Bob Yudhita Agung

Nama :
Bob Yudhita Agung
 
Lahir :
Yogyakarta, 26 Mei 1971
 
Pendidikan :
Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta (1991-1998)
 
Aktifitas Lain :
Manajer grup musik,
Event organizer musik undeground
 
Pencapaian :
Penghargaan lomba lukis anak,
penghargaan sketsa Terbaik ISI (1991),
Affandi Prize (2004)
 
 
 
 

Pelukis
Bob Sick
           
 
Bernama asli Bob Yudhita Agung. Julukan ‘Sick’ pada namanya merupakan wujud gejolak berkeseniannya yang dianggap ekstrem, bahkan ‘gila’. Dilahirkan di Yogyakarta, 26 Mei 1971. Pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1991-1998), bersama perupa Ugo Untoro dan S Teddy D. Semenjak kecil, ia sudah terbiasa dengan dunia gambar menggambar. Ketika itu ia beberapa kali memenangi lomba lukis anak.
 
Hobinya menggambar terus ia tekuni hingga ia duduk di bangku SMA dan kuliah. Ia telah berpartisipasi dalam banyak kompetisi menggambar dan melukis. Bahkan di masa kuliahnya, ia pernah memperoleh penghargaan yang cukup bergengsi. penghargaan sketsa Terbaik tahun 1991 dari ISI. Selain itu ia juga pernah memenangi Affandi Prize pada tahun 2004.
 
Dalam melukis ia lebih cenderung untuk menampilkan sisi bermainnya yang kental, dengan garis-garis tegas, meliuk-liuk, dan kadang memenuhi bidang kanvas. Garis mempunyai porsi yang sangat penting dalam karyanya. Kebanyakan karyanya menggunakan outline warna gelap yang tegas. Garis lengkung-lengkung tak putus-putus mirip sulur-sulur tetumbuhan. Sapuan kuas besar yang menyisakan lelehan cat basah, bagai sapuan jagoan graffiti di lorong-lorong jalanan. Terkadang lukisannya amat ramai, tak ada sisa ruang kosong, semua diisi penuh dengan ornamen-ornamen yang tak tentu rimba asalnya. Tetapi pada lukisan lain, terkadang juga dibiarkan sunyi.
 
Beberapa lukisannya diberi teks yang juga digoreskan dengan cara mengindah-indahkan teks mirip para ahli kaligrafi. Ia seringkali menuliskan pernyataannya dalam lukisan, baik pusi, komentar singkat, teks nama, judul dan tanggal lahirnya. Ia menggunakan kata-kata secara lepas, tanpa beban gamatika umum, dari bahasa Indonesia, Inggris, atau pun bahasa-bahasa lainnya.
 


Tatto Is My Way, Post Card Is My Poetry

Tema-tema lukisannya berkisar dari reaksi yang muncul dari dunia psikologisnya. Mulai dari tema tentang malaikat dan setan, tuhan, sakit hati, teman-temannya dan berbagai hal yang bisa dipikirkannya. Mirip dengan kata-kata yang diguyurkannya dalam kanvas, sosok-sosok manusia, makhluk aneh, objek-objek dan tumbuh-tumbuhan dalam kanvasnya seolah-olah didatangkannya begitu saja, digabung-gabungkan dengan tanpa mengikuti logika umum. Raw Art menjadi salah satu aliran yang mempengaruhinya. Ia mengaku tertarik dengan raw art sebagai sebuah ‘counter attack’ terhadap keunggulan teknis serta keindahan dalam lukisan yang disepakati umum.
 

 
Pada tahun 1995, mantan aktivis pro-demokrasi di Yogyakarta ini memutuskan mentato seluruh tubuh dan wajahnya, sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma negatif pada masa itu kepada orang-orang yang bertato. Ia ingin menunjukkan bahwa tidak semua orang bertato itu jelek perangainya, mereka juga bisa kreatif dan berguna bagi banyak orang.
 
Sebagai pelukis, ia sudah sering menggelar pameran tunggal dan pameran bersama. Pameran tunggal yang pernah ia adakan antara lain pameran tunggal ‘Meraih Kemenangan’, Millenium Gallery, Jakarta (2000); pameran tunggal ‘Sick Is Bliss’, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (2001); pameran tunggal ‘Aku Cinta Bapakku’, LIP Yogyakarta, Yogyakarta (2002); pameran tunggal ‘Di Bawah Pohon Ketepang Di Atas Springbed’, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (2004); ‘New Kid on the Block’, Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta (2005); pameran tunggal ‘Happy Birthday NIN’, Jogja National Museum, Yogyakarta (2007), dll.
 
Sedangkan sejumlah pameran bersama yang pernah di ikutinya antara lain pameran bersama Kelompok Sapu Lidi, Taman Budaya Surakarta, Solo (1992); pameran bersama BNR, Sasana Aji Yasa, ISI, Yogyakarta (1993); pameran bersama FKY VI, Benteng Vredeburg, Yogyakarta (1994); pameran bersama ABURGIM, Purna Budaya, Yogyakarta (1995); pameran bersama Sanggar Suwung I, Taman Siswa, Yogyakarta (1995); pameran bersama Dialog 2 Kota, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1996);  pameran bersama Sanggar Suwung III, Taman siswa, Yogyakarta (1997); pameran bersama FKY X, Museum Vredenburg, Yogyakarta (1998); Boudewijn Brand Collection, Bremen Gallery, Germany (1999), dll.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply