Raden Ogeng Heru Supono

Nama :
Raden Ogeng Heru Supono
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur,
14 Juli 1937
 
Wafat :
9 September 1991
 
Pendidikan :
SMA (1955),
Akademi Kesenian Surakarta, Jurusan Seni Rupa (1957-1958)
 
Aktifitas Lain :
Anggota Sanggar Angin Surabaya, Jawa Timur,
Anggota Sanggar Janur Kuning, Abian Kapas (Bali),
Anggota Sanggar Kedaton Ubud (Bali)

Seniman Senirupa
O.H. Supono
 
 
 
Bernama lengkap Raden Ogeng Heru Supono, lahir di Surabaya, Jawa Timur, 14 Juli 1937. Mulai belajar melukis secara otodidak sejak ia duduk di bangku SMA (1955). Belajar lebih dalam tentang dunia seni rupa saat menempuh kuliah di Akademi Kesenian Surakarta, Jurusan Seni Rupa (1957-1958). Ia juga pernah bergabung dalam kelompok Sanggar Angin Surabaya.
 
Tahun 1959, ia hijrah ke Bali. Di Bali, ia bergabung dengan Sanggar Janur Kuning, Abian Kapas, bersama Solikhin Hasan, Tedja Suminar, dan Mardian. kemudian, ia pindah ke Sanggar Kedaton Ubud dan dekat dengan pelukis Fajar Sidik, Bambang Soegeng, Alimin, Rusli Hakim, Rudiat, dan Ipe Ma’ruf. Pelukis-pelukis lain seperti Nashar, Rusli, Sudarso, dan Affandi, sering pula berkunjung ke sanggarnya, secara tidak langsung memberikan wawasan yang lebih luas baginya. Sekitar tahun 1961, ia memutuskan kembali ke Surakarta, Jawa Tengah, tapi kemudian ia tinggal di Surabaya, Jawa Timur.
 
Oleh teman sejawatnya ia dikenal sebagai seniman yang tekun dan terus mencari berbagai gagasan baru dan teguh dalam bersikap. Selain mengangkat tema nostalgia, ia tertarik mengangkat tema binatang hingga Borobudur. Khusus Borobudur, ia menaruh kekaguman luar biasa, tidak hanya karena tiada taranya di dunia ini, tapi juga kandungan isi yang ada pada reliefnya, sambil melukis, ia juga berguru pada candi itu. Ia juga di kenal sebagai pelukis yang dekat dengan keluarga. Kedekatan dan kecintaannya berbuah selain rasa hormat segenap keluarga, juga sikap apresiasi yang besar terhadap karya-karyanya.
 

Potret Diri, 119 cm x 99 cm
Cat Minyak diatas kanvas (1976)

Karya-karyanya pada 1959-1984 dapat di kelompokkan dalam tiga gaya, yakni ekspresionisme, kubisme, dan surealisme. Oleh karenanya ia di kenal pula sebagai sosok pelukis yang piawai dengan beragam teknik melukis. Gaya ekspresionisme di anutnya saat awal ia melukis. Sedangkan gaya kubisme dilakoninya sekitar tahun 1966, meskipun masih terasa korelasi dengan gaya ekspresionisme. Seperti gaya ekspresionisme, dalam gaya kubisme, ia masih membutuhkan objek-objek dari alam, juga suasana-suasana tertentu untuk membangkitkan gairah melukis. Baginya, objek-objek dan kesenian terutama kesenian Jawa sering membangkitkan emosi dan gairahnya untuk melukis.
 
Baru Sekitar tahun 1969, lukisannya mulai berkecenderungan ke arah surealisme. Meskipun, pada saat tertentu ia juga tetap melukis dengan gaya ekspresionis. Sedangkan gaya kubisme ditinggalkan sama sekali. Gaya surealismenya dipengaruhi budaya tempatnya tumbuh. Sebagai orang Timur, secara turun-temurun ia terbiasa dengan seribu satu cerita ganjil, mimpi-mimpi aneh, dongeng-dongeng, dan sebagainya. Sangat dibutuhkan spiritualisme yang tinggi selain imajinasi dan ide-ide. Imajinasi serta mimpi-mimpi yang juga dipengaruhi tradisi dan budaya tidak lepas dari legenda serta cerita-cerita wayang.

 
Pada eranya (1960-1980-an), masih sedikit seniman yang mempunyai keberanian untuk berubah-ubah gaya lukisan. Saat itu adalah suatu era modernis yang mengultuskan gaya pribadi atau individual ekspresi tunggal. Tetapi, ia berpendapat, perjalanan kesenian yang panjang tentu memberikan pengaruh terhadap pribadi, juga karya-karyanya. Baginya, wajar ada pengaruh-mempengaruhi dalam suatu sikap berkarya. Mungkin, saat itu bukanlah hal yang jamak bila seseorang bisa toleran terhadap pengaruh dalam berkesenian.
 
Semasa hidupnya, ia sering mengikuti pameran di kota-kota besar di Indonesia, ASEAN hingga Eropa. Lukisannya banyak dikoleksi oleh kolektor maupun instansi di dalam dan luar negeri, diantaranya beberapa karyanya dikoleksi Museum Fukuoka, Jepang (1985). Di tahun yang sama, karya-karya Borobudurnya juga masuk Museum Darwin, Australia. Sebelumnya, lukisan-lukisannya masuk Museum Fatahillah (Jakarta), Museum Rudana (Bali), dan Museum Neka Ubud (Bali). Antara tahun 1957-1985, jumlah lukisannya mencapai 5.000 buah. Sedang tahun 1986, ia membuat sekitar 800 buah. Di Bali, sambil berpameran selama sebulan ia menghasilkan 22 buah lukisan. Ia juga mencipta patung, relief, serta batik kontemporer.
 
Seniman bertalenta tinggi ini wafat pada tanggal 9 September 1991, dalam usia 54 tahun. Meninggalkan ribuan karya lukis, patung, batik, relief, dll, serta keluarga yang dicintai. Untuk mengenangnya, keluarganya meluncurkan buku monograf berjudul The Impression of O.H Supono yang ditulis Sandi Antoro di Gedung Merah Putih Komplek Balai Pemuda, Surabaya, pada November 2009. Buku ini terdiri atas tujuh bagian, yang meliputi : Masa Kanak-kanak, Pilihan Hidup Sebagai Pelukis, Seni Rupa O.H. Supono, Membangun Keluarga, Sisi Lain, Filosofi Kehidupan, serta Babak Akhir O.H. Supono. Buku ini juga dilengkapi dengan karya lukis, sket, patung, dan batik kontemporer khas O.H. Supono.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply