Abdullah Harahap

Nama :
Abdullah Harahap
 
Lahir :
Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 17 Juli 1943
 
Pendidikan :
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung, Jurusan Civic Hukum (tidak tamat)
 
Profesi
Novelis,
Penulis Skenario
 
Karya Novel :
Dikejar Dosa (1970),
Budak dan Budak(1975),
Misteri Perawan Kubur,
Kekasih yang Hilang,
Istriku Sayang Istriku Jalang, Lembutnya Dosa Kotor, Cinta,
Impian Seorang Janda, Penyesalan Seumur Hidup, Perempuan Tanpa Dosa,
Kekasih Hatiku,
Dikejar Dosa,
Penghuni Hutan Parigi (1988),
 Pemuja Setan (1988),
Menebus Dosa Turunan (1989),
Penjelmaan Berdarah (1989),
Sumpah Berdarah (1989),
Sumpah Leluhur (1989),
Manusia Srigala,
Misteri Anak-Anak Iblis,
Langkah-Langkah Iblis,
Tarian Iblis,
Panggilan Neraka,
Misteri Perawan Kubur ,
Dendam Berkarat Dalam Kubur (1989),
Babi Ngepet (1990),
Suara Dari alam gaib (1990)  
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Penulis
Abdullah Harahap
 
 
 
Pionir novel gotik modern di Indonesia ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 17 Juli 1943. Penggemar roman Motinggo Busye itu sudah mengarang fiksi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Ketika kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung, Jurusan Civic Hukum (tidak tamat), ia mulai mengarang cerita pendek, yang beberapa kali diterbitkan di harian Indonesia Jaya dengan redaktur Ali Shahab.
 
Ketika kuliah ia juga terjun ke dunia jurnalistik sambil bekerja sebagai wartawan di harian Gala, Bandung. Selanjutnya menjadi wartawan di Selekta Group, yang menerbitkan majalah Senang, Stop, Detektif dan Romantika, dan Selekta di Jakarta. Di sini Abdullah kerap meliput peristiwa kriminal, yang akhirnya mempengaruhi gaya penulisan novelnya.
 
Pada 1970-an itu, ketika pasar buku Indonesia dibanjiri novel populer bertema percintaan, yang sudah dirintis Motinggo Busye pada awal 1960-an. Serta kemunculannya beberapa perempuan pengarang pada masa ini, seperti Marga T, La Rose, Yati Maryati Wiharja, Marianne Katoppo, dan Titiek W.S, rupanya membuatnya ikut terseret arus besar ini. Ia tergolong produktif dalam menghasilkan cerita pendek dan cerita bersambung yang dimuat di media anggota Selekta Group. Cerita bersambungnya kemudian dibukukan oleh Selekta dan beberapa penerbit lain dari kelompok Pasar Baru sebelum akhirnya diterbitkan oleh Gultom Agency.
 
Abdullah mengaku telah menerbitkan sekitar 50 judul novel pada dekade itu, seperti Kekasih yang Hilang, Istriku Sayang Istriku Jalang, Lembutnya Dosa Kotornya Cinta, Impian Seorang Janda, Penyesalan Seumur Hidup, Perempuan Tanpa Dosa dan Kekasih Hatiku. Buku-bukunya tersebut dicetak dalam format buku saku murahan. Sampulnya selalu dihiasi gambar perempuan cantik yang kadang ditemani seorang lelaki. Tercatat beberapa karya novelnya tersebut ada yang di angkat ke layar lebar yakni Penyesalan Seumur Hidup dan Perempuan Tanpa Dosa. Bahkan film Penyesalan Seumur Hidup menjadi unggulan Festival Film Indonesia 1987.
 
Namun tidak semua masyarakat Indonesia menyukai dan menerima kehadiran buku novel karyanya tersebut, karena sebagian masyarakat menuding novel-novelnya tersebut terlalu banyak menyuguhkan adegan ranjang. Abdullah mengakui bahwa di masa itu dia, Ali Shahab, dan Motinggo kerap disebut penulis porno. “Pada masa itu Ali Shahab pernah menulis tentang tante girang, saya menulis om senang,” kata Abdullah, yang berkawan dengan kedua pengarang tersebut.
 
Satu karya Abdullah bahkan sempat dibawa ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tuduhan pornografi pada 1975. Karya itu berupa cerita bersambung Budak dan Budak, yang dimuat di majalah Mayapada. Tokoh cerita itu seseorang yang hiperseksual dan tentu saja di situ ada adegan seksnya. Namun berkat pembelaan ‘Paus Sastra’ H.B. Jassin yang tampil sebagai saksi ahli dan menilainya sebagai karya sastra. “Adegan seks itu untuk menunjukkan penyakit’ sang tokoh, kalau tidak ada penggambaran itu, karakter itu hilang,” ujar Jassin. Berkat pembelaan Jassin tersebut, dakwaan atas karya itu akhirnya dicabut.
 
Selain menulis novel bertema percintaan, Abdullah juga membuat novel misteri, novel gotiknya yang pertama yakni Dikejar Dosa, dimuat di tabloid Stop pada awal 1970-an yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Wim Umboh. Sejak 1975, ia sepenuhnya meninggalkan roman bertema percintaan dan menulis sekitar 70 judul cerita horor. “Dalam novel misteri, saya lebih leluasa menulis. Pada roman itu ada tata dan logika yang harus dijaga, sedangkan dalam menulis misteri kita bisa suka-suka, sepuas-puas hati,” ujarnya. Bukunya antara lain Sumpah Leluhur, Manusia Serigala, Menebus Dosa Turunan, Dendam Berkarat dalam Kubur, Misteri Anak-anak Iblis, Langkah-langkah Iblis, Tarian Iblis, Panggilan Neraka, dan Babi Ngepet.
 
Novelnya tersebut dicetak dalam format buku saku setebal 100-300 halaman. Tahun terbit jarang disebut dan tanpa ISBN. Sampulnya biasanya bergambar perempuan cantik dengan dandanan seksi dan manusia berwajah seram atau makhluk yang menakutkan. Menurut Abdullah, ia bisa menyelesaikan satu novel dalam satu bulan. Namun, jika ia sedang tidak mood, walau sudah sampai halaman 60, ia bisa berhenti dan merobek naskahnya. Sering pula ia dikejar tenggat untuk menyelesaikan ceritanya karena penerbit sudah membayar di muka. 
 
Alur ceritanya sering bergaya detektif. Banyak menggali bahan novelnya dari cerita-cerita orang atau legenda yang hidup di suatu daerah. Menggunakan metode wawancara dalam setiap penelusurannya. Pola ini dia terapkan karena pengalamannya sebagai wartawan kriminal yang mengenal lika-liku penyelidikan polisi.
 
Tahun 1990-an, ia mulai berhenti menulis novel, meski tidak total dan mulai beralih membuat skenario untuk siaran televisi, khususnya yang bertema roman dan horor. Sejak itu pula novelnya mulai langka di pasaran. Di tahun 2010 beberapa anak muda yakni Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad saling berkolaborasi membuat suatu proyek pembacaan kembali karya Abdullah yang di gelar di TIM. Gairah terhadap genre horor ini kemudian disambut pula oleh Paradoks, anggota Kelompok Kompas Gramedia, dengan meluncurkan Misteri Perawan Kubur, karya lama Abdullah.
 
Kini ia menetp di Bandung, Jawa Barat, dan sesekali masih menulis kisah-kisah horror untuk skenario televisi Tahun 2001, stasium televisi TPI/MNCTV pernah mengangkat karyanya dalam acara serial TV Misteri. Selain itu, namanya juga menjadi salah satu merek kitsch cool yang sangat digemari.
 (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...