Maryam Supraba

Nama :
Maryam Supraba
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
28 April 1978
 
Pendidikan :
SMAN 21 (Jakarta)
 
Filmografi :
Kampus Bukan Kuburan
(2006, FTV),
Rasa Rindu (2010),
Cendol (2010),
Dunia Paruh Waktu
(film omnibus Sinema Purnama, 2012),
Kisah 3 Titik (2013),
Negeri Tanpa Telinga (2014),
Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014),
Inerie-Mama Cantik (2014)
 
Pencapaian :
Aktris terbaik Festa Film Independen Bandung (2012)
 

Aktris Teater
Maryam Supraba
 
 
 
 
Perempuan yang akrab di panggil Mei ini, lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 28 April 1978. Ia merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara, puteri pasangan WS Rendra (alm) dari pernikahannya yang ketiga dengan Ken Zuraida yang juga merupakan seorang seniman teater andal.
 
Meski kedua orang tuanya di kenal sebagai seniman yang aktif di dunia teater dan seni peran, Mei yang sejak kecil tinggal bersama kakek dan neneknya di Bandung, awalnya justru tidak dekat dengan dunia tersebut. Karena kedua orang tuanya pun tidak pernah mengajarkan secara langsung seperti apa dunia teater dan seni peran kepadanya. Malah, ia lebih suka bernyanyi dan membentuk grup musik Saguaro.
 
Namun, meski begitu, dunia yang telah membesarkan nama kedua orang tuanya tidak serta-merta ia tinggalkan. Bermula dari niatan untuk berbakti terhadap ayahnya, perlahan darah seni mengalir di tubuhnya, sehingga kecintaan terhadap seni teater terus meningkat. Ia kemudian ikut bergabung dengan Bengkel Teater Rendra yang di pimpin oleh sang ayah.
 

Tahun 2005, ia memulai debut teaternya. Pertama kali tampil dalam pementasan ‘Sobrat’, memerankan sosok Mongkleng. Awalnya ia mengaku kesulitan karena tidak pernah diajari bagaimana bermain teater oleh orangtuanya. Selama empat bulan ia berlatih keras untuk pementasan tersebut. Perasaan gugup dan tidak percaya diri menyelimuti benaknya hingga saat ia berada di atas panggung. Kendati demikian, banyak orang yang memberi apresiasi positif terhadapnya seusai memulai debut berteaternya tersebut.
 


Satu Merah Panggung ‘TITIK TERANG’ (2013)

 
Sejak saat itu, Alumni SMAN 21 ini merasa jatuh cinta pada seni panggung. Ia sangat menikmati setiap proses untuk mematangkan aktingnya. Hingga saat ini, tercatat sudah lebih dari sepuluh kali ia terlibat dalam pementasan teater. Tahun 2006, ia diajak dan diajari oleh Putu Wijaya untuk berakting di depan kamera. Film televisi (FTV) ‘Kampus Bukan Kuburan’ menjadi penampilan yang perdana dan terakhir baginya, karena menurutnya, ia lebih berhasrat berteater karena live dan tidak ada ada cut.
 
Karena ajakan dari teman-temannya, ia pun lantas tercebur di film layar lebar. Tahun 2010, dua judul film sekaligus ia bintangi. Selain menjadi pemeran utama film pendek ‘Rasa Rindu’ garapan Storylab, ia juga bermain di film ‘Cendol’ yang disutradarai oleh Leony Vitria Hartanti. Setahun kemudian, ia  kembali melakukan shooting untuk film omnibus ‘Sinema Purnama’, dalam cerita berjudul ‘Dunia Paruh Waktu’.
 
Ia kembali menampilkan kepiawaiannya berakting dalam film layar lebar berjudul ‘Kisah 3 Titik’ (2013). Film ini meruapakan film panjang perdananya. Dalam film tersebut ,ia berperan sebagi Titik, gadis tomboy yang bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Tahun 2014, ia kembali tampil berakting dalam tiga buah film,’ film ‘Negeri Tanpa Telinga’, yang di sutradarai dan di produseri oleh Lola Amaria. Tampil sebagai pemeran pembantu dalam film ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’, dan tampil dalam film drama-dokumentasi ‘Inerie-Mama Cantik’, berperan sebagai Bella.
 
Aktingnya yang cermelang dalam film Pendek ‘Rasa Rindu’ (2010) garapan Storylab, membuatnya terpilih sebagai aktris terbaik dalam ajang Fiesta Film Independen Bandung (FFIB) 2012 Film ini juga berhasil terpilih sebagai Film Terbaik dan mengantarkan sang sutradara Nurazis Widayanto menyabet gelar sebagai Sutradara Terbaik.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply