Firmansyah Muntaco

Nama :
Firmansyah Muntaco
 
Lahir :
Jakarta, 5 Mei 1935
 
Wafat :
Jakarta, 10 Januari 1993
 
Pendidikan :
HIS,
Sekolah Rakyat PUSO,
SMA bagian B,
Akademi Pendidikan Kejuruan jurusan Publisistik
 (tidak selesai),
Pendidikan penulisan skenario Kino Film di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (tidak selesai)
 
Aktifitas Lain :
Wartawan Berita Minggu,
Pemimpin Redaksi BM Muda (1956-1964),
Pendiri dan pemilik Sanggar Seni dan Sandiwara Surilang Group,
Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi,
Koordinator Paket Siaran Budaya Betawi di TVRI Stasiun Pusat Jakarta
 
Penghargaan :
Memenangkan lomba penulisan cerpen mengenai Betawi dari Pemda DKI (1969),
Penghargaan atas usahanya melestarikan seni budaya Betawi, terutama Betawi Tengah dari Universitas Jakarta (1991)
 
Karya tulis (diantaranya) :
Seikat Bunga Anyelir
(cerpen, 1955),
Lagu Malam (cerpen, 1956),
Si Buntung Ditantang,
 Ngamuknya Seorang Algojo,
 Si Botak Jagoan Nyentrik,
 Bubarnya Garong-garong Jelambar,
Satu Kali Satu (Cerpen),
Ratu Amplop
(naskah sandiwara)
 
 
 


Maestro Sastra Betawi
Firman Muntaco
 
 
 
Maestro sastrawan Betawi ini, lahir di Jakarta, 5 Mei 1935. Bernama asli Firmansyah Muntaco. Nama Muntaco merupakan nama yang diambil dari nama ayahnya. Ia merupakan anak sulung dari 5 bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Betawi. Ayahnya merupakan pemilik pabrik susu sapi perah di wilayah Jakarta Barat. Keberlimpahan materi ayahnya tidak membuatnya lupa diri. Ia tetap mencintai kehidupan masyarakat sederhana di sekitarnya, terutama warga pribumi asli yang kerap disebut orang Betawi.
 
Pendidikan formalnya ditempuh di HIS (Hollandsch Inlandsche School), Sekolah Rakyat PUSO, SMA bagian B, dan Akademi Pendidikan Kejuruan (APK) jurusan Publisistik yang hanya dijalaninya selama dua tahun (1955-1957). Pada tahun 1977-1978, ia pernah mengikuti pendidikan penulisan skenario Kino Film di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, namun tidak sampai selesai. Selain pendidikan formal, ia juga mendapat pendidikan non formal, ayahnya mengirimnya untuk belajar piano pada B. A. Soekirno, belajar biola pada Thio Bun Siat dan belajar mengaji dan agama Islam kepada Guru Zakaria di Tanah Abang.
 
Ketertarikannya terhadap sastra dibentuk oleh buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka. Novel anak-anak Si Doel Anak Betawi yang ditulis oleh Aman Dato Madjoindo memberi pengaruh besar pada kecintaannya terhadap sastra dan Betawi. Kecintaan itu pula yang membuatnya bercita-cita menjadi sastrawan pada sastra kanon. Untuk mewujudkannya, ia menulis karya sastra dengan menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu Tinggi.
 
Aktivitas kepengarangannya diawali dari genre puisi. Semangatnya menggeluti sastra semakin besar ketika sajak-sajaknya dimuat di surat kabar ketika ia duduk di kelas 3 SMA. Banyaknya surat kabar yang memuat cerpen mendorongnya untuk menulis cerpen. Cerpen pertamanya dimuat di Star Weekly pada bulan September 1955 dengan judul Seikat Bunga Anyelir. Setahun kemudian, cerpennya yang berjudul Lagu Malam dimuat di Aneka pada Juni 1956.
 
Kiprahnya sebagai penulis semakin meningkat setelah ia bergabung sebagai wartawan di surat kabar Berita Minggu. Karirnya di Berita Minggu diawali dengan menulis reportase, mengasuh rubrik muda-mudi, hingga menjabat sebagai pemimpin redaksi BM Muda. Rubrik Tjermin Djakarte yang diasuhnya pada surat kabar Berita Minggu (1956-1964) menjadi awal proses kreatifnya dalam penulisan cerita berbahasa Betawi. Melalui rubrik ini, karyanya dikenal luas oleh masyarakat di luar Jakarta. Pada masa itu oplah Berita Minggu naik drastis hingga mencapai ratusan ribu eksemplar karena kepopuleran cerpen-cerpennya.
 
Pada perkembangannya, kepopuleran tersebut mendorongnya untuk terjun secara total pada dunia penulisan cerpen. Ketika surat kabar Berita Minggu terpaksa tutup pada pertengahan tahun 1965 karena dianggap dekat dengan kalangan nasionalis dan politik Soekarno, ia justru memutuskan untuk menjadikan menulis sebagai mata pencahariannya. Semangatnya semakin tinggi ketika menerima penghargaan dari Pemda DKI tahun 1969 karena memenangkan lomba penulisan cerpen mengenai Betawi. Selepas dari Berita Minggu, ia menjalani kerja-kerja jurnalistik di sejumlah media sambil terus menulis cerpen. Kepopulerannya sebagai penulis cerpen humor berbahasa Betawi dalam Berita Minggu membuatnya mendapat rubrik khusus seperti Tjermin Djakarte di sejumlah media massa.
 
Selain cerpen, ia juga menulis sejumlah cerita bersambung yang dimuat di surat kabar Berita Buana. Berbeda dengan cerpen-cerpennya, cerita bersambung yang ditulisnya berisi cerita silat. Kesamaannya adalah menggunakan bahasa Betawi dan tetap berfokus pada kehidupan rakyat kecil. Cerita tersebut berjudul Si Buntung Ditantang, Ngamuknya Seorang Algojo, Si Botak Jagoan Nyentrik, Bubarnya Garong-garong Jelambar, dan Juragan Lenong dari Pasar Ikan. Kepopulerannya sebagai penulis cerita humor Betawi mengantarnya pada ranah film. Cerpennya yang berjudul Satu Kali Satu dikembangkan menjadi film Benyamin S (alm), berjudul Musuh Bebuyutan pada tahun 1974. Di tahun yang sama, naskah sandiwaranya difilmkan dengan judul Ratu Amplop dan juga dibintangi oleh Benyamin S (alm).
 
Tak berhenti sampai di situ, ia juga menunjukan kepeduliannya terhadap pelestarian kesenian Betawi dengan membentuk sebuah Sanggar Seni dan Sandiwara Betawi ‘Surilang Group’. Sanggar tersebut berfokus pada usaha pelestarian kesenian Betawi Tengah yang hampir punah, yakni sambrah, rebana, gambang kromong, dan sebagainya, juga membina dan menghimpun grup-grup kesenian Betawi dalam bentuk musik, tari, dan teater. Sanggar Betawi yang dibentuknya menjadi tempat berguru banyak orang, diantaranya adalah Benyamin S (alm), Nazar Amir (alm), Urip Arpan (alm), Jack Jhon (alm), dan Jaja Miharja.
 
Ketika pemerintah DKI Jakarta membentuk Lembaga Kebudayaan Betawi, ia terlibat dalam kepengurusan sebagai Ketua Harian. Posisinya sebagai Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi membawanya pada posisi sebagai Koordinator Paket Siaran Budaya Betawi di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Siaran Budaya Betawi ini disalurkan melalui acara Cakrawala Budaya Nusantara, Taman Bhinneka Tunggal Ika, Sandiwara (tradisional), Nusantara Menyanyi dan Nusantara Menari.
 
Hingga tahun 1991 sanggarnya telah tampil setidaknya 50 kali di TVRI dan sering melakukan pementasan di Taman Mini Indonesia Indah, Pasar Seni Ancol, Taman Ismail Marzuki, dan sejumlah hotel di Jakarta. Kepeduliannya pada perkembangan seni budaya Betawi Tengah juga sering mengantarnya menjadi pembicara di sejumlah seminar. Tahun 1991 Universitas Jakarta memberinya penghargaan atas usahanya melestarikan seni budaya Betawi, terutama Betawi Tengah.
 
Setelah terserang stroke pada tahun 1990, aktivitas menulisnya kian menurun. Tiga tahun kemudian, 10 Januari 1993, ia wafat. Dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Hingga akhir hayatnya, ia telah menghasilkan sekitar lebih dari 6000 cerpen yang dimuat di berbagai media.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply