Teuku Rifnu Wikana

Nama :
Teuku Rifnu Wikana

Lahir :
Pematang Siantar,
Sumatera Utara,
3 Augustus 1980

Pendidikan :
Jurusan Planologi, Institut Teknologi Medan (tidak selesai)

Karier :
Penyiar dan Station Mnager Radio CAS 90.4 FM

Pencapaian :
Sel Kebebasan dinobatkan sebagai naskah Drama Asli Terbaik Festival Teater Jakarta 2008

Karya Naskah Teater
Sel Kebebasan (2008)

Filmografi :
Mengejar Matahari (2003),
9 Naga (2006),
Mendadak Dangdut (2006),
Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007),
Otomatis Romantis (2008), XL/Extra Large (2008),
Antara Aku, Kau dan Mak Erot (2008),
Barbi3 (2008),
Laskar Pelangi (2008),
Garis Hitam
(film indie/sutradara, 2008),
Kalau Cinta Jangan Cengeng (2009),
Merah Putih (2009),
Di Dasar Segalanya (2010), Melodi (2010),
Darah Garuda (2010),
Laskar Pemimpi (2010), Hati Merdeka (2011),
Sang Penari (2011),
Kita Versus Korupsi (2012), Habibie & Ainun (2013),
Leher Angsa (2013),
Java Heat (2013),
Jokowi (2013),
Sepatu Dahlan (2014),
Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014),
Negeri Tanpa Telinga ( 2014),
Di Balik 98 (2015)

Aktor Teater
Teuku Rifnu Wikana

Anak ke 3 dari 8 bersaudara ini lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 3 Augustus 1980. Wika, nama akrab dari aktor ini, mulai mengenal dunia teater sejak duduk di bangku kelas IV SD. Ketika itu ia bergabung dengan Teater 46 di bawah pimpinan Teuku Rinakdi. Mantan mahasiswa Planologi, Institut Teknologi Medan ini, pernah menjadi penyiar sekaligus station manager radio CAS 90.4 FM di Sumatera Utara. Di tahun 2003, suatu ketika bersama teman-temannya yang bekerja di radio CAS 90.4 FM, ia mengikuti Festival Film Independen Indonesia (FFII). Ketika itu film buatannya bersama teman-temannya masuk nominasi dan mengantarnya ke Jakarta. Momentum itu justru digunakannya untuk merantau.

Berbekal pengalaman berteater di kampung halamannya, ia kemudian bergabung dengan Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua. Ia ikut tampil bersama Teater Tanah Air dalam pertunjukan SEKDA karya WS Rendra. Kemudian ia bergabung dalam teater Remy Silado dalam pertunjukan SAM Po Kong. Ia juga bergabung dengan Teater Kami dalam pentas Dead In the Meiden. Serta bersama Wawan Sofyan di Studiklub Teater Bandung dalam pemantasan Nyai Ontosoroh dan Rumah Boneka. Karirnya di teater terus menanjak. Dubber di sejumlah iklan ini kemudian mulai menyutradarai teater. Lewat Teater 21 April, ia mementaskan karyanya sendiri berjudul ‘Sel Kebebasan’ yang kemudian mendapat penghargaan Naskah Drama Asli Terbaik dalam Festival Teater Jakarta/FTJ 2008.

Selain aktif di teater, ia juga dikenal sebagai aktor film. Keterlibatannya di film bermula ketika ia diminta Jose Rizal Manua untuk mengantar anaknya, casting film garapan sutradara Rudi Soedjarwo, ia malah diminta ikut casting pula, karena dianggap cocok untuk sebuah peran pendukung. Tidak di sangka ia lolos casting dan mendapat kesempatan main di film perdananya, ‘Mengejar Matahari’ (2003). Setelah itu, pemuda keturunan Aceh ini kerap dilibatkan oleh Rudi Soedjarwo dalam beberapa film garapannya mulai ‘9 Naga’ (2006) hingga ‘Mendadak Dangdut’ (2006).


SUBVERSIF! (Graha Bhakti Budaya – TIM, 13-14 Maret 2015)

Sejak itu tampangnya pun perlahan mulai familiar di benak pecinta film tanah air. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga ikut bergabung dengan Moviesta, sebuah komunitas yang dipimpin sineas Monty Tiwa. Tak perlu menanti lama, Monty Tiwa langsung mengajaknya menjadi orang Batak dalam ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’ (2007), yang sempat mengundang kontroversi. Selanjutnya ia kerap tampil dalam film-film garapan Monty Tiwa seperti ‘Otomatis Romantis’ (2008), ‘XL/Extra Large’ (2008), ‘Antara Aku, Kau dan Mak Erot’ (2008), ‘Barbi3’ (2008)  dan ‘Kalau Cinta Jangan Cengeng’ (2009).

Filmnya lainnya yang pernah ia bintangi antara lain ‘Laskar Pelangi’ (2008), ‘Merah Putih’ (2009), ‘Di Dasar Segalanya’ (2010), ‘Melodi’ (2010), ‘Darah Garuda’ (2010), ‘Laskar Pemimpi’ (2010), ‘Hati Merdeka’ (2011), ‘Sang Penari’ (2011), ‘Kita Versus Korupsi’ (2012), ‘Habibie & Ainun’ (2013), ‘Leher Angsa’ (2013), ‘Java Heat’ (2013) dan ‘Jokowi’ (2013). Ia juga pernah menyutradarai film indie ‘Garis Hitam’ yang diputar di Goethe-Institut pada tahun 2008.

Menikah dengan sesama seniman teater Aida Fuadi, dikaruniai seorang anak Cut Hanziala
(Dari Berbagai  Sumber)

You may also like...

Leave a Reply