMP, ia mulai menulis puisi. Dan ketika di SMA (tahun 1984), satu-dua puisinya sudah dimuat di majalah remaja HAI (Jakarta). Setamat SMA, ia melanjutkan ke Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Jember.
 
Ia memiliki bahasa ungkap yang cukup unik dalam puisi-puisinya dan kerap bersentuhan dengan sastra Wacan, semacam tradisi sastra macapatan pesisiran khas Gresik, Jawa Timur. Puisinya khas suara-suara pesisir yang berbicara secara terbuka, dan langsung apa adanya. Puisi-puisinya menyemburkan diksi maupun imaji yang cenderung dihindari oleh mainstream perpuisian di tanah air karena dianggap kasar atau jorok. Ia dengan enak menulis ‘tukang jagal’, ‘kelamin yang dikerat’, ‘mayat gembong’, dan ‘kencing’ serta sederet ungkapan khas lainnya dengan logikanya sendiri, yang mampu membentangkan panorama kehidupan sosial pesisir yang keras. Sebagai penyair, Mardi Luhung tak henti memperluas dirinya sampai ke tapal-batas terjauh, bahkan hingga ke yang mustahil.
 
Puisi-puisinya banyak tersebar di berbagai media, seperti: Jurnal Kebudayaan Kalam, TUK Volume II Bertandang dalam Proses, Surabaya Post, HAI, Kuntum, Tebuireng, Memorandum, Kalong, Teras, Buletin DKS, Kidung DK-Jatim, dan Karya Darma. Sedangkan buku-buku yang memuat puisinya adalah: Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Horison Sastra Indonesia Kitab Puisi (2002), Bapakku telah Pergi (BMS, 1995), dan Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996). Buku puisinya yang telah terbit yakni ‘Terbelah Sudah Jantungku’, ‘Wanita yang Kencing di Semak’, ‘Ciuman Bibirku yang Kelabu’, dan ‘Buwun’. Sedangkan karya dramanya antara lain : ‘Tumpat’ (1993), ‘Transaksi’ (1994), dan ‘Dari Tanah ke Tanah’ (1994).
 
Pria yang kini berprofesi sebagai guru di SMP/SMU Muhamadiyah I Gresik ini tercatat pernah beberapa kali meraih beberapa penghargaan diantaranya salah satu esainya memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional pada Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diadakan oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999). Meraih Khatulistiwa Literary Award 2010 lewat Kumpulan Puisi ‘BUWUN/Bawean’ (2010. Ia juga sering diundang dan tampil pada kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra, diantaranya terpilih untuk mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam bidang puisi, bersama beberapa penyair dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura (2002), hadir dalam Cakrawala Sastra Indonesia (2004), International Literary Biennale (2005) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006. 
 
Penyair yang namanya masuk dalam gerbong sastrawan Angkatan 2000 dalam buku Korie Layun Rampan ini menetap bersama keluarga di Jl. Sindujoyo 100, Gresik, Jawa Timur.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
H.U. Mardi Luhung
 
Lahir :
Gresik, Jawa Timur,
5 Maret 1965
 
Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Jember
 
Profesi :
Pengajar SMP/SMU Muhammadiyah I Gresik,
Jawa Timur
 
Penghargaan :
Pemenang lomba penulisan esai tingkat nasional pada Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diadakan oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999),
Khatulistiwa Literary Award 2010 lewat Kumpulan Puisi BUWUN/Bawean
 
Karya :
Terbelah Sudah Jantungku,
Wanita yang Kencing di Semak, Ciuman Bibirku yang Kelabu, Buwun/Bawean,
Tumpat (1993),
Transaksi (1994),
Dari Tanah ke Tanah (1994)
 

You may also like...

Leave a Reply