Putu Sutawijaya

Nama :
Putu Sutawijaya
 
Lahir :
Angseri, Baturiti, Tabanan, Bali, 27 November 1970
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah Seni Rupa Denpasar, Bali (1987-1991),
Jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia  Yogyakarta
(1991-1998)
 
Penghargaan :
Sketsa Terbaik Dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1991),
 Lukisan Cat Air Terbaik Dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1991),
Lukisan Cat Minyak Terbaik dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1992),
Seni Rupa terbaik dari ISI Yogyakarta pada Dies Natalis ke-11 di ISI, Yogyakarta (1995),
The Best 10 Artists, Philip Morris Indonesia Art Awards (1999),
Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia (2000)
 


Pelukis
Putu Sutawijaya


 
Anak sulung dari empat bersaudara ini dilahirkan di Angseri, Baturiti, Tabanan, Bali, 27 November 1970. Ayahnya seorang pegawai dan juga petani, sedangkan ibunya pedagang dan pemilik toko kelontong. Pertama kali mencintai seni karena cemburu pada teman-teman sekolah yang selalu dikirim ke mana-mana untuk ikut lomba gambar. Perasaan cemburu itulah yang memicunya belajar menggambar. Mungkin karena berbakat, dalam waktu singkat ia sudah bisa menyamai kepandaian teman-temannya tersebut.
 
Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, ia sudah mampu menjual karya-karya ilustrasi wajah-wajah Indo dan oriental sebagai sampul novel ke penerbit lokal. Lalu ketika mengikuti pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), ia menjual karya lukis khas Bali tradisionalnya ke Pasar Seni Sukawati (pasar barang-barang kerajinan terkenal di Bali). Ia bahkan sanggup meningkatkan daya jualnya dari harga Rp.3500 hingga Rp.10 ribu rupiah di akhir tahun 80-an.
 
Setelah lulus SMSR di tahun 1991, Ia melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, masuk jurusan Seni Lukis (1991-1998). Langkah ini merupakan pijakan yang ia harus ditempuh demi meninggalkan citra sebagai tukang gambar menuju eksistensi seorang seniman. Pengalaman estetiknya dimulai ketika ia membawa-bawa gulungan karya untuk diperlihatkan pada galeri-galeri kecil di Bali setiap libur semester sebagai langkah awal memperkenalkan karya. Ia menghayati setiap pengalamannya tersebut. Pengalaman inilah yang pada akhirnya mewarnai perkembangan estetiknya kemudian: antara ide kreativitas dan kemauan pasar. Perjuangan untuk mendapat apresiasi juga menjadi romantika tersendiri baginya. Ia selalu punya banyak siasat untuk “menjual” hasil karyanya. Salah satunya adalah dengan modus provokasi. Tak jarang pula ia harus rela menunggu berjam-jam di galeri menunggu pemilik menemuinya.
 
 


The Way To Arahat, 140 x 200 cm, mixed media (2007)

Karena aktivitas hidupnya yang berkutat pada seni, mau tidak mau mendorongnya untuk bisa membuat karya seni yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia pun terus membuat karya-karya baru yang berbeda dengan sudut pandang mainstream masa itu. Salah satunya adalah penggunaan figur lelaki dalam karyanya. Kekhasan-nya yang lain, ia kerap menggunakan tinta cina, yang menurutnya sudah terbukti kekuatannya sejak ribuan tahun lalu.
 
 

 
Salah satu karyanya Looking for Wings, yang ia buat pada tahun 2002, menjadi perbincaraan kalangan penggiat senirupa di tanah air maupun mancanegara setelah terjual di balai lelang Sotheby’s dengan harga fantastis. Para pengamat seni rupa mengatakan bahwa peristiwa yang sering disebut sebagai ‘Insiden Mei 2007’ ini telah menjadi pemicu ledakan seni rupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia pada akhirnya diperhitungkan sebagai surga baru perburuan seni kontemporer, bersaing dengan Cina dan India. Sejak itulah namanya bertengger di jajaran seniman kelas atas Indonesia. Karya-karya illustrator gambar pada novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata ini  terus diburu.
 
Pameran tunggal dan bersama yang pernah diadakannya baik di dalam negeri maupun di luar negeri antara lain pameran tunggal ‘Energi’ di Gajah Gallery, Singapura (1999), pameran tunggal ‘Metafor Tubuh’, di D Galeri, Jakarta (2003), Pameran Tunggal ‘Kamar & IIusi Tubuh’, Canna Gallery, Jakarta (2004), Pameran Tunggal ‘Body-O’, di Valentine Wille Art Gallery, Malaysia (2006), Pameran Tunggal ‘Full Moon’, Sin Sin Fine Art, Hong Kong (2007), pameran bersama ‘Dimensi Raden Saleh’ di Semarang Gallery, Semarang (2002), pameran bersama ‘Shanghai International Art Fair’ di Shanghai and Beijing, China (2003), pameran bersama ‘Art Saturdays’, Sin Sin Fine Art, Hong Kong (2005), ‘40 Plus, 40 Minus’, Sin Sin Fine Art, Hong Kong (2007), dll.
 
Atas peran aktifnya di dunia seni rupa, Putu Sutawijaya beberapa kali meraih penghargaan, diantaranya meraih penghargaan Sketsa Terbaik dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1991), Lukisan Cat Air Terbaik Dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1991), Lukisan Cat Minyak Terbaik dari Departemen Seni Rupa, ISI, Yogyakarta (1992), Seni Rupa terbaik dari ISI Yogyakarta pada Dies Natalis 11 di ISI, Yogyakarta (1995), The Best 10 Artists, Philip Morris Indonesia Art Awards (1999), dan Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia (2000).
 
Pelukis yang pernah mengikuti workshop di  Valentine Willie Fine Art and Gudang, Kuala Lumpur, Malaysia (2006), Valentine Willie Fine Art and Patisatu Studio, Kuala Lumpur. Malaysia (2007), dan Der Kulturen Museum, Basel, Swiss (2001) ini, membangun Sangkring Art Space di atas lahan yang dibelinya di Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Sangkring Art Space yang dibuka untuk publik pada tahun 2007 ini berupa bangunan masif berlantai 3, yang dapat di gunakan untuk berbagai kegiatan kesenian, dari mulai pameran, pementasan teater, sampai pembuatan publikasi.
 
Menikah dengan Vi Mee Yei (Jeni), asal Malaysia pada 28 Desember 2000, di karuniai dua orang anak yakni Putu Zheng Kang Vijaya dan Luh Made Zhen Xin Vijaya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply