Yayak Kencrit

Pelukis
Yayak Kencrit

Lahir di Yogyakarta 1956. Pernah bersekolah di SMA Negeri 01 Yogyakarta. Kemudian melanjutkan kuliah di jurusan Disain Grafis FSRD ITB (lulus 1977). Selain membuat lukisan, ia juga banyak membuat karya yang berhubungan dengan publikasi seperti poster, buku dan komik. Karyanya tersebut banyak bertema tentang masalah pekerja anak. Diantaranya Poster Hak Anak, YLBHI, Jakarta, Poster dan Komik tentang Pekerja Anak di Indonesia. Bahkan ia juga sempat mengadakan pameran tunggal di 35 sekolah, di beberapa kota di Perancis (1990) serta melakukan kunjungan ke Jerman dan Belanda untuk membangun jaringan LSM khusus tentang masalah pekerja anak di seputar Asia.

Tahun 1987, bersama lima orang rekan-rekannya mendirikan Yayasan Sekertariat Anak Merdeka Indonesia disingkat Yayasan Samin. Yayasan ini banyak melakukan kegiatan yang terkait perlindungan anak seperti mencegah kekerasan di sekolah, menentang kekerasan seksual terhadap anak, melakukan gerakan anti perdagangan anak dan banyak lagi. Salah satu karyanya bersama Yayasan Samin, adalah pembuatan buku mewarnai bagi anak-anak, khususnya dalam menghadapi bencana Gempa dan Tsunami.

Buku ini merupakan karyanya bersama beberapa seniman Indonesia, bekerja sama dengan berbagai kelompok organisasi sosial nir-laba dari seluruh dunia, seperti ‘Basic Social Services for needy children’ (TDH) Belanda, TDH Jerman dan Yayasan Oxfam Novib. Diharapkan dengan memberikan warna pada lembar-lembar buku tersebut, maka para anak-anak Indonesia akan mendapatkan pendidikan tentang bagaimana menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. Bersama rekan-rekannya mempersilahkan kepada siapa saja yang ingin mengunduh buku mewarnai ini dan mencetaknya atau menggandakannya.

Jaringan yang ia bangun sebelumnya dengan kawan-kawannya di Eropa ternyata bermanfaat banyak bagi dirinya. Beberapa saat setelah dirinya bersama keluarga tiba di Jerman, ia ditawari suatu LSM Jerman untuk membuat disain poster yang akan dicetak dan disebarkan ke seluruh sekolah dasar di Jerman. Selama di Jerman, ia juga membuat beberapa poster yang kemudian dicetak juga menjadi kartu dan illustrasi buku untuk kawan-kawannya di Poitiers, Perancis yang saat itu sedang gencar menangani isu pekerja anak di sektor pertanian. Dan puncaknya saat ia di percaya untuk membuat seri poster media didik untuk seluruh sekolah di sembilan negara wilayah Sahara Afrika, yang menerangkan tentang ‘Ilmu Air’. Seri poster media didik tersebut dicetak dalam tiga bahasa.

Tahun 1996, ia kembali diajak kawannya di Poitiers untuk membuat tiga komik dalam waktu dua bulan. Komik tersebut akan disebarluaskan di negara-negara berbahasa Perancis (Perancis, Swiss, Belgia, Luxemburg dan beberapa negara Afrika), yang juga disponsori oleh tiga LSM besar dari empat negara itu. Tiga cerita komik yang digarapnya tersebut bercerita tentang seorang pekerja anak di perkebunan raksasa pisang di Ekuador, tentang seorang pekerja anak di perkebunan raksasa teh di India dan tentang seorang pekerja anak di perkebunan raksasa coklat di Pantai Gading, Afrika. Tiga cerita itu akhirnya dibundel dalam satu jilid, bersampul ekslusif. Disebar ke beberapa negara dan akan diterjemahkan dalam beberapa bahasa Eropa

Saat tinggal di Jerman ia sempat beberapa kali mengadakan pameran tunggal, antara lain, tahun 1992 mengadakan pameran tunggal di Evangelische Akademi, Iserlohn, Jerman, dan Werkstatt 3 Hamburg, Jerman. Tahun 1993 mengadakan pameran tunggal di Rote Fabrik, Zurich, Swiss dan Oekobildungswerk, Koeln, Jerman. Tahun 1994 mengadakan pameran tunggal di Bildershcreck, Koeln, Jerman. Ditahun 1995 mengadakan pameran tunggal di Componet Kunst Fenster, Koeln, Jerman; Humbold Universataet, Berlin, Jerman; Cafe International, Hannover, Jerman dan Institute und Sammlung fuer Voelkerkunde der Universitaet Goettingen, Jerman. Tahun 1997 mengadakan pameran tunggal di Galerie Asia Pacifik Reisen, Koeln, Jerman.

Sekembalinya ke Indonesia di tahun 2005, ia bekerja sebagai perancang grafis lepas dan pekerja seni. Tahun 2007, pelukis yang pernah menjadi juara ke II pada Festival Teater Mahasiswa se-Jabar 1983 dan sekaligus menjadi sutradara terbaik ini, menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka di Galeri Cipta III PKJ-Taman Ismail Marzuki, 18-29 Mei 2013.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Yayak Iskra Yatmaka

Lahir :
Yogyakarta 1956

Pendidikan :
SMA Negeri 01 Yogyakarta,
Jurusan Disain Grafis FSRD ITB (1977-1984)

Profesi :
Perancang grafis lepas
Pekerja Seni

Aktifitas Lain :
Salah satu pendiri Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia/SAMIN (1987),
Pendiri Kelompok Seniman di Köln, Jerman (1993),
Anggota Figuration Critique, Paris, Perancis (1993)

Pencapaian :
Sutradara terbaik Festival Teater Mahasiswa se Jabar (1983),
Poster Hak Anak, YLBHI, Jakarta, karyanya mendapat penghargaan Poster Terbaik YLBHI (1984)

You may also like...

Leave a Reply