Zak Sorga

Nama :
Zakaria Sorga
 
Lahir :
Tuban, Jawa Timur,
8 Januari 1964

Pendidikan :
Jurusan Teater, Institut Kesenian Jakarta (1990)

Aktifitas Lain:
Pengajar,
Pendiri Teater Kanvas
(1987-sekarang)
Pendiri Kelompok Pecinta Tarikh (2002)
Sutradara Film dan Sinetron.
Penulis

Pencapaian :
Sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta (1991)
Sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta (1992)
Sutradara terbaik dan penulis naskah terbaik dalam Festival Teater Jakarta (1993)


Seniman Teater
Zak Sorga

Bernama asli Zakaria Sorga. Lahir di Tuban, Jawa Timur, 8 Januari 1964. Pendidikannya di tempuh di Jurusan Teater, Institut Kesenian Jakarta (1990). Setelah lama berkecimpung di dunia teater, Bang Jack, begitu ia biasa disapa, pada tahun 1987 mendirikan grup teater dengan nama Teater Kanvas yang hingga kini masih terus aktif berpentas. Dalam berpentas bersama teater kanvas, ia kerap menerapkan pola mendekatkan teater dengan penonton. Bahkan, ketika Teater Kanvas mementaskan naskah Intifadah (1992) di Teater Terbuka TIM, ratusan penonton tetap duduk di ruang terbuka ketika hujan deras mengguyur. Penonton tetap duduk dan mengikuti jalannya pertunjukan karena mereka juga seakan “mengalami peristiwa” yang sama seperti berada di atas pentas.

Sebagai seorang sutradara, Pengajar ekstra kurikuler Pelajaran Teater di SMA Labschool – Rawamangun Jakarta (1987-1989) dan asisten dosen di Jurusan Teater IKJ dalam mata kuliah: Penyuteradaraan (Dosen: Suyatna Anirun) dan Penulisan Naskah (Dosen: Tatiek Maliati) (1993-1997) ini, tercatat telah menyutradarai lebih dari 30 buah naskah drama yang sudah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Jakarta, kampus-kampus dan Taman Budaya-Taman Budaya di seluruh Indonesia.

Selain itu, ia juga telah menulis 18 naskah drama yang telah dipentaskan di berbagai gedung kesenian di Indonesia, diantaranya Adalah: ‘Stasiun Kubur-Kubur’ (1985), ‘Aljabar’ (1987), ‘Reuni Orang Orang’ (1991), ‘Berbiak Dalam Asbak’ (1992), ‘Konspirasi’ (1996), ‘Revolusi Burung’ (1997), ‘Melawan Arus Sepatu’ (1999), ‘Pemilu Di Desa Gandul’ (Sebagai Wakil Indonesia Dalam Festival Seni Enam Negara Tahun 2004/2005 Di Gedung Kesenian Jakarta), dan ‘Penghuni Kapal Selam’ (2008).

Tidak hanya aktif sebagai sutradara, pendiri Kelompok Pecinta Tarikh, sebuah Kelompok seni tutur yang menceritakan tentang sejarah perjuangan para pahlawan dan tokoh-tokoh dunia, pada tahun 2002 ini, juga menjadi pembicara pada berbagai seminar teater, film dan berbagai workshop seni pertunjukan diberbagai kota di Indonesia, yang di jalaninya mulai tahun 1990 sampai sekarang. Mulai tahun 1993 sampai sekarang, ia menjadi langganan menjadi juri Festival Teater Jakarta baik ditingkat penyisihan maupun Final dan Festival Teater Mahasiswa di beberapa kampus di Indonesia.

Atas kerja keras dan dedikasinya di bidang teater, ia pernah memperoleh sejumlah penghargaan, diantaranya, tahun 1991, memperoleh penghargaan sebagai Sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta. Tahun 1992, memperoleh penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta Di tahun 1993, memperoleh penghargaan sebagai Sutradara terbaik dan penulis naskah terbaik dalam Festival Teater Jakarta..

Tidak hanya puas berkecimpung di teater, ia juga kemudian merambah ke bidang film dan sinetron. Ia antara lain pernah menyutradarai FTV Ramadhan berjudul ‘DA’I’, produksi Prima vision (2002). Menyutradarai FTV berjudul ‘Rumah Sebelah’, produksi Prima vision (2002). Menyutradarai FTV berjudul ‘Atas Nama Cinta’, produksi Prima vision (2002/2003). Menyutradarai FTV berjudul ‘Cermin’, produksi Prima vision (2002/2003). Menyutradarai FTV berjudul ‘Anakku Sayang’, produksi MCU (2005). Menyutradarai FTV berjudul ‘Gaya-Gaya Tante Erna’, produksi MCU (2005). Menyutradarai film FTV ‘Penggemar Utama’, produksi MCU (2005). Menyutradarai ‘Permata Saur’ (30 episode) (2006). Selain menyutradarai sinetron, sepanjang karirnya ia juga telah menulis lebih dari 100 skenario TV yang juga sudah ditayangkan di sejumlah stasiun televisi swasta nasional.

Tidak hanya dunia teater, film dan sinetron yang ia sentuh, belakangan ia juga menjadi seorang penulis buku dan dalang wayang daun. Sebagai seorang penulis, sejumlah buku telah ia terbitkan, yakni ‘5 Terobosan Menjadi Artis’ (2007), penerbit Majelis Budaya Rakyat (MBR). Kemudian ‘Sahabat Nabi, Sahabat Remaja 1’ (2008) penerbit JPRMI. Serta ‘Sahabat Nabi, Sahabat Remaja 2’ (2008) penerbit JPRMI.

Sedangkan kiprahnya sebagai dalang Wayang Daun Bermula dari acara Mendongeng dan latihan teater yang diselenggarakannyak untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Dalam dua tahun terakhir kegiatan ‘seni rakyat’ ini berkembang pesat, apalagi pada bulan Ramadhan, ngabuburit diisi dengan ‘Dongengang Ala Zak Sorga’ yang menampilkan kisah-kisah sahabat nabi. Antara mendengar dan pentas bercampur menjadi satu. Anak-anak menyimak penuh semangat dan hanyut dalam hentakan-hentakan alur cerita dan monolog Sang Pendongeng.

Tokoh-tokoh dalam wayang daun tidak definitif seperti di wayang kulit, ia ingin mendapatkan kebebasan lebih berekspresi, maka tokoh-tokoh dalam Wayang Daun adalah Tokoh Sifat, seperti Pribadi Pemarah, Pribadi Santun, Pribadi Ksatria, atau Pengikut Setia, dan sebagainya. Pribadi-pribadi itu bisa menjadi siapa saja dan siapa saja itu adalah sosok-sosok yang benar-benar pernah hidup dan mengukir kehidupan realitas manusia. Diharapkan dengan pakem seperti itu, anak-anak mendapatkan sosok teladan yang tidak saja ‘besar’ tetapi juga nyata. Maka suatu saat tokoh-tokoh Wayang Daun itu akan mementaskan Cerita Walisongo, Pangeran Diponegoro, KH Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Bung Karno, dan lain-lain. Dalam hal ini, ia ingin memadukan seni dan budaya dengan fakta sejarah.

Seniman yang kerap tampil sederhana ini, kini bersama keluarga tinggal menetap di Gg.Jerah Rt 01/Rw 06  no: 20-A Tanah Baru, Beji – Depok, Jawa Barat.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...