Abdul Muis

Nama :
Abdul Muis
 
Lahir :
Sungai Puar, Bukit tinggi, Sumatera Barat,
3 Juli 1893
 
Wafat :
Bandung, Jawa Barat,
17 Juni 1959
 
Pendidikan :
STOVIA (tidak lulus)
 
Karier :
Klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst,
wartawan di Bandung,
Anggota Volksraad
(1920-1923)
 
Kegiatan lain:
Pengurus Besar
 Syarikat Islam,
Pendiri Komite Bumiputera,
Pendiri Persatuan
 Perjuangan Priangan,
Anggota Komite
 Indie Weerbaar
 
Penghargaan:
Dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI (20 Agustus 1959),
Hari lahirnya 3 Juli ditetapkan sebagai Hari Sastra nasional
 
Karya Sastra :
Salah Asuhan (1928)
Pangeran Kornel (1931)
Pertemuan Jodoh (menulis bersama Memed Sastrahadiprawira, 1931)
Hendak Berbakti (1951)
Surapati (1950)
Robert Anak Surapati (1953)
 
Karya Sastra Terjemahan :
Sebatang Kara
(Hector Melot, 1932),
Tom Sawyer Anak Amerika
(Mark Twain, 1928)
Don Kisot de la Manca
(Swaan Koopman, 1950)


 
Sastrawan
Abdul Muis
 
 
Dilahirkan di Sungai Puar, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 3 Juli tahun 1893, Pendidikan terakhirnya adalah STOVIA (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta, namun tidak ia tamatkan .
 
Pernah bekerja sebagai klerk (pegawai negeri) di Departemen Buderwijs en Eredienst dan wartawan di Bandung, Jawa Barat. Dalam dunia politik, pernah aktif dalam organisasi Syarikat Islam(SI) dan pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang pertama (1920-1923). Ia penah mengecam tulisan orang-orang Belanda yang menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di surat kabar de Express.
 
Dalam melakukan perlawanann terhadap pemerintah kolonial Belanda ia tidak pernah kehabisan akal. Berbagai cara perlawanan pernah ia lakukan, termasuk mengajak kaum buruh untuk melakukan mogok kerja. Seperti yang dilakukannya pada tahun 1822, ketika itu ia memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta. Akibatnya, ia ditangkap dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat, oleh pemerintah kolonial Belanda.  Untuk mengefektifkan perlawanannya, ia terjun ke dunia politik dan menjadi anggota Syarekat Islam (SI). Di organisasi tersebut ia diangkat menjadi salah seorang pengurus Besar. Kepada seluruh anggota SI ia selalu menanamkan semangat perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda.
 
Pada tahun 1913, bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, mendirikan Komite Bumiputera. Komite ini dibentuk awalnya adalah untuk menentang rencana Pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun bebasnya kerajaan Belanda dari penjajahan Perancis, karena perlawanannya itu ia ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda.
 
Tahun 1917, ketika perang dunia pertama terjadi, ia diutus ke Belanda oleh Komite Indie Weerbaar untuk membicarakan masalah pertahanan bagi Indonesia. Ia juga berusaha berusaha mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan sekolan teknik di Indonesia. Usaha itu berhasil, didirikanlah oleh Belanda Technische Hooge School di Bandung yang dikemudian hari berganti menjadi Institut Teknologi Bandung. Hingga Indonesia merdeka, ia tetap melakukan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan sebuah organisasi Persatuan Perjuangan Priangan.
 
Pejuang dan juga sastrawan penulis roman terkenal Salah Asuhan ini wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 dan dimakamakan di TMP Cikutra, Bandung, Jawa Barat. Pada 20 Agustus 1959, namanya dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Soekarno. Ia dikenal sebagai orang yang selalu membela kepentingan rakyat kecil, untuk menghormati jasa-jasanya, hampir setiap jalan di Indonesia menamakan salah satu jalannya Abdul Muis. Karya sastranya Salah Asuhan pernah difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1972.
   
(Dari Berbagai sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply