Hendrikus Johanes Smit

Nama :
Hendrikus Johanes Smit
 
Lahir :
Zaandam, Belanda,
15 April 1916
 
Pendidikan :
Desain Grafis di Akademi Seni di Rotterdam, Belanda
 
Aktifitas Seni :
Pengajar grafis dan litografi di Institut Teknologi Bandung,
Pendiri dan Pencetus Aliran Young Artist
 
Penghargaan :
Penghargaan Dharma Kusuma dan Widja Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali (1992)
 
 
 


Pelukis
Arie Smit
 
 
 
Anak ketiga dari delapan bersaudara dari seorang pedagang keju dan gula ini, lahir di Zaandam, Belanda, 15 April 1916. Tahun 1924, keluarganya pindah dari Zaandam ke Rotterdam. Di Rotterdam ia sempat belajar desain grafis di sebuah Akademi Seni. Tahun 1938 Ia dikirim ke Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum kemerdekaan) untuk dinas militer, di mana ia bekerja sebagai lithographer untuk Layanan Topografi tentara Belanda di Batavia.
 
Awal tahun 1942, ia dipindahkan ke infanteri di Jawa Timur, namun ia ditangkap oleh pasukan Jepang ketika mereka menyerang wilayah tersebut. Oleh Jepang ia di jebloskan ke dalam kamp kerja paksa selama lebih dari 3 tahun. Di tempat tersebut, ia dipaksa untuk membangun jalan, jembatan, dan rel kereta api di Singapura, Thailand, dan Burma (sekarang Myanmar).
 
Setelah perang berakhir, tahun 1945, ia dibebaskan dan kembali ke Indonesia. Di tahun 1951 ia resmi menjadi warga negara Indonesia dan menjadi pengajar grafis dan litografi di Institut Teknologi Bandung. Waktu luangnya ia manfaatkan untuk tetap melukis dan pada tahun 1953 pameran tunggalnya yang pertama di gelar di Palembang, Sumatera Selatan.
 


Tropical Beach Flanked by Coconut Tree

Pertama kali mengunjungi Bali pada tahun 1956, atas undangan Jim Pandy seorang pengusaha benda seni. Awalnya ia tinggal di sebuah rumah kecil di wilayah pantai Sanur. Setelah itu ia memutuskan untuk tinggal di berbagai desa yang berbeda di pulau Bali sambil tetap melukis. Ketika tinggal di berbagai desa di Bali itulah, ia kerap prihatin melihat kehidupan penduduk Bali khususnya penduduk di dusun Penestanan yang banyak kekurangan. Sebagian besar penduduk di dusun itu bekerja sebagai buruh tani, anak-anak banyak yang tidak bersekolah dan menjadi pengangon bebek. Melihat situasi tersebut, ia mencoba menaikkan harkat penduduk di sekitar situ, dengan cara mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Setelah melewati berbagai hambatan,  tahun 1960 berdirilah perkumpulan seni lukis anak-anak di Penestanan, yang dinamai ‘Young Artist’.

 
 Pada mulanya ‘Young Artist’ hanya melibatkan 40 anak, dengan di dalamnya tercatat sejumlah nama yang di kemudian hari menjadi tokoh seniman terkenal, seperti Ketut Soki, Nyoman Cakra, Nyoman Londo, Wayan Pugur, Ketut Tagen, dan Ngurah KK. Perkumpulan ini kian berkembang sehingga dalam tempo beberapa tahun sudah ada ratusan anak yang ikut melukis. Dengan gaya lukisannya yang kuasi modern, disertai bentuk-bentuk naif dan warna-warna menyala, membuat lukisan tradisional kelompok ‘Young Artist’ mendapat tempat di pasaran. Maraknya, pasar ini tentu saja mengubah secara drastis kehidupan ekonomi Dusun Penestanan. Bahkan, ketika Bali dilanda krisis turis akibat letusan Gunung Agung tahun 1963, lukisan-lukisan ‘Young Artist’ tetap mengibarkan sayapnya lantaran agen-agen seni lukis ‘Young Artist’ di Belanda, Jerman, sampai Meksiko terus menyerapnya.
 
Seni lukis ‘Young Artist’ berkembang sampai lima dekade. Para pelukis angkatan pertama yang senantiasa bangga dengan sebutan ‘young’ memang menurunkan spirit kepada generasi di bawahnya. ‘Young Artist’ pun kemudian menjelma menjadi sebuah aliran. Pada 2010 pelaku terujung seni lukis ini sudah sampai pada status ‘cucu’. Dilihat dari jumlah pelukisnya yang ribuan, bisa dibilang ‘Young Artist’ merupakan aliran terbesar di Indonesia.
 
Ia tak pernah menduga, pembelaannya atas ras Asia Tenggara lewat komunitas kecil Penestanan menghasilkan buah besar yang menggelantung sampai sekarang. Atas jasa-jasa itu, ia mendapat penghargaan Dharma Kusuma dan Widja Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali. Karya-karyanya kini banyak dikoleksi disejumlah tempat seperti Museum seni ARMA, Museum Neka di Ubud, Bali dan Museum Penang, Malaysia.

(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply