Puti Reno

Nama :
Dr. Ir. Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib

Lahir :
Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947

Pendidikan :
S-1 pertanian Universitas Andalas, Padang-Sumatera Barat (Selesai 1975),
S-2 pertanian  Universitas Andalas, Padang-Sumatera Barat (Selesai 1997)
S-3 pertanian di Universitas Andalas, Padang-sumatera Barat (Meraih gelar doktor tahun 2007)

Pencapaian :
Terpilih sebagai Tokoh oleh majalah Tempo (1975),
Namanya tercatat dalam buku Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1991),
Namanya terpilih dalam buku 200 tokoh, aktifis, dan pemuka masyarakat Minangkabau edisi I (1995),
Namanya tercantum dalam 17 Perempuan Sumatera Barat yang berprestasi dan berkarier cemerlang

Karya Tulis :
Bianglala (1973),
Dua Warna
(1975, bersama Hamid Jabbar),
Matrilineal System in Minangkabau Culture
(Bundo Kanduang, 1977),
Antologi Laut Biru Langit Biru (1977),
Terlupa dari Mimpi (1980),
Tonggak 3 (1987),
Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia,
Selection of Poems by Raudha Thaib: With Translation dan Commentaries, Indonesia and Malay Studies, SOAS (1990),
Jurnal Puisi Melayu Perisa I tahun 1993 oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur,
Sunting (1995, bersama Yvonne de Fretes),
Antologi Puisi Indonesia 1997, (Angkasa Bandung)
Nyanyian Anak Cucu
(Angkasa, 2000)

Penulis
Upita Agustine

Memiliki nama lengkap Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib. Namun, dalam kesehariannya ia lebih di kenal dengan nama Raudha Thaib. Lahir di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947, dari orang tua Sutan Muhammad Thaib dan Puti Reno Disma Yang Dipertuan Gadih Gadang. Sebagai bagian dari keluarga Ahli Waris Daulat Raja Pagaruyung, ia dan lima saudara perempuannya berhak menyandang gelar Yang Dipertuan Gadih Pagaruyung, setelah sang ibundanya wafat. Pendidikannya hingga SMA diselesaikannya di Batusangkar,Sumatera Barat, hingga tahun 1965. Tahun 1975 ia merampungkan pendidikan Sarjana Pertanian di Universitas Andalas, Padang-Sumatera Barat. Tahun 1997 ia meraih S-2, diikuti gelar doktor ditahun 2007. Tumbuhan enau menjadi fokus penelitiannya untuk meraih S-2 maupun S-3.

Keturunan ke-13 Raja Pagaruyung ini, mulai menulis ketika bersekolah di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Mengikuti banyak penulis yang menggunakan nama pena, maka ia menyingkat nama kecilnya menjadi sebuah nama pena: Upita Agustine. Nama itu diambil dari Upik Tando dan bulan Agustus yang merupakan bulan kelahirannya.

Namanya mulai dikenal oleh masyarakat luas pada saat ia terpilih sebagai Tokoh oleh majalah Tempo ditahun 1975. Namanya juga tercatat dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Gramedia, 1981) yang dieditori oleh Pamusuk Eneste. Ia merupakan salah seorang profil dari 200 tokoh, aktifis dan pemuka masyarakat Minangkabau edisi I yang diterbitkan oleh Perma Promotion dan Yayasan Bina Prestasi Minang Indonesia Jakarta tahun 1995. Prestasi dan karier yang telah diraih olehnya selama ini membuat namanya tercantum dalam 17 Perempuan Sumatera Barat yang berprestasi dan berkarier cemerlang.

Beberapa karya tulis yang telah di terbitkannya dalam bentuk kumpulan puisi dan cerpen dan telah di muat di berbagai media massa nasional dan luar negeri, antara lain; ‘Bianglala’ (1973), ‘Dua Warna’ (1975, bersama Hamid Jabbar), ‘Antologi Laut Biru’ (1977) ‘Terlupa dari Mimpi’ (1980), ‘Tonggak 3’ (1987), ‘Ungu : Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia’ (Selection of Poems by Raudha Thaib: With Translation dan Commentaries, Indonesia and Malay Studies, SOAS, 1990), ‘Antologi Puisi Indonesia 1997’ (Angkasa Bandung; dan Jurnal Puisi Melayu Perisa I tahun 1993 oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur), ‘Sunting’ (1995; bersama Yvonne de Fretes), dan ‘Nyanyian Anak Cucu’ (Angkasa, 2000). Mantan atlet lari dan lompat jauh Sumatra Barat dalam PON V di Bandung ini juga merupakan penulis buku ‘Matrilineal System in Minangkabau Culture’ (Bundo Kanduang, 1977).

Selain aktif di dunia sastra, wanita yang menjadi salah seorang dewan pakar Gebu Minang ini juga di kenal sebagai seorang pelukis, dan aktor teater yang handal. Tahun 1978, dengan bantuan empat orang teman sejawatnya, ia mendirikan kelompok teater dengan nama Bumi Teater. Kini ia aktif mengajar dan meneliti di Universitas Andalas, Padang-Sumatera Barat. Tahun 2010, ia dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang-Sumatera Barat, dan menjadi satu-satunya guru besar di fakultas tersebut

Menikah dengan sastrawan dan seniman teater Wisran Hadi tahun 1978, dikaruniai tiga putra, yakni Sutan Ahmad Riyad, Sutan Muhammad Ridha, dan Sutan Muhammad Thoriq.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...