Abas Alibasyah

Nama :
Alibasyah Natapriyatna

Lahir :
Purwakarta, Jawa Barat,
1 Maret 1928

Pendidikan :
HIS,
Sihan Gakko,
SMA BOPKRI,
ASRI (1950-1955)

Karier :
Tentara Pelajar (1945-1951),
Pamong Kesenian Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta,
Pengajar ASRI,
Ketua Jurusan Senirupa ASRI (1962),
Guru SMA Stella Deuce dan SMA Negeri III B (Padmanaba) Yogyakarta,
Pegnajar IKIP (Yogyakarta), Pengajar bagian arsitektur di Universitas Gajah Mada,
Direktur ASRI (Yogyakarta) dan ASKI (Surakarta),
Ketua Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (Yogyakarta),
Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1971),
Kepala Lembaga Musikologi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Inspektur Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Anggota Konsorsium Seni Ditjen Dikti,
Anggota Badan Sensor Film, Anggota Dewan Film,
Ketua Dewan Kesenian Yogyakarta

Penghargaan :
Beasiswa dari pemerintah Belanda untuk belajar di Belanda (1968),
Undangan Study Tour dari Pemerintah Australia (1970),
Anugerah Seni tahun 80-an dari pemerintah RI,
Penghargaan dari DKJ untuk lukisan terbaik pada Biennale I (1974),
Lempad Prize dari Yayasan lempad Bali,
Penghargaan dari ISI Yogyakarta untuk pengabdian dalam dalam pendidikan seni,
Culural Award Scheme dari pemerintah Australia,
Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah RI,
Anugerah Ageng Kesenian dari Lembaga Pendidikan Tinggi Kesenian ISI Yogyakarta
Pelukis Abas Alibasyah

Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang pelukis, tetapi ia juga dikenal sebagai pejuang, pemikir dan organisatoris. Di kalangan rekan-rekannya, ia dikenal sebagai pelukis yang konsisten dengan suara panggilan nuraninya, meskipun pada waktu ada ‘boom’ seni lukis, ia tidak bergeming dalam memilih apa yang sudah dipilihnya. Dibesarkan dari keluarga mapan. Ayahnya, Hoesen Adimihardja asal Purwakarta adalah seorang pegawai negeri yang bekerja pada jawatan pengairan. Awal mula ia menyukai dunia seni lukis adalah saat ia bersekolah di HIS (Holandsche Inlandsche School). Pelajaran menggambarnya cukup menonjol. Begitu juga ketika ia meneruskan studinya di Sihan Gakko.

Seperti anak-anak lainnya, saat ia belum merasa tertarik untuk menekuni seni lukis. Apa yang dilakukannya hanya karena ada pelajaran menggambar. Tetapi lama-kelamaan, ia mulai tergerak ketika ia melongok di Keimin Bunka Sidhoso sebuah lembaga kesenian yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Ia mulai tertarik dan ikut bergabung, pada waktu itu usianya baru 15 tahun.


Tujuh Srikandi (150 cmX 100 cm), akrilik diatas kanvas, 2012

Di tempat itu, tahun 1943, ia mulai merasakan ada sesuatu yang perlu dan patut dikembangkan. Ia mulai berpikir untuk terjun ke dunia seni lukis. Abas Alibasyah lalu bergaul dengan pelukis lainnya seperti Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata dan Affandi. Mereka banyak memberi pengaruh terhadap dirinya. Dari sanalah kemudian Abas mulai menetapkan langkahnya menjadi seorang pelukis.

Setelah Jepang kalah perang tahun 1945. Ia tidak hanya berdiam dan menekuni dunia lukis saja. Keaktifannya di medan perang juga ikut mempengaruhi cara berfikir dalam menempuh strategi dalam menatap masa depannya.

Sepak terjangnya di SMA BOPKRI membuatnya lebih bersemangat dalam menentukan pilihan hidupnya dalam dunia seni lukis.Karena situasi pada waktu masih dalam kondisi perang, ia banyak membuat sketsa-sketsa revolusi atau kejuangan yang dapat mengalahkan penjajah. Disitulah Abbas mulai tertarik dan bergabung di sanggar Pelukis Rakyat bersama Hendra Gunawan dan Affandi di Yogyakarta

Tahun 1966, ia mulai tertarik pada seni Batik dan giat mengadakan eksperimen-eksperimen dengan berbagai kemungkinan dalam teknik batik. Tahun 1968, mendapat kesempatan belajar di Belanda dan berpameran di Den Haag. Tahun 1970, ia mendapat undangan dari pemerintah Australia untuk study tour dan mengadakan pameran di sana. Tahun 1976, ia mendapat undangan dari pemerintah Perancis.

Begitu banyak jabatan yang pernah dipikulnya, dan banyak pula penghargaan yang diraihnya, termasuk pameran lukisan diberbagai belahan dunia sudah pernah dilakoninya. Penghargaan seni yang pernah diraihnya adalah Anugerah Seni dari pemerintah tahun 80-an, penghargaan dari DKJ, penghargaan Lempad Prize dari Yayasan Lempad Bali, Cultural Award Scheme dari pemerintah Australia dan Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah RI. Hingga kini Abas Alibasyah tak pernah berhenti bekerja dan berkarya.

Menjadi juri diberbagai lomba, seperti pada ajang Anugerah Seni Indonesia, Festival Film Indonesia, Seni rupa internasional untuk UNESCO di Jepang dan logo AESAN di Singapura. Pernah menjadi kurator nasional pameran Seni Rupa Indonesia yang diselenggarakan pemerintah RI, editor buku monografi daerah dan buku seni budaya dan 27 provinsi di Indonesia. Saat ini ia tinggal di Jl. Taman Pendidikan 1/3, kompleks Depdikbud, Cilandak, Jakarta Selatan dan masih terus produktif melukis.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply