Menzano

Nama :
Menzano
 
Lahir :
Bukittingi, Sumatera Barat,
30 Desember 1918
 
Wafat :
Jakarta, 12 Juli 1996
 
Pendidikan :
SLP
ATNI
 
Karier :
Anggota Kesatuan Penerangan Divisi VIII dengan pangkat akhir Sersan Mayor
 
Penghargaan :
Artis teladan PARFI (1980),
Penghargaan Kesetiaan Profesi dari Dewan Film Nasional (1990)
 
Filmografi :
Oh Ibuku (1955),
Puteri Revolusi (1955),
Di Balik Dingding (1955), Sengketa (1957),
Tiga Buronan (1957),
Djendral Kantjil (1958),
Tjambuk Api (1958),
 Habis Gelap Terbitlah Terang (1959),
Masih Ada Hari Esok (1961),
Desa Jang Dilupakan (1961),
Anak Perawan Disarang Penjamun (1962),
Matjan Kemajoran (1965),
Tikungan Maut (1966),
2 x 24 Djam (1968),
Djampang Mentjari Naga Hitam (1968),
The Big Village (1969),
Kutukan Dewata (1970),
Ananda (1970),
Tjisadane (1971),
Desa Dikaki Bukit (1972),
Bumi Makin Panas (1973),
Cincin Berdarah (1973),
 Suster Maria (1974), Benyamin Raja Lenong (1975),
Suci Sang Primadona (1977),
Si Ronda Macan Betawi (1978),
Demi Anakku (1979),
 Selamat Tinggal Duka (1980),
Seputih Hatinya Semerah bibirnya (1981),
 Semua Karena Ginah (1985)


Aktor Film
Menzano
 
 
 
Lahir di Bukittingi, Sumatera Barat, 30 Desember 1918. Pendidikannya di tempuh di SLP, kemudian ATNI. Mengawali karier di pentas sandiwara sebagai pemeran utama, penyanyi, dan pemain gitar. Ketika Indonesia merdeka, ia ikut kesatuan Penerangan Divisi VIII dan mundur dari bidang ketentaraan dengan pangkat akhir Sersan Mayor.
 
Pertama kali bermain di film layar lebar melalui film yang berjudul Oh Ibuku pada tahun 1955. Setelah itu, berturut-turut ia bermain dalam film ‘Puteri Revolusi’ (1955), ‘Di Balik Dingding’ (1955), ‘Sengketa’ (1957), ‘Tjambuk Api’ (1958), ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ (1959), ‘Masih Ada Hari Esok’ (1961), ‘Desa Jang Dilupakan’ (1961), ‘Anak Perawan Disarang Penjamun’ (1962), ‘Matjan Kemajoran’ (1965), ‘Tikungan Maut’ (1966), ‘2 x 24 Djam’ (1968), dll.
 
Di kenal sebagai salah seorang Seniman Senen, kerap memerankan peran jahat sejak ia berperan dalam film ‘Tiga Buronan’ (1957) dan ‘Djendral Kantjil’ (1958). Dalam film ‘Tiga Buronan’ (1957) besutan sutradara Nya’ Abbas Acub, ia berperan sebagai Sabeni, kaki-tangan Mat Codet, yang diperankan oleh Bing Slamet, kepala gerombolan liar yang mencoba menguasai sebuah daerah pasca perang kemerdekaan. Sedangkan dalam film ‘Djendral Kantjil‘ (1958) yang juga disutradarai oleh Nya’ Abbas Acub, ia berperan sebagai Bang Hamid, seorang pencuri yang sering menyatroni rumah penduduk.  
 
Berkat aktingnya yang menawan dalam setiap film yang di bintanginya, membuat namanya masuk dalam nominasi lewat film ‘Si Ronda Macan Betawi’ (FFI 1979) dan ‘Seputih Hatinya Semerah Bibirnya’ (FFI 1981) sebagai aktor pembantu. Selain itu, ia juga pernah terpilih sebagai artis teladan PARFI 1980, bersama aktris film Netty Herawati (1930-1989). Atas dedikasinya yang besar dalam dunia perfilman, pada tahun 1990, ia mendapat penghargaan Kesetiaan Profesi dari Dewan Film Nasional.
 
Aktor yang juga pernah bermain dalam film ‘Bumi Makin Panas’ (1973), ‘Cincin Berdarah’ (1973), ‘Suster Maria’ (1974), ‘Benyamin Raja Lenong’ (1975), ‘Suci Sang Primadona’ (1977), ‘Demi Anakku’ (1979), ‘Selamat Tinggal Duka’ (1980), dan ‘Semua Karena Ginah’ (1985) ini, tetap mencari makan dari kegiatan seni hingga akhir hayatnya. Wafat di Jakarta, 12 Juli 1996.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply