Turah

Nama :
Turah
 
Lahir :
Desa Pogung,
Sleman, DI Yogyakarta,
20 April 1920

Wafat :
Jakarta, November 1997

Pendidikan :
Sekolah Rakyat

Album :
Uler Kambang (1980),
Kutut Manggung (1980), Palaran Pangkur (1980)
Palaran Pangkur Wolak-Walik
Lambangsari Djangkep, Slendro Manjura,
Gending Nyi Tjondrolukito

Penghargaan :
Namanya diabadikan menjadi nama jalan di Selatan Monumen Yogya Kembali oleh Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta
 


Pesinden
Nyi Tjondrolukito
 

Pesinden Legendaris ini, terlahir dengan nama asli Turah, di Desa Pogung, Sleman, Yogyakarta pada 20 April 1920. Tamatan Sekolah Rakyat (SD), belajar tentang nyanyian jawa dari bapaknya, mulai dari mocopatan, sekar-sekar tanpa iringan lalu juga tembang-tembang. Pertama kali dikenal suara ‘emasnya’ oleh Lurah Laras Sumbogo yang sedang berburu burung di seputar rumahnya di desa Pogung. Sejak saat itu ia latihan di Joyodipuran. Tiga hari latihan disitu lalu dibawa ke Kepatihan dan oleh Kanjeng Pangeran Haryo Danurejo, kemudian ia langsung diberi nama Penilaras, Peni artinya bagus, Laras artinya pas.

Pada usia 18 tahun ia dianjurkan oleh istri Kanjeng Patih, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, untuk ikut Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Akhirnya ia dibawa ke keraton dan bekerja sebagai seorang abdi Keraton Ngayogyakarta. Di tempat tersebut, ia sering melantunkan kidung dengan suara emasnya. Kemudian ia diberi nama baru, Padhasih, oleh Sri Sultan HamengkubuwonoVIII. Setelah itu setahap demi setahap kesuksesan di dunia tarik suara mulai terbuka luas bagi dirinya, hingga pada akhirnya ia dipersunting oleh penari kraton Tjondrolukito.

Pada masa awal kemerdekaan, ia mulai bernyanyi untuk RRI dan menjadi tenaga honorer di RRI Jakarta. Sejak itulah ia mulai dikenal kalangan luas. Uyon-uyon adalah bentuk kesenian yang paling sering dinyanyikannya, selain mengiringi pertunjukan wayang kulit ataupun iringan tarian. Ciptaannya, Jineman Kutut Manggung menjadi salah satu karya legendarisnya. Sebagai penyanyi, ia begitu fanatik dengan kebudayaan Jawa, sebab budaya itu baginya sumber keluhuran, keagungan dan keindahan dan itu semua menimbulkan ketentraman. Ketenangan batin itu yang menjadi utama dalam kehidupannya.

Ia juga dikenal sering berinovasi dan menabrak pakem-pakem klasik. Ketika bernyanyi, pada nada rendah dan tinggi suaranya tetap dandang, cengkok dan wiledannya pun khas dirinya. Selain itu ia juga peka terhadap ‘saleh nada’ (kalimat lagu) yang jatuh pada nada. Dalam berpentas, khususnya untuk pentas gamelan, ia sangat mematuhi adat murni karawitan. Ia hanya bersedia pentas di atas panggung di mana para penontonnya tidak duduk di kursi atau berdiri. Personil karawitan seyogyanya duduk lebih tinggi daripada penonton.

Alunan suaranya tidak saja digemari oleh orang-orang yang berasal dari suku Jawa, tetapi juga orang-orang luar Jawa, mereka sangat kagum akan kelihaiannya dalam melantunkan lagu/tembang. Bahkan berkat kemerduan dan kejernihan suaranya itu, ia kerap di minta oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno untuk mengisi acara di Istana Negara, untuk menghibur tamu dari luar negeri.

Pada pertengahan tahun 1980, Albumnya ‘Palaran Pangkur’ diproduksi oleh Perusahaan Rekaman Fajar, dan diproduseri budayawan terkemuka Yogyakarta, Bagong Kussudiardjo, ayah seniman teater Butet Kertaredjasa. Dalam usia yang sudah lanjut, pendiri Sekolah Tari Ngesti Budaya ini, masih memiliki suara yang tetap bersih, bening, agung, dan berwajah tenang dengan pandangan yang cemerlang. Ia mengatakan bahwa hal itu didapatkannya dari keselarasan dan keseimbangan tata susila kehidupannya yang diandalkannya dari seperangkat gamelan jawa.

Selama hidupnya, ia teguh menjaga nama baik pesinden. Ia mengembalikan peran pesinden sebagai seniman sejati dan membaktikan seluruh hidupnya untuk menghidupkan kesenian karawitan. Hingga tutup usia di tahun 1997, ia telah menciptakan setidaknya 200 tembang dan suaranya telah diabadikan dalam lebih dari 100 album rekaman kaset. Tembang ciptaannya yang terkenal antara lain ‘Uler Kambang’ dan ‘Kutut Manggung’. Namun, ia juga menggubah lirik tembang semisal Dhandanggula. Untuk mengenang jasanya yang besar bagi dunia seni budaya Jawa, namanya di abadikan sebagai nama ruas jalan di selatan Monumen Yogya Kembali oleh Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...