Soetomo Gandasoebrata

Nama :
Soetomo Gandasoebrata
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur,
23 Juni 1926
 
Wafat :
Tahun 1998
 
Pendidikan :
SMA (1951),
Pendidikan Ahli Film
(PFN-UNESCO, 1951-1952),
Belajar produksi TV untuk Pendidikan Orang Dewasa di Singapura (1975)
 
Karier :
Pengajar Sinematografi IKJ (1972 s/d 1994),
 
Penghargaan :
Sinematografi terbaik melalui film R.A Kartini (FFI 1983),
 Sinematografi terbaik melalui film Budak Nafsu (FFI 1984), Sinematografi terbaik melalui film Langitku Rumahku
(FFI 1991),
Penghargaan Kesetiaan Profesi (1991)
Hadiah Usmar Ismail dari Dewan Film Nasiona (1992)
Penghargaan Festival Film Bandung sebagai Penata kamera Terpuji melalui film Langitku Rumahku (1991),
 Penghargaan Festival Film Bandung sebagai Penata Kamera Terpuji melalui film Lagu Untuk Seruni (1992)
 
Filmografi :
Si Pintjang (ajk, 1951),
 Rentjong & Surat (ajk, 1953),
Meratjun Sukma (ajk, 1953),
Kopral Djono (1954),
Ajam dan Lepeh (pip, 1960),
Penjeberangan (1963),
 Bulu- bulu Cendrawasih (1978),
Singa Lodaya (1978),
Jaringan Antar Benua (1978),
Diujung Malam (1979),
Sepasang Merpati (1979),
 Ratapan Anak Tiri II (1980),
Dr. Karmila (1981),
Kartini (1982),
Budak Nafsu (1983),
 Kerikil-Kerikil Tajam (1984),
Opera Jakarta (1985),
 Telaga Airmata (1986),
Bayi Tabung (1988),
 Langitku Rumahku (1989), Kantata Taqwa (1990),
 Perwira & Ksatria (1990),
 Lagu Untuk Seruni (1991),
 Rini Tomboy (1991),
 Pelangi di Nusa Laut (1992)
 
Sinetron :
SuroBuldok
Jendral Besar Sudirman
 


Seniman Film
Soetomo Gandasoebrata
 
 
 
 
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 Juni 1926. Pendidikannya di tempuh di SMA (1951), lalu Pendidikan Ahli Film (PFN-UNESCO, 1951-1952). Di awal kemerdekaan (1945 – 1950), Ia bertugas di Bagian V Kementrian Pertahanan. Lalu masuk PFN (kini PPFN).
 
Karirnya di dunia film dimulai pada tahun 1951, sebagai asisten juru kamera untuk film ‘Si Pintjang’ (1951). Selanjutnya, sebagai asisten juru kamera ia kembali ikut terlibat dalam pembuatan film ‘Rentjong & Surat’ (1953) dan ‘Meratjun Sukma’ (1953). Hingga tahun 1965, ia banyak mengerjakan film berita dan dokumenter. Setelah itu, Aktifitasnya lebih ke film cerita setelah pembuatan ‘Bulu-Bulu Cendrawasih’ (1978).
 
Setelah belajar di Singapura (1975) dalam hal produksi TV untuk Pendidikan Orang Dewasa, ia aktif di IKJ-LPKJ sebagai pengajar mata kuliah Sinematografi yang di jalaninya sejak tahun 1972. Pada tahun 1976-1979, ia menjabat wakil ketua Akademi Sinematografi IKJ (1976-1979), lalu menjadi Ketua Jurusan Sinematografi (1979-1983), Dekan Fakultas Seni Rupa dan Disain IKJ (1983-1990), serta Dekan Fakultas Film dan TV (1991-1994). Di masa kepemimpinannya, FFTV diterima menjadi anggota Cilect sebuah Asosiasi Sekolah Film dan Televisi Internasional. Ini menjadi bukti bahwa kurikulum pendidikan FFTV IKJ diakui secara Internasional.
 
Meski telah menjadi akademisi di lingkungan IKJ, namun ia seringkali harus berada diluar kampus sebagai juru kamera. Dari 1977 hingga 1990, ia tercatat telah menjadi juru kamera tak kurang dari 20 film.  Film terakhir yang di tanganinya dengan kamera 16 mm adalah ‘SuroBuldok’ untuk serial TV. Setelah itu ia menggarap serial TV dengan judul ‘Jendral Besar Sudirman’.
 
Atas peran aktifnya yang besar di film, ia pernah mendapat penghargaan sinematografi terbaik dalam Festival Film Indonesia lewat ‘R.A Kartini’ (FFI 1983), ‘Budak Nafsu (FFI 1984) dan ‘Langitku Rumahku’ (FFI 1991). Selain itu namanya juga pernah masuk dalam nominasi sinematografi terbaik lewat ‘Opera Jakarta’ (FFI 1986). Mantan Anggota Dewan Film Nasional (1991-1994) dan Anggota LSF sejak 1995 ini, juga pernah mendapat Penghargaan Kesetiaan Profesi 1991, hadiah Usmar Ismail dari Dewan Film Nasional (1992), Penghargaan Festival Film Bandung (1991) sebagai Penata kamera Terpuji lewat film ‘Langitku Rumahku’  dan Penghargaan Festival Film Bandung (1992) sebagai Penata Kamera Terpuji lewat ‘Lagu Untuk Seruni’.
 
Seniman film yang juga seorang akademisi ini, wafat pada tahun 1998, di usia 71 tahun.
 
(Dari Berbagai Sumber)   
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply