Mudji Sutrisno

Seniman Lukis
Mudji Sutrisno
 
 
 
Lahir di Surakarta (Solo), Jawa Tengah, 12 Agustus 1954. Pendidikannya di tempuh di SMA Seminari Martoyudan, Jawa Tengah, lulus tahun 1972. Kemudian melanjutkan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, lulus tahun 1977. Mengambil MA dan Phd, di Universitas Gregorina, Roma, lulus tahun 1986 dan pada tahun 1990 mengikuti Summer Course Religion and Art, Ichigaya Sophia University, Tokyo, Jepang.
 
Aktif juga di dunia sastra. Kiprahnya dalam dunia tulis menulis sudah dimulai sejak tahun 1983. Selanjutnya, seolah rutin setiap tahunnya ia selalu menerbitkan buku. Biasanya buku yang ia terbitkan bergenre non-fiksi jenis buku filsafat, kritikan-kritikan pada negara dan pemimpinnya. Buku yang pernah diterbitkannya antara lain, Zen dan Fransiskus (1983), Kata Jadi Sapa (1990), Estetika; Filsafat Keindahan (1993), Getar-Getar Peradaban (1994), Agama Wajah Cerah dan Wajah Pecah (1996), Driyarkara, Dialog Panjang bersama Penulis (2000), Kebenaran dan Keindahan dalam Perjuangan Mencari Makna (2000), dan lain-lain.
 
Di luar dunia sastra, ia juga menekuni dunia seni rupa. Ia kerap membuat gambar dalam bentuk sketsa. Sketsa yang dibuatnya kebanyakan dibuat dalam perjalanan-perjalanan yang dilakukannya. Apa yang disaksikannya di Roma, Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja, Solo, atau Magelang kemudian dihadirkannya dalam bentuk goresan hitam di atas kertas putih. Sketsa yang dibuatnya memang tampak sederhana namun mudah diresapi oleh para penikmat seni rupa.
 


Basilica di Santamaria Maggiore Roma, 18 x 25 cm

Sketsa yang dibuatnya dalam perjalanan-perjalanan yang dilakukannya, antara lain sketsa candi Ankor di Kamboja, Museum Nasional Phnom Penh di Kamboja, kuil Sukhotai di Thailand, Basilica di Santamaria Maggiore Roma, dan Pasar Hindu di Medan. Bahkan ketika melakukan perjalanan ke Vietnam, ia menangkap satu obyek yang dilukiskannya berulang kali, yaitu Sampan. Menurutnya, perahu kecil tersebut mengingatkannya akan Indonesia, yang memiliki banyak sungai tapi tak bisa dimanfaatkan seperti di Vietnam.
 

 
Sketsa menjadi pilihannya karena sketsa adalah awal dari lukisan. Belajar membuat sketsa adalah belajar melukis. Sketsa terlebih dahulu sebelum melukis. Karena saat ini ia beranggapan bahwa banyak generasi muda yang selalu ingin cepat bisa melukis tanpa belajar membuat sketsa. Sebagai pelukis, ia tercatat telah beberapa kali menggelar pameran tunggal dan turut serta dalam pameran bersama, diantaranya Pameran Tunggal ‘Garis-Garis Sketsa’ Mudji Sutrisno, SJ di Galeri Cemara 6, Menteng, Jakarta Pusat (Maret 2011), Pameran Tunggal ‘Ranah-Ranah Sketsa dan Puisi Mudji Sutrisno’ di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (Oktober 2012), Pameran Tunggal ‘Sketsa Perjalanan Mudji Sutrisno’ di Balai Soedjatmoko (April 2013), Jakarta dan Pameran Bersama ‘Cinta Kasih’ di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (Maret 2013). 
 
Pernah menjadi Panitia Pengawas Pemilihan Umum (1999), Anggota Lembaga Sensor Film (2001-2003), Wakil Press dan Anggota PEN (Perhimpunan Penulis, Novelis, Esais, Penyair Indonesia) (2001-2003), Anggota KPU (2001-2003), dan Steering Committe Kongres Kebudayaan (2003). Ia juga menjadi pengajar Filsafat pada Sekolah Filsafat Driyarkara dan pengajar Pascasarjana di Universitas Indonesia selain menjadi pemuka agama Kristiani.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Prof. Dr. FX Mudji Sutrisno SJ
 
Lahir :
Surakarta (Solo),
Jawa Tengah,
12 Agustus 1954
 
Pendidikan :
SMA Seminari Martoyudan, Jawa Tengah
 (lulus tahun 1972),
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta,
(lulus tahun 1977),
MA dan Phd di Universitas Gregorina, Roma, Italia
(lulus tahun 1986),
 Summer Course Religion and Art, Ichigaya Sophia University, Tokyo, Jepang (1990)
 
Aktifitas Lain:
Penulis,
Pengajar Filsafat Sekolah Filsafat Driyarkara,
Pengajar Pascasarjana Universitas Indonesia,
Pemuka agama Kristiani
 
Karya Tulis (antara Lain) :
Zen dan Fransiskus (1983),
 Kata Jadi Sapa (1990),
Estetika; Filsafat Keindahan (1993),
Getar-Getar Peradaban (1994),
Agama Wajah Cerah dan Wajah Pecah (1996), Driyarkara, Dialog Panjang bersama Penulis (2000), Kebenaran dan Keindahan dalam Perjuangan Mencari Makna (2000))

You may also like...

Leave a Reply