Yu Ningsih


Seniman Teater
Yu Ningsih
 
 
 
 
Pemilik nama lengkap Sumingsih Yuningsih ini, lahir di Yogyakarta, 5 Januari 1953. Kecintaan dan dedikasinya yang besar terhadap kesenian tradisi ketoprak karena pengaruh kuat ayahnya, Padmodiharjo, yang merupakan pemain ketoprak terkenal, dengan nama panggung Kapuk. Dari kenekatan itulah, akhirnya ayahnya luluh dan lama kelaman membiarkannya untuk mengenal pertunjukan, dengan pertama-tama belajar menari diperkumpulan Among Bekas Wiromo. Kebetulan pertunjukan ketoprak biasanya diawali dengan menari. Setelah mahir menari, ia unjuk kebolehan sebagai pembuka pertunjukan. Kesempatan ini sangat membahagiakannya karena pelan-pelan, ia mulai mendapatkan sejumlah peran pengganti
 
Belajar bermain ketoprak baru dimulainya pasca peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965, lewat teman-teman bapaknya yang mengajarinya secara langsung. Kemudian ia masuk menjadi anggota ketoprak Darmo Mudo, pimpinan Yusuf Agil, yang berpentas ke berbagai kota di Jawa Tengah, dari Ungaran hingga Semarang. Berkat suaranya yang indah dan penampilannya yang cemerlang, membuatnya cepat menjadi primadona dan favorit para penonton. Di kelompok ini jugalah ia mengakhiri masa gadisnya ketika sang pimpinan ketoprak, Yusuf Agil menikahinya di tahun 1968.
 
Setelah menikah dengan Yusuf Agil, dengan sendirinya ia menjadi ibu pimpinan ketoprak Darmo Mudo. Dengan suaminya yang berjarak usia 13 tahun, ia membawa ketopraknya bisa pentas ke berbagai kota lain. Tahun 1973, ia memutuskan berpisah dengan suaminya yang telah memberinya lima anak. Dengan harta gono-gininya yang didapatkannya, ia membangun kelompok tobong baru bernama Mudo Rahayu. Sejumlah anggota lama kembali bergabung dengannya. Saat di kelompok baru inilah ia bertemu dengan suami keduanya. Muhammad Santosa, yang memberinya dua anak. Namun, karena terus merosotnya popularitas ketoprak tobong akibat kalah bersaing dengan bioskop yang terus bermunculan di kota-kota jawa Tengah dan Timur, satu demi persatu, para aktor dan anggota lainnya mengundurkan diri. Ia beserta anak-anaknya kembali ke rumah orang tuanya di Yogyakarta pada tahun 1983.
 


Indonesia Kita ‘Orde OMDO’ (2013)

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia menjahit kebaya dan gaun pengantin tradisional. Pada tahun 1985, ayahnya memberitahu ada lowongan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Setahun kemudian, tahun 1986, ia diangkat menjadi PNS. Sebagai karyawati RRI Yogyakarta, ia banyak melakukan siaran pada bidang kebudayaan, khususnya seni ketoprak dan uyon-uyon. Dalam aktifitasnya bersiaran, ia sering melibatkan beberapa rekannya di ketoprak untuk on-air dengan dirinya.
 

 
Pada tahun 1990, TVRI Yogyakarta melibatkanya sebagai pemain untuk tampil dalam beberapa program acara seni yang ditayangkan, seperti ‘Obrolan Angkring’ dimana ia berperan sebagai Mbokde Beruk, ‘Mbangun Desa’ dimana ia berperan sebagai Yu Dalimuk, dan ‘Pangkur Jenggleng’ sebuah acara komedi yang mengusung nilai-nilai tradisi dan budaya Jawa. Selain itu, ia pernah pula membintangi sebuah sinetron yang ditayangkan oleh TVRI, berjudul ‘Topeng Seorang Kekasih’ (1995). Aktingnya yang cemerlang dalam sinetron tersebut mengantarnya meraih Piala Vidia pada tahun 1995, sebagai aktris pendukung terbaik. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi pemeran terbaik acara Pertunjukan Rakyat di Bandung.
 
Tercatat ia telah membintangi sejumlah sinetron lain, diantaranya ‘Panggung Sandiwara’ yang disutradarai El Manik dan diproduksi Persari Film dan ‘Kepergian Bunda’ (2005). Namanya semakin dikenal setelah ia muncul dalam acara TV popular ‘Pasar Rakyat 76’ bersama Butet Kartaredjasa di tahun 2005. Tahun 2011 dan 2012, ia diundang tampil dalam rangkaian acara Indonesia Kita yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Dalam pertunjukan yang digagas oleh Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto dan Agus Noor ini, ia tampil dalam beberapa pementasan, ‘Laskar Dagelan’ (2011), ‘Kadal Nguntal Negoro’ (2011), ‘Apel I’m In Love’ (2012), ‘Nyonya-Nyonya Istana’ (2012) dan ‘Orde OMDO’ (2014).   
 
Setelah pensiun dari posisinya sebagai Kepala Bagian Budaya RRI pada tahun 2009, nenek 17 cucu yang tinggal di Bantul, Yogyakarta ini, tidak berhenti untuk kesenian. Ia tetap bermain ketoprak dan menerima panggilan ke berbagai kota. Bahkan ia kini semakin melebarkan kreatifitasnya dengan membuka usaha rias penganten Jawa Surakarta dan Yogyakarta yang menurutnya dapat menjadi sandaran hidupnya kelak jika sudah tidak berkesenian lagi.  
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Sumisih Yuningsih
 
Lahir :
Yogyakarta, 5 Januari 1953
 
Pendidikan :
Sekolah Rakyat,
SMP
 
Karier :
Pemain Ketoprak di kelompok Darmo Mudo,
Pemilik dan Pemain ketoprak di kelompok Mudo Rahayu
PNS Radio Republik Indonesia Yogyakarta (1986-2009),
Pengusaha rias penganten Jawa, Surakarta dan Yogyakarta
 
Penghargaan :
Piala Vidia sebagai aktris pendukung terbaik (1995),
Pemeran terbaik acara Pertunjukan Rakyat di Bandung (1995)
 
Sinetron :
Panggung Sandiwara,
Kepergian bunda (2005)

You may also like...