Yusril Kathil

Nama :
Yusril Kathil

Lahir :
Payakumbuh,
Sumatera Barat,
5 September 1967

Pendidikan :
SD,
SMPN 1 Payakumbuh, Sumatera Utara,
SMAN 1 Payakumbuh, Sumatera Utara,
Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, Sumatera Utara (lulus 1993)

Aktifitas Lain:
Pengajar teater
di SMU Plus INS Kayu Tanam
(sejak tahun 1994),
Direktur Kerohanian SMU Plus INS Kayu Tanam (1995-1997),
Pendiri Komunitas
Seni HITAM-PUTIH,
Pengajar Jurusan Teater di ASKI Padangpanjang, Sumatera Barat,
Pembantu Dekan I Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang, Sumatera Barat,
Ketua I Bidang Program Dewan Kesenian Sumatera Barat

Karya :
Indonesia Darahku Tumpah, Welcome To Milenium, Pintu, Kolaborasi Selamat Datang (2004),
Aksioma (2005),
Pengantin Darah (2006),
Tak Ada Minggu Sampai Sabtu, Hanya Siang Dan Malam (2007),
Tangga (2008),
Maling Kondang (bersama Butet Kertaradjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto, 2012)


Yusril Kathil

Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 5 September 1967. Ayahnya, bernama Ilyas Yusuf, dan ibunya bernama, Ramani. Masa kecilnya dijalaninya dengan berpindah-pindah dari satu asrama ke asrama yang lain di Payakumbuh, Solok dan Sawahlunto, karena harus mengikuti bapaknya yang seorang tentara. Keadaan itu pula, yang membuatnya dibesarkan dalam tradisi yang militer, dengan disiplin dan aturan yang tak boleh dilanggar.

Namun dari hidup berpindah-pindah itu pula yang membuatnya kemudian bersentuhan dengan kesenian. Awalnya ketika sang bapak yang saat itu telah pensiun dari tentara, bekerja sebagai pengawal alat-alat berat, yang waktu itu disebut ‘Polisi RCA’, sebuah proyek pembangunan jalan dari Solok sampai Sungai Dareh, Sumatera Barat. Di asrama RCA tersebut, ia berkenalan dengan orang-orang Korea, para profesional yang mengerjakan proyek jalan. Ia juga berkesempatan menonton TV, yang saat itu masih merupakan barang langka. Dari tontonan itu, ia berkenalan dengan kesenian populer, dan mulai bercita-cita menjadi orang seni. Dari asrama RCA itu pula ia berkenalan dengan tontonan Kuda Kepang, Reog dan Layar Tancap, yang digelar komunitas orang Jawa di Sawahlunto.

Setelah orangtua bercerai, ia ikut Ibunya dan tinggal di Rumah Gadang di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hidup berpindah-pindah, ditambah keadaan ekonomi yang kurang baik, membuatnya terlambat masuk sekolah. Setelah lulus SD, ia kemudian masuk SMPN 1 Payakumbuh. Di sinilah, ia mulai berkenalan dengan sandiwara, yang waktu itu selalu dipertunjukkan di hampir setiap kampung. Pertunjukan sandiwara kala itu tidak saja berisikan drama, tetapi juga di isi berbagai kesenian lain, seperti tari dan musik. Pada awalnya ia hanya jadi penonton, kemudian, mulai terlibat sebagai pemain karena diajak teman. Hal itu menjadi awal ketertarikannya dengan dunia kesenian secara umum.

Ketika dududk di bangku SMAN 1 Payakumbuh, ia mulai tertarik kepada syair dan puisi. Ketertarikan itu bermula dari syair-syair lagu Iwan Fals, Ebiet G Ade, Leo Kristi, Doel Sumbang dan Papa T. Bob (Wanda Chaplin). Ia tertarik dengan cara mereka melakukan kritik sosial melalui syair. Di SMA itu pula, ia kemudian meninggalkan kelas Fisika dan pindah ke kelas sosial. Tidak hanya puas sampai di situ, ia juga kerap bolos sekolah pada setiap hari Sabtu, agar bisa ikut mata pelajaran Kajian Budaya di sekolah lain. Di sanalah ia kemudian mengenal Iwan Simatupang, Budi Darma dan Danarto, lewat bacaan.


Tangga (2012)

Setelah lulus SMA, pada tahun 1998, ia langsung mendaftar dan di terima di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Di sanalah ia mulai berkenalan dengan teater. Di samping ia tetap mengeluti kegiatan lain seperti ikut dramatisasi puisi, lomba baca puisi, bahkan break dance yang tengah digemari saat itu. Selain itu, Ia juga ikut mendirikan ‘Dangau Seni RELL’ dan menjadi anggota ‘Kelompok Diskusi Teraju’, Sambil tetap menulis puisi-puisi aneh, yang disebutnya ‘puisi pamflet’, yang kemudian ia bacakan di dalam bus kota, atau di ruang publik kota Padang.

Tak hanya aktif di kampus, ia juga kerap main ke Taman Budaya. Di sana ia berkenalan dengan Wisran Hadi (alm), pada tahun 1989, dan tertarik ikut belajar teater di Bumi Teater. Selain mempelajari randai dan silat, di Bumi Teater, ia juga melakukan riset, mempelajari mitos, folklore dan berbagai kesenian tradisional Minangkabau. Sempat bergabung dengan kelompok Randai di Blanti, Padang, dan belajar di tempat tersebut selama sekitar satu setengah tahun.

Ia juga mendirikan kelompok latihan teater bersama teman-teman sekampus, yang kebetulan tinggal satu kos. Di kelompok yang bernama Teater Kamar inilah ia menemukan gaya penyutradaraannya sendiri. Pada saat yang sama, ia juga menjadi Ketua Teater SEMA dan Wakil Ketua Teater Langkah. Keduanya berbasis di Fakultas Sastra Universitas Andalas. Ruang bagi eksplorasi artistiknya kian luas, hingga akhirnya ia sama sekali berhenti menulis. Kendati begitu, ia tetap berhasil menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra, pada tahun 1993.

Sejak tahun 1994, ia menjadi pengajar teater di SMU Plus INS Kayu Tanam, Sumatera Barat. Di tempat tersebut, ia juga menjadi salah satu pendiri Komunitas Seni HITAM-PUTIH, yang didirikan pada tahun 1997. Mengakhiri kariernya di SMU Plus INS Kayu Tanam sebagai Direktur Kerohanian (1995-1997) dan pindah menjadi pengajar Jurusan Teater di ASKI Padangpanjang. Komunitas Seni HITAM PUTIH, yang didirikannya-pun, dibawanya serta ke Padangpanjang. Hingga saat kini, Komunitas Seni HITAM-PUTIH tetap berkreasi dan selalu memberi warna baru bagi ranah seni pertunjukan Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Berbagai pertunjukan, khususnya yang dilakukan dengan pendekatan teater tubuh telah dipentaskan, baik di tingkat regional Sumatera hingga di beberapa tempat di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Komunitas Seni HITAM-PUTIH telah berhasil mementaskan naskah karyanya ‘Tangga’ di tiga tempat, Taman Budaya Sumatera Barat, Taman Ismail Marzuki dan STSI Bandung. Setelah sebelumnya pernah mementaskan karya tersebut di Gedung Hoerijah Adan di ISI Padangpanjang dan Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat. Sebagai salah satu peraih Hibah Seni dari Yayasan Kelola dengan kategori karya inovatif, karya ini juga menjadi salah satu wakil ISI Padangpanjang untuk tampil di Festival Kesenian Indonesia (FKI) V di ISI Denpasar, Bali (21-25 November 2007).

Seiring berjalannya waktu, komunitas Seni HITAM-PUTIH terus melakukan eksplorasi, riset dan eksperimentasi untuk mencari bentuk-bentuk alternatif seni pertunjukan. Sehingga tak heran jika komunitas ini juga ikut mengembangkan bidang kesenian lain, diantaranya, dengan menjadi penyelenggara beberapa peristiwa seperti pemutaran film kerjasama dengan Jiffest, In-Doc, dan Eagle Award (sejak 2003). Mereka juga membantu Sukri Dance Theatre dalam setiap proses dan pertunjukan tari yang dirancang. Pada bulan Oktober 2012, Yusril yang kini menjabat sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang dan Ketua I Bidang Program Dewan Kesenian Sumatera Barat ini, ikut menyutradarai pertunjukan Indonesia Kita dalam lakon ‘Maling Kondang’ bersama Butet Kertaradjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto di Graha Bhakti Budaya-TIM, Jakarta
  
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply